Perang Dagang Memanas, Sharp dan LG Akan Relokasi Pabrik ke RI
TEMPO.CO | 16/06/2019 15:05
Ilustrasi perang dagang Amerika Serikat dan Cina. Businessturkeytoday.com/
Ilustrasi perang dagang Amerika Serikat dan Cina. Businessturkeytoday.com/

TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Perindustrian menyampaikan produsen elektronika Sharp Corporation dan LG Eletronics akan merelokasi sejumlah unit produksi mereka ke Indonesia. Hal tersebut merupakan salah satu peluang yang didapat Indonesia di tengah berlangsungnya perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina.

Baca: Jokowi Tantang Kadin dan HIPMI Manfaatkan Perang Dagang

“Sebagai negara dengan kondisi geopolitik yang cukup stabil, Indonesia kini semakin diincar oleh investor asing,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam keterangannya, Ahad, 16 Juni 2019.

Terlebih, kata Airlangga, beberapa waktu lalu, lembaga pemeringkat Standard and Poor’s (S&P) Global Ratings meningkatkan peringkat utang jangka panjang atau sovereign credit rating Indonesia dari BBB- menjadi BBB dengan outlook stabil. Dengan demikian, Indonesia kini memperoleh status layak investasi atau investment grade dari ketiga lembaga pemeringkat internasional, yakni S&P, Moody's, dan Fitch.

Direktur Industri Elektronika dan Telematika, Kementerian Perindustrian, Janu Suryanto, menjelaskan Sharp akan merelokasi pabrik mesin cuci dua tabung dari Thailand ke pabrik yang ada di Karawang International Industrial City (KIIC). Rencananya, kata Janu, peresmian pabrik Sharp akan dilakukan bukan depan. “Jadi, nanti ada penambahan lini produksi. Ini juga untuk pasar ekspor. Mereka akan menyerap ratusan tenaga kerja," ujarnya.

Sedangkan, LG akan merelokasi pabrik pendingin ruangan dari Vietnam ke fasilitas produksi yang ada di Legok, Tangerang. “Mereka akan mulai produksi dan mulai dipasarkan pada September 2019 sebanyak 25 ribu unit," kata dia. Selanjutnya, jumlah produksinya ditargetkan naik menjadi 50 ribu unit.

Lebih lanjut, Janu menyebut Industri manufaktur atau pengolahan seperti Sharp dan LG merupakan salah satu sektor yang menyumbang cukup signfikan bagi total investasi di Indonesia. Pada triwulan I tahun 2019, industri pengolahan nonmigas berkontribusi sebesar 18,5 persen atau Rp16,1 triliun terhadap realisasi penanaman modal dalam negeri (PMDN).

Adapun tiga sektor yang menunjang paling besar pada total PMDN tersebut di tiga bulan awal tahun ini, yakni industri makanan yang menggelontorkan dana mencapai Rp 7,1 triliun, disusul industri logam dasar Rp 2,6 triliun dan industri pengolahan tembakau Rp 1,2 triliun.

Baca: Perang Dagang, Kadin Tangkap Peluang Relokasi Investasi

Selanjutnya, industri manufaktur juga menyetor hingga 26 persen atau US$ 1,9 miliar terhadap realisasi penanaman modal asing (PMA). Tiga sektor yang menopangnya, yaitu industri logam dasar sebesar US$ 593 juta, diikuti industri makanan US$ 376 juta serta industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia US$ 217 juta.

Simak berita terkait perang dagang lainnya di Tempo.co.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT