Dengan Kereta Cepat, Jakarta - Bandung Bisa Ditempuh 46 Menit
TEMPO.CO | 18/06/2019 05:45
Pekerja melintas di dalam Tunnel Walini saat pengerjaan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Selasa, 14 Mei 2019. Tunnel Walini memiliki panjang 608 meter.  ANTARA/M Agung Rajasa
Pekerja melintas di dalam Tunnel Walini saat pengerjaan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Selasa, 14 Mei 2019. Tunnel Walini memiliki panjang 608 meter. ANTARA/M Agung Rajasa

TEMPO.CO, Jakarta - Kereta Cepat Jakarta - Bandung diperkirakan bisa menempuh jarak 142,3 kilometer Jakarta – Bandung hanya dalam waktu 36 menit untuk perjalanan langsung, hingga 46 menit dengan kondisi perjalanan berhenti di setiap stasiun.

Baca juga: Jika Lahan Rampung, Kereta Cepat Jakarta-Bandung Selesai 3 Tahun

"Di sepanjang trase Kereta Cepat Jakarta – Bandung akan terdapat empat stasiun pemberhentian yakni di Halim, Karawang, Walini dan Tegalluar," ujar Manager PR dan CSR PT Kereta Cepat Indonesia China Deni Yusdiana dalam keterangan tertulis, Selasa, 18 Juni 2019.

Kereta Cepat Jakarta - Bandung direncanakan menggunakan teknologi terkini, yakni kereta cepat generasi teranyar CR400AF. Kereta tipe tersebut merupakan hasil pengembangan dari tipe CRH380A oleh CRRC Qingdao Sifang.

Kereta itu akan terdiri dari delapan gerbong dengan komposisi empat gerbong bermotor dan empat gerbong tanpa motor. Komposisi ini memungkinkan kereta CR400AF memiliki kecepatan desain hingga 420 kilometer per jam dan kecepatan operasional 350 kilometer per jam.

"Meskipun kecepatan tinggi, dari sisi kenyamanan CR400AF memiliki cabin noise yang lebih rendah sehingga mampu meredam getaran dan suara di dalam kereta dengan lebih optimal," ujar Deni.

Dengan teknologi baru, Deni mengatakan kereta cepat Jakarta - Bandung akan memiliki masa penggunaan lebih lama hingga lebih dari 30 tahun sejak tahun produksi serta biaya perawatan yang lebih rendah. Selain itu, Kereta model anyar juga didesain untuk beroperasi di empat iklim, salah satunya di kondisi tropis dengan kondisi suhu dan kelembapan tinggi seperti di Indonesia.

Nantinya, setiap rangkaian kereta akan dilengkapi dua Lightning Arrester untuk meningkatkan keamanan terhadap sambaran petir terutama di sisi peralatan tegangan tinggi. "Selain mampu beroperasi di iklim tropis dan cuaca ekstrim, CR400AF juga dipastikan mampu menghadapi kondisi geografis lintasan Jakarta – Bandung yang cenderung menanjak," kata Deni.

Selain itu, dengan besar daya setiap rangkaian mencapai 9750 kilowatt, maka kereta cepat dijamin mampu memberikan akselerasi yang lebih baik saat melewati trase pada elevasi 30 per mil. Dalam kondisi darurat, kereta tersebut juga dapat digunakan sebagai penarik kereta lainnya meskipun dalam kondisi gradien atau elevasi 12 per mil.

Lantaran kemampuan itu, Deni yakin di masa mendatang kereta cepat bisa menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat untuk bepergian di wilayah Jakarta, Bandung, dan sekitarnya. Sehingga, menurut dia, pengembangan kereta cepat itu juga berpotensi menciptakan peluang baru bertumbuhnya transportasi pendukung antar daerah dari dan ke stasiun kereta cepat.

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT