Miliarder Philip Green Didakwa Melakukan Pelecehan Seksual
TEMPO.CO | 01/06/2019 18:00
Philip Green, miliarder asal Inggris dituduh telah melakukan pelecehan seksual pada instruktur pilates. Sumber: edition.cnn.com
Philip Green, miliarder asal Inggris dituduh telah melakukan pelecehan seksual pada instruktur pilates. Sumber: edition.cnn.com

TEMPO.CO, Jakarta - Miliarder asal Inggris di bidang industri retail Philip Green, 67 tahun, dituntut dengan empat dakwaan pelanggaran ringan di Amerika Serikat. Green diduga telah telah menyentuh dengan tidak sepantasnya dan berulang kali terhadap seorang instruktur pilates perempuan.

Dalam gugatan hukum yang diajukan korban, Green dituduh telah menepuk dan meraba area pantat korban. Kejadian tak sepantasnya ini terjadi di resort Canyon Ranch di kota Tucson pada 2016 dan 2018.

Baca juga:Selain Sederhana, Para Miliarder Juga Punya 3 Karakter Ini

Philip Green, miliarder asal Inggris dituduh melakukan pelecehan seksual pada instruktur pilates. Sumber: Reuters/asiaone.com

Baca juga:2016, Lahir 233 Miliarder Baru

Gugatan hukum terhadap Green sangat mengejutkan. Dia dikenal sebagai miliarder sukses pemilik Arcadia Group. Atas tuduhan yang diarahkan padanya, Green meyakinkan dirinya tidak bersalah.

Untuk dakwaan hukum tersebut, Green bisa dipenjara hingga 30 hari dan membayar denda sebesar US$ 500 atau sekitar Rp 7 juta. Catatan pengadilan kabupaten Pima, Amerika Serikat, yang diunggah secara online memperlihatkan Green akan hadir ke persidangan pada 19 Juni 2019 untuk mendengarkan empat dakwaan yang diarahkan padanya.

Arcadia Group dalam keterangan mengatakan Green tidak berencana menghadiri persidangan tersebut. Juru bicara pengadilan yang menyidangkan kasus ini enggan berkomentar.

Green dikenal sebagai miliarder yang mengelola sejumlah rantai ritel toko pakaian di Inggris dan Irlandia. Diantara toko pakaian itu adalah Topshop, Topman, Miss Selfridge dan Dorothy Perkins. Pada Mei lalu, Arcadia Group mengumumkan akan menutup 23 dari total 566 gerai pakaian milik perusahaan itu di Inggris akibat persaingan dengan penjualan online.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT