Pentagon Cemas Cina Akan Hentikan Ekspor Bahan Baku Senjata ke AS
TEMPO.CO | 30/05/2019 09:00
Pesawat tempur siluman Lockheed Martin F-35B mendarat di atas kapal induk serbu amfibi USS di perairan pulau paling selatan Jepang Okinawa 23 Maret 2018. F-35B  mampu terbang dalam jangkauan sejauh 2.220 km. REUTERS/Issei Kato
Pesawat tempur siluman Lockheed Martin F-35B mendarat di atas kapal induk serbu amfibi USS di perairan pulau paling selatan Jepang Okinawa 23 Maret 2018. F-35B mampu terbang dalam jangkauan sejauh 2.220 km. REUTERS/Issei Kato

TEMPO.CO, Jakarta - Pentagon khawatir Cina akan membatasi ekspor mineral rare earth ke AS sebagai balasan perang dagang, karena mineral ini adalah bahan baku penting untuk pembuatan senjata dan perlengkapan militer AS.

Departemen Pertahanan AS telah memberi pengarahan kepada Kongres tentang laporan untuk mengurangi ketergantungan Amerika pada mineral rare earth Cina.

Seorang juru bicara Pentagon mengatakan pada hari Rabu, bahwa Departemen Pertahanan khawatir Cina akan menghentikan pasokan mineral rare earth sebagai balasan perang dagang.

Baca juga: Cina Siap Gunakan Rare Earth untuk Balas Perang Dagang AS

Meskipun Pentagon tidak memberikan perincian laporan itu, dokumen itu mengatakan terikat pada program federal yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan produksi domestik, melalui insentif ekonomi yang ditargetkan.

Rare earth adalah sekelompok 17 elemen kimia yang digunakan dalam berbagai produk konsumen, dari iPhone hingga motor mobil listrik, serta mesin jet militer, satelit, dan laser.

Ketegangan yang meningkat antara Amerika Serikat dan Cina telah memicu kekhawatiran bahwa Beijing dapat menggunakan posisi dominannya sebagai pemasok rare earth dalam perang dagang.

Antara 2004 dan 2017, Cina menyumbang 80 persen dari impor rare earth AS.

Sampel mineral rare earth dari kiri ke kanan: Cerium oxide, Bastnasite, Neodymium oxide dan Lanthanum, dalam gambar yang diambil selama tur fasilitas Molycorp's Mountain Pass Rare Earth, California, 29 Juni 2015.[REUTERS/David Becker]

Menurut laporan Asia Times, Cina memproduksi sekitar 97 persen bijih rare earth, 97 persen oksida rare earth, 89 persen logam leburan rare earth, 75 persen magnet boron besi neodymium (NdFeB) dan 60 persen magnet samarium kobalt (SmCo).

Amerika Serikat hampir seluruhnya tidak memiliki kapasitas pengilangan, fabrikasi, pembuatan logam, peleburan logam dan magnet untuk memproses rare earth dan hampir sepenuhnya bergantung pada Cina.

Logam rare earth digunakan dalam aplikasi komersial dan pertahanan. Misalnya, kapal selam bertenaga nuklir kelas Virginian masing-masing menggunakan 4.173 kg logam rare earth, sementara kapal perusak rudal yang dipandu Arleigh Burke membutuhkan sekitar 2.358 kg logam rare earth, yang mana saat ini ada 66 kapal perusak yang beroperasi dan 14 lainnya sedang dibuat atau sedang dipesan.

Baca juga: Pendiri Huawei Yakin Apple Tidak Bakal Terkena Retaliasi

Jet tempur F-35 Joint Strike Fighters masing-masing membutuhkan 417 kg logam rare earth, 380 telah diproduksi sejauh ini dan total pembelian untuk AS sendiri adalah 2.663 pesawat dan Jepang akan memesan 105 F-35 tambahan.

"Departemen Pertahanan terus bekerja sama dengan presiden, Kongres, dan basis industri untuk mengurangi ketergantungan AS terhadap mineral rare earth Cina," Letnan Kolonel Angkatan Udara Mike Andrews, juru bicara Pentagon, seperti dikutip dari Reuters, 30 Mei 2019.

Dia mengatakan Departemen Pertahanan baru-baru ini menyelesaikan laporan Defense Product Act III untuk rare earth dan menjelaskan kepada Kongres tentang hal itu.

Sementara Cina sejauh ini tidak secara eksplisit mengatakan akan membatasi penjualan rare earth ke Amerika Serikat, namun media Cina secara kuat menyiratkan ini akan terjadi.

Dalam komentar tajuk utama surat kabar People's Daily yang berjudul "Amerika Serikat, jangan meremehkan kemampuan Cina untuk menyerang balik”, mencatat ketergantungan AS pada mineral rare earth Cina.

Pentagon cemas industri militer AS terancam

Pentagon telah berulang kali menyatakan keprihatinannya tentang ketergantungan Amerika pada Cina untuk mineral tanah jarang, termasuk dalam laporan 2018.

Program Defense Production Act Title III dirancang untuk membuat, memelihara, melindungi, memperluas, atau mengembalikan kemampuan basis industri dalam negeri, menurut situs web Departemen Pertahanan.

Situs web di sini mencatat bahwa program tersebut memberi presiden wewenang luas untuk memastikan ketersediaan sumber daya industri dalam negeri demi mendukung kebutuhan pertahanan nasional dan keamanan tanah air melalui penggunaan insentif ekonomi yang dirancang khusus.

Tidak jelas apakah Pentagon menawarkan saran baru untuk insentif ekonomi sebagai bagian dari laporan terbaru.

Departemen Pertahanan menyumbang sekitar 1 persen dari permintaan AS, yang menyumbang sekitar 9 persen dari permintaan global untuk rare earth, menurut laporan tahun 2016 dari Kantor Akuntabilitas Pemerintah AS.

Lanthanum logam rare earth cair dituangkan ke dalam cetakan di bengkel peleburan Perusahaan Jinyuan di dekat kota Damao di Daerah Otonomi Mongolia Dalam Tiongkok, 31 Oktober 2010. [REUTERS / David Gray]

Perusahaan seperti Raytheon Co, Lockheed Martin Corp dan BAE Systems Plc semuanya membuat rudal canggih yang menggunakan logam rare earth dalam sistem panduan mereka, dan sensor.

Beberapa mineral rare earth sangat penting dalam peralatan militer seperti mesin jet, sistem panduan rudal, sistem pertahanan dan satelit antirudal, serta untuk senjata laser.

Lantanum, misalnya, diperlukan untuk memproduksi perangkat nightvision.

Baca juga: Perang Dagang, AS Minta Korsel Tolak Huawei?

Beberapa pemasok alternatif mampu bersaing dengan Cina, yang merupakan rumah bagi 37 persen cadangan global rare earth.

Tambang Mountain Pass California adalah satu-satunya fasilitas tambang rare earth yang beroperasi di AS, tapi MP Material, pemilik Mountain Pass, mengirimkan sekitar 50.000 ton konsentrat rare earth yang diekstraksi setiap tahun dari California ke Cina untuk diproses. Cina sendiri telah mengenakan tarif 25 persen untuk impor rare earth kepada Amerika Serikat selama perang dagang.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT