Perang Dagang AS-CIna Berpotensi Picu Resesi Global
TEMPO.CO | 04/06/2019 02:37
Kapal Perang AS dan Jepang menggelar latihan perang bersama di Laut Cina Selatan di tengah ketegangan perang dagang AS dan CIna pada Jumat, 31 September 2018. Express
Kapal Perang AS dan Jepang menggelar latihan perang bersama di Laut Cina Selatan di tengah ketegangan perang dagang AS dan CIna pada Jumat, 31 September 2018. Express

TEMPO.CO, Jakarta -  Setelah saham-saham AS menutup bulan terburuk dalam setahun, risiko besar dari perang dagang Amerika Serikat-Cina tidak bisa diremehkan lagi. 

Baca: Buntut Perang Dagang, Maskapai Global Koreksi Proyeksi Laba

Kepala ekonom global di Morgan Stanley, Chetan Ahya, memprediksi bahwa resesi ekonomi global mungkin akan segera dimulai bulan depan. Pemicunya tak lain adalah keputusan Presiden Donald Trump yang mendorong pengenaan tarif 25 persen pada tambahan US$ 300 miliar produk impor Cina, yang dibalas tindakan serupa oleh pemerintah Cina. 

Ketegangan antara pemerintahan Trump dan Ciina tak kunjung mereda karena masing-masing pihak menyalahkan pihak lain atas kegagalan dalam pembicaraan. 

Selama akhir pekan, Trump merayakan kebijakan perdagangannya dan langkah baru-baru ini untuk mengenakan tarif pada barang-barang Meksiko sebagai tanggapan terhadap imigrasi ilegal. Di waktu yang bersamaan, bursa saham telah menunjukkan tren penurunan, meskipun investor masih mengabaikan dampak perang perdagangan terhadap prospek ekonomi makro global ini.

Chetan menuturkan, penderitaan tersebut akan semakin meningkat seiring dengan peningkatan biaya dari kebijakan tarif pemerintah Trump. "Permintaan pelanggan melambat dan perusahaan akan mulai mengurangi belanja modal," katanya seperti dikutip dari laman Bloomberg, Senin 3 Juni 2019.

Baca juga: Efek Perang Dagang AS - Cina ke RI, Darmin: Susah Menghitungnya

Menurut Chetan, kebijakan untuk mengurangi dampak perang dagang cenderung reaktif dan lambat untuk diterapkan. Sehingga, ia memprediksi dunia tidak akan mampu mengurangi dampak negatif perang dagang AS-Cina ini dengan segera.

BISNIS 

 

REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT