Kisah Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Anak Petani dari Gawok Solo
TEMPO.CO | 26/08/2019 18:31
Kisah Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Anak Petani dari Gawok Solo
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo saat mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di gedung BI, Jakarta, Kamis, 18 Juli 2019. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menceritakan kisah perjalanan hidupnya hingga menduduki posisi penting sebagai orang nomor satu di Bank Indonesia. Ia berujar, pada mulanya dirinya hanya seorang anak petani di desa, sebagai anak keenam dari sembilan bersaudara.

"Perry anak desa, anak petani dari Gawok, Kartasura, 15 kilometer dari Solo. Saya mendoakan almarhum-almarhumah orang tua saya insyaaAllah husnul khotimah, inilah anaknya yang dididik," ujar dia saat berbincang dengan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia Rosan Roeslani dalam acara Kadin Talks di Menara Kadin, Jakarta, Senin, 26 Agustus 2019.

Kata Perry, ayahnya dulu berprofesi sebagai petani. Sejak kecil hingga dia menjejak tingkat sekolah dasar, ayahnya bergelut sebagai petani tembakau yang cukup sukses. Namun menjelang kelulusannya, ayahnya bangkrut. "Lalu beliau menjadi petani saja, sambil menjadi pamong desa, bayan dengan wilayah dua desa."

Meski dilahirkan sebagai anak petani, Perry mengatakan orang tuanya selalu berpesan bahwa dengan sembilan anak dan tanah yang tidak bertambah, tidak mungkin anaknya bisa sukses bila hanya menjadi petani. Sehingga, orang tuanya berkomitmen siap membiayai Perry dan saudaranya untuk terus bersekolah. "Jadi dipesankan agar mewarisi ilmu karena dengan ilmu itu akan terus bertambah," tuturnya.

Walau sudah ada pesan demikian, Perry mengatakan perjalanannya bersekolah dan berkuliah tidak semulus itu. Ia mengaku hampir tak bisa berkuliah karena orang tuanya tidak punya uang. Akhirnya, demi menguliahkan Perry, ibunya mencoba pinjam dari satu desa dan meraup Rp 35 ribu untuk dia berkuliah.

Duit Rp 35 ribu itu dipergunakan untuk keperluan Perry mendaftar kuliah. Sebesar Rp 25 ribu untuk membeli formulir pendaftaran, sementara Rp 10 ribu untuk biaya transportasi dari Solo ke Yogyakarta.

Mulanya, Perry Warjiyo muda hendak mendaftar jurusan kedokteran, namun uangnya itu tidak cukup. Sehingga akhirnya ia pun mendaftar jurusan Ekonomi.

Setelah mendaftar, Perry mengatakan tantangan kembali datang. Ia mesti mencari uang untuk mengantarkannya lulus menjadi sarjana. "Meski jadi kenek atau apapun dilakukan untuk lulus S1," tutur dia.

Selepas lulus S1, ia masuk ke Bank Indonesia dan dibiayai untuk kuliah pada1986. Ia meraih gelar master pada 1989 dan meraih Ph.D pada 1991. "Jadi 4,5 tahun S2-S3, karena ilmu, ilmu, ilmu, ilmu, dan ilmu," tutur Gubernur BI. "Terima kasih kepada almarhum dan almarhumah orang tua yang mendidik saya, ilmu setinggi apapun akan saya cari," kata Perry Warjiyo.

CAESAR AKBAR


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT