Tempo.co Jadi Finalis Global Fact-Check Award
TEMPO.CO | 25/06/2019 10:40
Tempo.co Jadi Finalis Global Fact-Check Award
Direktur Poynter-IFCN, Baybars Ă–rsek membuka konferensi Global Fact-Check 6 di Cape Town, Afrika Selatan, 19 Januari 2019. Foto: Dok IFCN

TEMPO.CO, Cape Town -   Artikel Cek Fakta Tempo berjudul “Benarkah ada 70 Juta Suara yang Tercoblos untuk Pasangan Nomor satu?” Edisi 3 Januari 2019, berhasil menjadi salah satu finalis untuk kategori “Best Correction” dalam  kompetisi Global Fact-Check 6 Award. 

Kompetisi ini adalah ajang pemberian penghargaan atas hasil pemeriksaan fakta terbaik dari media media pemeriksa fakta di seluruh dunia. IFCN memilih 12 finalis yang terbagi dalam tiga kategori yakni most bizarre, most creative and best correction. Pemenang kemudian ditentukan berdasarkan voting yang melibatkan warganet di seluruh dunia.

Pemenangnya diumumkan dalam Konferensi Global Fact Check 6 yang digelar di University of Cape Town, Cape Town, Afrika Selatan, 19-21 Juni 2019 yang diikuti 250 peserta dari 146 organisasi dan media se-dunia. 

Pada malam pengumuman, tim cekfakta.tempo.co berhasil meraih peringkat kedua terfavorit berdasarkan hasil jajak pendapat global. Jumlah suara yang diperoleh Tempo.co hanya berselisih 1 persen dari pemenangnya yakni tuan rumah, AfricaCheck.

Konferensi tahunan ini sendiri diselenggarakan oleh International Fact Checking Network (IFCN)-Poynter dan  membahas berbagai permasalahan global mengenai disinformasi di era digital dan masa depan pemeriksaan fakta.

Selain 163 orang pengecek fakta, konferensi ini juga diikuti oleh perusahaan teknologi, organisasi nirlaba dan startup. Konferensi kali ini merupakan yang terbesar sejak pertama digelar di London pada 2014 dan hanya dihadiri organisasi pengecek fakta di Eropa.

Penasihat Senior IFCN, Peter Cunliffe-Jones, mengatakan, informasi yang salah dapat memiliki efek luar biasa pada kehidupan nyata seseorang. Munculnya informasi kesehatan yang keliru tentang vaksin, kata dia, telah berkorelasi dengan berjangkitnya penyakit yang dapat dicegah seperti campak di seluruh dunia.

“Informasi bohong di media sosial secara teratur membangkitkan ketegangan sosial dan agama di negara-negara seperti Nigeria,” kata dia, dalam sambutan pembukaan, 19 Juni 2019.

Meski begitu, menurut Peter Cunliffe-Jones, sudah ada beberapa upaya organisasi pengecek fakta yang menjanjikan untuk mengatasi kesalahan informasi yang luas di masyarakat. Laporan Lab Duke Reporters juga menunjukkan bahwa organisasi pengecek fakta telah berkembang menjadi 188  organisasi di 60 negara.

Berkembangnya organisasi pemeriksa fakta itu memberikan harapan sekaligus tantangan baru. Seperti beberapa organisasi yang harus berhadapan dengan hukum atas pemeriksaan fakta yang dilakukan.

Hasil penelitian Zahedur Arman, presiden pendiri BD FactCheck di Bangladesh, juga menunjukkan beberapa tantangan yang dihadapi organisasi pengecek fakta di kawasan Asia Selatan. Di antaranya, jumlah sumber daya yang terbatas di setiap organisasi, kurangnya keberagaman bahasa lokal pada produk pengecekan fakta, dan tantangan bisnis yang berkelanjutan.

“Banyak pengecek fakta yang bekerja paruh waktu,” kata dia.

Sejumlah organisasi pengecek fakta hadir dengan inovasi-inovasi baru untuk menekan penyebaran disinformasi sekaligus memperluas audiens mereka. Afrika Check misalnya, baru-baru ini meluncurkan "What Crap on WhatsApp?”, serial podcast pemeriksaan fakta di Whatsapp.

PolitiFact yang berbasis di Amerika Serikat membuat "What the Fact," sebuah acara TV di Newsy, di mana editor memeriksa fakta dari berbagai pernyataan politisi.

Chequeado, dari Argentina, memamerkan Chequeabot, sebuah aplikasi yang akan mengirimkan transkrip video yang beredar di Youtube secara otomatis ke media untuk diverifikasi. Atau Lead Stories yang mengkonversi artikel cek fakta mereka menjadi video di Youtube, meniru apa yang telah dilakukan oleh pembuat kabar bohong.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT