Desa Sungai Tohor Mengubah Bencana Menjadi Berkah
TEMPO.CO | 06/08/2019 06:17
Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG), Nazir Foead (kiri), bersama kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni Monardo (ketiga kiri), dan Gubernur Riau, Syamsuar (kedua kiri) saat mengunjungi Desa Sungai Tohor, Kecamatan Tebing Tinggi Timur, K
Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG), Nazir Foead (kiri), bersama kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni Monardo (ketiga kiri), dan Gubernur Riau, Syamsuar (kedua kiri) saat mengunjungi Desa Sungai Tohor, Kecamatan Tebing Tinggi Timur, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, untuk melihat proses pengolahan sagu desa tersebut, pada Jumat, 2 Agustus 2019.

INFO NASIONAL-- Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di Riau khususnya di Desa Sungai Tohor, Kecamatan Tebing Tinggi Timur, Kabupaten Kepulauan Meranti pada 2014 silam, nyaris membuat penduduknya putus asa. Kebakaran hebat yang melanda desa dengan sekitar 200 kepala keluarga tersebut membuat aktifitas masyarakat lumpuh dan banyak juga warga yang kena penyakit ISPA.

Namun kini, di desa yang berlokasi di tepi Selat Malaka tersebut tidak ditemukan satu pun spot api, alias wilayah paling aman dari kebakaran hutan dan lahan di wilayah Riau. Selama lima tahun terakhir ini musibah kebakaran tersebut berhasil diatasi berkat upaya restorasi gambut yang dilakukan Badan Restorasi Gambut (BRG) bekerja sama dengan semua kelompok masyarakat.

BRG membangun sekat kanal diantara tanaman sagu di desa tersebut, sehingga air tidak menyusut dan terkuras mengalir ke laut. Warga desa pun dibina untuk mengolah sagu serta memberikan bantuan berupa tiga unit mesin penggilingan sagu. Sejak itu perekonomian warga menjadi baik dan merasakan berkah dari musibah yang terjadi.

Kepala BRG, Nazir Foead mengatakan bahwa BRG telah membangun 11 sekat kanal, dan satu sekat kanal lainnya dibangun oleh Presiden Jokowi di desa percontohan pengelolaan lahan gambut tersebut. “Selama ada sekat kanal, kebutuhan air untuk membasahi gambut tetap tersedia, sehingga meskipun sudah 3 bulan ini tidak ada hujan karena kemarau, kelembapan lahan di Desa Sungai Tohor ini tetap terjaga dari resiko kebakaran,” ujarnya saat mengunjungi Desa Sungai Tohor, Jumat, 2 Agustus 2019.

Pohon sagu itu, menurut Kepala BRG semakin gambutnya basah maka semakin subur, dan kalo semakin banyak tualnya, tentu income petani sagu juga meningkat. “Kedepan BRG akan kembali meneruskan pendekatan pencegahan Karhutla melalui pemberdayaan pengelolaan gambut kepada masyarakat dengan cara seperti itu,” kata Nazir.

Bahkan kedepan, menurutnya, sekat kanal yang ada di Desa Sungai Tohor ini akan di upayakan di beton biar permanen. “Kami juga akan membantu masyarakat untuk membudidayakan perikanan dan pertanian di daerah sekat kanal tersebut,” tutur Nazir.  

Sementara itu Kepala Desa Sungai Tohor, Effendi yang turut hadir mengatakan, sebelum ada bantuan pembuatan sekat kanal oleh BRG, air di kanal selalu kering, karena meresap ke tanah dan habis mengalir ke laut. “Makanya terjadi kekeringan dan kebakaran hebat pada tahun 2014 lalu,” ucapnya. Saat itu warga tidak bisa beraktifitas dan semua masyarakat bergerak ke hutan ikut memadamkan api, dan banyak juga warga yang kena ISPA. “Itu semua dampak dari asap akibat kebakaran hutan,” kata Efendi.

Berkat sekat kanal, ujar Kades Effendi masyarakat juga bisa menggunakan airnya untuk kebutuhan MCK, sehingga masyarakat berpikir kalo lahan ini adalah milik bersama makanya harus di jaga bersama-sama. Saat musim hujan air di kanal ini makin melimpah dan masuk sampai ke dalam kebun sagu. “Makanya pohon sagu kita subur gak pakai pupuk jadi tetap alami dan kualitasnya bagus,” ujarnya.

Salah satu yang dibangun untuk menjaga ketersediaan air di Desa Sungai Tohor ini adalah embung, yang sudah selesai dibangun sejak tahun 2017 oleh Dinas PU Riau.”Saat kita butuh air ini sudah berfungsi. Selain buat tadah air saat hujan, kedepan embung ini akan difungsikan juga untuk pariwisata,” ucap Efendi.

Ketua kelompok masyarakat (pokmas) peduli kampung Desa Sungai Tohor, Syarifudin, menceritakan bahwa desa ini tidak pernah lagi mengalami kebakaran lahan sejak masyarakatnya di ajarkan tentang pembasahan gambut melalui sekat kanal oleh BRG. “Terakhir kebakaran tahun 2014, dan hingga kini tidak ada lagi sejak ada sekat kanal tersebut,” ucapnya.

Sejak ada sekat kanal yang di inisiasi BRG, produksi sagu wilayah ini sangat meningkat, dari enam tual hingga delapan tual per batangnya. “Rata- rata masyarakat memiliki 2 hektare lahan sagu. Setiap tahun mereka memanen 80 batang pohon, dari satu batangnya bisa untung Rp 500- 600 ribu. Artinya dalam setiap hektare mereka menghasilkan Rp 50 juta,” kata Syarifudin.

Ia mengucapkan terimakasih pada BRG yang sudah memberikan bantuan mesin penggilingan sagu kepada 3 Pokmas yang ada di Desa Sungai Tohor sejak 2017 lalu, yakni Pokmas Maju Jaya, Berkah Usaha dan Berkah Riau. Bantuan itu sangat memudahkan masyarakat dalam memproduksi sagu. Sebab sebelum ada bantuan dari BRG masyarakat menggiling sagu dengan mesin merk dompeng yang cepat rusak. Mesin yang di berikan BRG lebih bagus dan juga ekonomis dalam perawatan.

“Kami sangat berterima kasih karena sejak BRG ke sini, perekonomian masyarakat desa ini menjadi lebih baik. Apa lagi kami dibantu 3 unit mesin penggilingan, kami berharap dapat tambahan bantuan lagi. Karena di sini masih ada 15 kilang sagu yang belum tersentuh, semoga ini mendapat perhatian,” kata Syarifudin. (*)


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT