Kasus Cambridge Analytica, Facebook Didenda 5 Miliar USD
TEMPO.CO | 14/07/2019 20:48
Logo Facebook
Logo Facebook

TEMPO.CO, California - Komisi Perdagangan Federal (FTC) Amerika Serikat setuju untuk menjatuhkan hukuman denda sebesar US$ 5 miliar atau sekitar Rp 70 triliun kepada Facebook. Nilai hukuman ini akan menjadi denda terbesar yang pernah dibayarkan kepada FTC.

Perusahaan media sosial Facebook ini sudah diselidiki atas dugaan penyalahgunaan data penggunanya. FTC telah menyelidiki tuduhan bahwa Facebook secara tidak benar membagikan informasi milik 87 juta pengguna dengan perusahaan konsultan politik Inggris Cambridge Analytica. Penyelidikan telah difokuskan kepada apakah berbagi data melanggar perjanjian persetujuan 2011 antara Facebook dan regulator.

Investor menyambut gembira berita tentang kesepakatan tersebut dan mendorong saham Facebook naik 1,8 persen. Sebaliknya, beberapa anggota parlemen Demokrat yang kuat di Washington mengkritik hukuman yang diusulkan tersebut sebagai tidak memadai.

David Cicilline, perwakilan dari Partai Demokrat dan ketua panel anti monopoli di Kongres, menyebut hukuman 5 miliar dolar AS itu sebagai "hadiah Natal lima bulan lebih awal". "Denda ini adalah sebagian kecil dari pendapatan tahunan Facebook. Ini tidak akan membuat mereka berpikir dua kali tentang tanggung jawab mereka untuk melindungi data pengguna," katanya seperti dikutip Reuters, Sabtu 13 Juli 2019.

Dalam sepucuk surat kepada FTC awal tahun ini, Senator Richard Blumenthal, seorang Demokrat, dan Josh Hawley, seorang Republikan, mengatakan kepada FTC bahwa denda US$ 5 miliar terlalu kecil. Selain itu, para pejabat tinggi di Facebook, termasuk pendiri Mark Zuckerberg, harus dianggap bertanggung jawab secara pribadi.

Komisioner FTC Rohit Chopra, seorang Demokrat, mengatakan bahwa FTC harus meminta pertanggungjawaban eksekutif atas pelanggaran keputusan persetujuan jika mereka berpartisipasi dalam pelanggaran. Chopra tidak menanggapi permintaan komentar pada Jumat 12 Juli 2019.

Kesalahan atas kasus Cambridge Analytica, serta kemarahan atas ujaran kebencian dan informasi bohong pada platformnya,  telah mendorong desakan dari orang-orang mulai dari calon presiden Senator Elizabeth Warren hingga salah satu pendiri Facebook, Chris Hughes, agar pemerintah memaksa raksasa media sosial itu menjual Instagram. Instagran sendiri telah dibeli Facebook  pada 2012, dan menyusul WhatsApp yang dibeli pada 2014. 

Pendapatan Facebook sendiri untuk kuartal pertama tahun ini mencapai US$ 15,1 miliar. Adapun laba bersihnya sebesar US$ 2,43 miiar. 

Sebuah sumber yang tahu tentang negosiasi ini telah mengatakan kepada Reuters pada Mei lalu, bahwa perjanjian apa pun akan menempatkan Facebook di bawah pengawasan 20 tahun.

ANTARA | BBC 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT