Pemerintah Antisipasi Dampak Kemarau Panjang terhadap Inflasi
TEMPO.CO | 10/07/2019 19:25
Petani membajak sawahnya yang mengalami kekeringan di Persawahan kawasan Citeureup, Bogor, Jawa Barat, Selasa, 2 Juli 2019. Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika atau (BMKG) memprakirakan Indonesia akan dilanda musim kemarau sampai Agustus 2019. ANTARA
Petani membajak sawahnya yang mengalami kekeringan di Persawahan kawasan Citeureup, Bogor, Jawa Barat, Selasa, 2 Juli 2019. Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika atau (BMKG) memprakirakan Indonesia akan dilanda musim kemarau sampai Agustus 2019. ANTARA

TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah tengah memantau dampak dari kemarau panjang yang saat ini terjadi terhadap laju inflasi nasional. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengatakan kemarau panjang ini bisa mempengaruhi produksi pangan sehingga membuat harga-harga pangan ikut terimbas.

Baca: 100 Kabupaten dan Kota Terdampak Kekeringan, Jawa Timur Terluas

“Inflasi kita kan yang paling besar pangan bergejolak, jadi kita harus benar-benar antisipasi musim kekeringan yang mungkin agak di luar kebiasaan,” kata Bambang usai rapat High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Pusat di Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta, Rabu, 10 Juli 2019.

Sebelumnya pada Senin, 2 Juli 2019, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju inflasi sepanjang Juni 2019 sebesar 0,55 persen. Kepala BPS Suhariyanto menyatakan, inflasi tersebut lebih rendah dibanding bulan sebelumnya atau Mei, yang sebesar 0,68 persen. "Penyebab utama karena kenaikan harga emas perhiasan, cabai merah dan beberapa sayuran," kata Kepala Suhariyanto di kantornya, Jakarta, Senin, 1 Juli 2019.

Sebaliknya kata dia, deflasi terjadi karena harga turun terjadi pada bawang putih, turunnya harga tiket pesawat, dan daging ayam ras. "Kami berharap inflasi akan terus terkendali," ujar Suhariyanto. Dengan demikian, BPS mencatat, laju inflasi tahun kalender Januari hingga Mei 2019 (year to date)mencapai 2,05 persen. Sedangkan inflasi tahun ke tahun (year on year) sebesar 3,28 persen.

Sementara itu, Kementerian Pertanian menyebut musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih lama dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Akibatnya, risiko kekeringan dan kebakaran lahan, serta kegagalan panen pun meningkat. Lebih lamanya kemarau ini ditandai dengan majunya awal musim kemarau di bulan April di beberapa daerah di Indonesia.

Hasil pantauan dari BMKG, wilayah yang telah memasuki musim kemarau, meliputi Aceh (pesisir utara dan timur), Sumatera Utara bagian utara, Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan bagian tenggara, pesisir barat Sulawesi Selatan, pesisir utara Sulawesi Utara, pesisir dalam perairan Sulawesi Tengah, sebagian Maluku, dan Papua bagian selatan.

Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso, mengatakan perusahaannya juga sudah melakukan sejumlah antisipasi dalam hal kesediaan beras. Stok beras saat ini diklaim sudah aman, yaitu sekitar 1,5 juta ton. “Berarti aman, jangan sampai khawatir, tadi sudah dibahas,” kata dia.

Baca: Kekeringan Melanda Puluhan Desa di Jawa Barat

Sementara itu, Kepada BPS Suhariyanto mengatakan pemerintah menyiapkan antisipasi kemarau panjang dengan memperbaiki jalur distribusi agar lebih efisien. Lalu, penyiapan gudang untuk beberapa komoditas yang mudah busuk, seperti cabai merah dan cabai rawit, “Untuk beras kan aman, kemarin tiket pesawat juga sudah deflasi karena ada penurunan tarif batas,” ujarnya.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT