BNPB Minta Kepala Daerah Pahami Potensi Bencana di Wilayahnya
TEMPO.CO | 12/07/2019 07:39
Kepala BNPB yang baru dilantik Letjen TNI Doni Monardo memberikan sambutan saat Upacara Serah Terima Jabatan (Sertijab) di Graha BNPB, Jakarta, Rabu, 9 Januari 2019.  Doni Monardo dalam serah terima jabatan mengatakan, akan mendalami lebih jauh terkait tu
Kepala BNPB yang baru dilantik Letjen TNI Doni Monardo memberikan sambutan saat Upacara Serah Terima Jabatan (Sertijab) di Graha BNPB, Jakarta, Rabu, 9 Januari 2019. Doni Monardo dalam serah terima jabatan mengatakan, akan mendalami lebih jauh terkait tupoksi jabatan yang diembannya. TEMPO/M Taufan Rengganis

TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letnan Jenderal TNI Doni Monardo mengatakan setiap pemimpin daerah harus memahami potensi bencana di wilayahnya. Mereka juga harus melakukan upaya-upaya untuk mencegah dan mengantisipasi kemungkinan dampaknya.

Baca: Sutopo Purwo Nugroho Disebut Contoh Nyata Pengabdi pada Negara

"Bupati/wali kota, camat, sampai kepala desa harus mengetahui apa potensi ancaman bencana di daerah masing-masing," kata Doni usai bertemu dengan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Gedung Negara Grahadi di Surabaya, Kamis malam, 11 Juli 2019.

Mengetahui dan memahami potensi dan ancaman bencana, menurut dia, merupakan bagian dari kesiapan mencegah dan mengantisipasi dampak bencana.

Setelah mengetahui dan memahami potensi bencana di wilayahnya, Doni melanjutkan, pemimpin daerah harus menyiapkan strategi pencegahan dan penanggulangan dengan tujuan meminimalkan jumlah korban dan kerugian akibat bencana.

"Pelayanan publik yang terbaik adalah bagaimana negara hadir memberikan perlindungan kepada masyarakat dan menyelamatkan jiwa manusia," katanya.

Dalam upaya meningkatkan kesiapsiagaan dalam mencegah dan menghadapi bencana, BNPB antara lain melaksanakan ekspedisi desa tangguh bencana (Destana), yang mencakup sosialisasi dan pelatihan-pelatihan hingga tingkat keluarga.

Doni mencontohkan, daerah-daerah terpencil yang belum terjangkau teknologi membutuhkan strategi khusus untuk menyampaikan peringatan dini bencana, misalnya dengan meminta warga meletakkan barang yang mudah jatuh pada bagian tertentu dalam rumah untuk menandai gempa.

"Begitu ada gempa kalengnya jatuh, dan itu tanda bahwa dia harus segera meninggalkan rumah. Ini dilakukan terutama saat malam hari atau ketika kita tidur," ujar Doni.

Doni mengemukakan bahwa sampai saat ini belum ada satu teknologi pun yang memungkinkan memprakiraan gempa terjadi.

Baca: Kepala BNPB: Sutopo Purwo Nugroho Bekerja dengan Hati

"Tetapi, pengetahuan terus berkembang. Mudah-mudahan di kemudian hari teknologi bisa memprediksi kapan gempa akan terjadi. Namun, sejauh ini yang sangat akurat belum ada, hanya saja yang mendekati akurat sudah mulai banyak," kata dia.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT