Gelar Forum Bisnis, Indonesia Incar Peluang Pasar Turki
TEMPO.CO | 12/07/2019 18:43
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, melihat daging yang dijual saat meninjau Bazar Ramadan Kemendag di Jakarta, Senin, 27 Mei 2019. Pada bazar tersebut, Kemendag menggandeng 24 pelaku usaha pangan, 10 pengusaha pangan olahan, 7 pelaku usaha ritel yan
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, melihat daging yang dijual saat meninjau Bazar Ramadan Kemendag di Jakarta, Senin, 27 Mei 2019. Pada bazar tersebut, Kemendag menggandeng 24 pelaku usaha pangan, 10 pengusaha pangan olahan, 7 pelaku usaha ritel yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), dan 20 usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Tempo/Tony Hartawan

TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita memimpin langsung delegasi Indonesia dalam Forum Bisnis Indonesia-Turki di Istanbul. Forum Bisnis ini merupakan komitmen pemerintah untuk meningkatkan nilai perdagangan kedua negara dan tindak lanjut dari kesepakatan kedua pemimpin negara.

Simak: RI-Australia Lanjutkan Negosiasi IA-CEPA

"Kondisi perekonomian Indonesia yang kondusif adalah peluang bagi pelaku usaha Turki menjadikan Indonesia sebagai mitra strategis dalam mengembangkan investasi dan perdagangan," ujar Enggartiasto melalui keterangan resmi, Jumat 12 Juli 2019. 

Forum bisnis ini diikuti sekitar 90 pelaku usaha Turki dan Indonesia yang bergerak di sektor minyak kelapa sawit (CPO), makanan olahan, bubur kertas, kertas, karet, jasa keuangan, jasa perjalanan, dan lainnya. Selain sebagai sarana untuk menjalin jejaring kerja dan promosi antara pelaku usaha, forum bisnis ini juga membahas permasalahan perdagangan yang dihadapi para pelaku usaha.

Secara khusus, Mendag menyampaikan pentingnya peran minyak kelapa sawit bagi Indonesia. "Sebagai salah satu komoditas ekspor utama Indonesia, minyak kelapa sawit memainkan peranan penting dalam menciptakan lapangan kerja dan mengatasi kemiskinan bagi sekitar 16,5 juta jiwa,” katanya.

Produk Indonesia, seperti minyak kelapa sawit dan ban, saat ini mengalami hambatan tarif di Turki yang menyebabkan penurunan nilai ekspor secara tajam. Padahal, kata Enggar, bagi Turki, minyak kelapa sawit merupakan minyak termurah dan produktif yang juga merupakan bahan baku paling kompetitif untuk mendukung industri lainnya.

Mendag mengakui, perdagangan kedua negara masih terkendala. Salah satu penyebab hambatan perdagangan Indonesia-Turki yaitu dikarenakan kedua negara belum memiliki perjanjian perdagangan bebas. Karena itu, percepatan penyelesaian Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Turki (IT-CEPA) diharapkan dapat mengatasi hambatan dan mendorong peningkatan kinerja perdagangan kedua negara.

Baca juga: Indonesia - Australia Siap Teken Perjanjian IA - CEPA November

Pemerintah Indonesia menilai, hubungan perdagangan dengan Turki dinilai sangat penting. Posisi geopolitis Turki yang strategis juga bermanfaat sebagai penghubung bagi masuknya produk Indonesia ke Eropa dan Timur Tengah. Menurut Enggartiasto, keberhasilan ekonomi Indonesia telah menarik minat pelaku usaha Turki untuk menjalin kemitraan. 

ANTARA

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT