Tiga Tahun Terakhir, Ada 283 Kasus Kebakaran Hutan di Aceh
TEMPO.CO | 16/06/2019 13:57
Warga berusaha memadamkan api dengan cara manual di kawasan hutan Desa Peunia, Kecamatan Kaway XVI, Aceh Barat, Aceh, 23 Oktober 2017. ANTARA FOTO
Warga berusaha memadamkan api dengan cara manual di kawasan hutan Desa Peunia, Kecamatan Kaway XVI, Aceh Barat, Aceh, 23 Oktober 2017. ANTARA FOTO

TEMPO.CO, Meulaboh - Angka kasus kebakaran hutan dan lahan di sejumlah kabupaten dan kota di Provinsi Aceh mencapai 283 kasus sejak 2016 hingga 2019.

Baca: Jokowi Divonis Bersalah Kasus Kebakaran Hutan: Kita Hormati

"Tingginya angka kebakaran hutan dan lahan ini akibat kurangnya pemahaman masyarakat ketika membuka lahan dengan cara membakar," kata Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan Wilayah IV Aceh M. Daud di Meulaboh, Ahad, 16 Juni 2019.

Daud menjelaskan, dari angka kebakaran lahan sesuai dengan sebaran titik api tersebut terus menurun dari tahun ke tahun. "Pada 2016 jumlah kebakaran lahan di Aceh mencapai 103 titik api, pada  2017 tercatat 113 titik api, pada 2018 mencapai 65 titik api. Pada tahun 2019 ini, jumlah titik api mencapai dua titik dan berada di Kabupaten Aceh Barat," ucapnya.

Adapun titik api yang selama ini sering membakar lahan tersebar di sejumlah daerah  seperti Kabupaten Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, dan Aceh Singkil. Selain itu ada daerah tempat lahan terbakar titik api lainnya seperti Aceh Tamiang, Aceh Tengah, Aceh Timur, Bener Meriah, Bireuen, Gayo Lues, Pidie, serta Pidie Jaya.

Sementara daerah yang sering terjadi kebakaran lahan gambut, kata dia, di Kabupaten Aceh Barat dan Nagan Raya. Di daerah tersebut hampir setiap tahun terjadi kebakaran lahan gambut. "Rata-rata kasusnya sama, pembukaan lahan dengan cara membakar lahan. Ini sangat berbahaya," kata Daud.

Agar kasus kebakaran hutan dan lahan tidak lagi meningkat di Aceh, Kantor Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah IV Aceh, Kabupaten Aceh Barat mulai membentuk kelompok masyarakat peduli gambut. Salah satu upaya konkret pencegahan kebakaran hutan dan lahan di kabupaten itu harus dilakukan bersama-sama dengan masyarakat.

Baca: Sawit Watch: Pemerintah Sulit Akui Kebakaran Hutan karena Sawit

Pencegahan kebakaran hutan dan lahan harus dilakukan bersama-sama agar warga selaku pemilik lahan gambut tidak sembarangan melakukan pembakaran lahan saat akan membuka lahan baru. "Kelompok yang kita bentuk ini diutamakan yang ada lahan gambutnya, sehingga sedini mungkin bisa mendeteksi titik api agar segera dilakukan pencegahan sebelum terjadinya kebakaran hutan," kata Daud.

ANTARA 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT