Lima Pelecehan Seksual yang Terjadi di Transportasi Publik
TEMPO.CO | 27/04/2019 13:56
Petugas berkebaya melakukan sosialisasi tentang pencegahan pelecehan seksual di transportasi publik saat menyambut Hari Kartini di dalam KRL, Jakarta, 20 April 2018. Kegiatan ini bertujuan memberi pemahaman kepada pengguna KRL mengenai bentuk-bentuk pelec
Petugas berkebaya melakukan sosialisasi tentang pencegahan pelecehan seksual di transportasi publik saat menyambut Hari Kartini di dalam KRL, Jakarta, 20 April 2018. Kegiatan ini bertujuan memberi pemahaman kepada pengguna KRL mengenai bentuk-bentuk pelecehan seksual yang bisa saja terjadi. TEMPO/Muhammad Hidayat

TEMPO.CO, Jakarta -Seorang perempuan diduga mengalami tindakan pelecehan di atas kereta KA Sembrani Nomor 48 milik milik PT Kereta Api Indonesia atau PT KAI. Saat itu, korban berangkat dari Stasiun Gambir, Jakarta, pada Senin 22 April 2019 dan hendak menuju Stasiun Surabaya Pasarturi, Surabaya, Jawa Timur. Sementara kejadian pelecehan ini terjadi pada Selasa dini hari, pukul 02.00 WIB, 23 April 2019, atau 30 menit setelah kereta melewati Stasiun Tawang, Semarang.

BACA:

Usai kejadian, VP Public Relations KAI Edy Kuswoyo menyampaikan permohonan maaf dari perusahaannya. Edy juga menyebut bahwa korban dan pelaku sudah dipertemukan langsung di kereta saat kejadian. “Pelaku sudah meminta maaf dan keduanya sepakat untuk menyelesaikan secara kekeluargaam dan tidak memprosesnya lebih lanjut,” kata Edy dalam keterangan resminya.

Kendati demikian, kejadian ini menambah daftar panjang tindak pelecehan yang terjadi di transportasi publik dalam beberapa tahun terakhir. Tempo mencoba menghimpun tindakan pelecehan tersebut dan berikut di antaranya:

1. Pelecehan di Bus Transjakarta

Sebulan kemudian, seorang lelaki juga kedapatan melecehkan penumpang perempuan di bus Tranjakarta ditelanjangi oleh para penumpang. Peristiwa itu terjadi Senin, 1 September 2014, di koridor VIII jurusan Harmoni-Lebak Bulus. Pelaku dan korban sama-sama berada di bus gandeng Damri bernomor 5080.

"Saat itu bus tidak terlalu padat. Pelaku tiba-tiba memegang bokong korban dari belakang. Waktu itu, mereka sama-sama berdiri," kata juru bicara Badan Layanan Umum Transjakarta, Sri Ulina Pinem, Selasa, 2 September 2014.

Pelaku bernama Yeremias H. yang berdomisili di Tambora, Jakarta Barat. Dia meremas bokong korban di dalam bus selepas halte Kebayoran Baru. Korban yang tidak mengira mendapat perlakuan itu langsung berteriak keras sehingga menarik perhatian petugas keamanan Transjakarta. "Pelaku kami tangkap dan dibawa ke halte Lebak Bulus," ujar Sri.

Petugas meminta korban untuk melaporkan kasus ini ke kepolisian. Namun korban enggan melapor karena khawatir namanya bakal diekspos media massa. Atas saran sejumlah penumpang, pelaku akhirnya diberi hukuman di tempat. "Mereka menelanjangi pelaku lalu memajangnya di halte agar pelaku jera," tutur Sri.

2. Pelecehan di Kereta Commuter Indonesia

Lalu bulan berikutnya yaitu ada 17 Oktober 2014, seorang pemuda bernama Fikri Afriansyah, 18 tahun, kepergok tengah masturbasi dengan menggesekkan kemaluannya kepada seorang penumpang perempuan. Kejadian itu terjadi di kereta commuter line 1313 jurusan Bekasi-Jakarta Kota.

Ia pun dihukum dengan dipajang di stasiun sambil berkalungkan tulisan "Saya Pelaku Pelecehan Seksual." Selain itu, Komandan Regu Polisi Khusus Kereta Api Stasiun Manggarai Feri Prasetyo mengatakan timnya menghukum Fikri dengan menyuruhnya naik dan mencium tiang listrik selama hampir satu jam.

"Dia juga kami jemur di bawah sinar matahari dan berlari mengitari stasiun dengan mengulang kata-kata 'Saya pelaku pelecehan seksual'," tutur Feri.

3. Lagi, Pelecehan di Kereta Commuter Indonesia

Pada 3 Februari 2016 lalu, seorang pria bernama Jallaludin Hasibuan, 55 tahun, diduga melakukan pelecehan seksual terhadap remaja putri berusia 15 tahun. Pelecehan itu berada di dalam kereta bernomor 1854 jurusan Jakarta Kota-Bogor. "Pada saat korban hendak turun di Stasiun Lenteng Agung, pria itu dengan sengaja memegang paha korban," kata juru bicara PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ), Eva Chairunnisa.

Mendapat perlakuan itu, korban secara spontan berteriak sehingga menjadi perhatian penumpang dan petugas keamanan kereta. Setelah mendapat penjelasan dari korban, petugas menangkap Jallaludin dan membawanya ke kantor stasiun. Pria paruh baya itu kemudian dibawa ke Polsek Lenteng Agung.

4. Lagi, Pelecehan di Bus Transjakarta

Pria berinisial IK dilaporkan atas dugaan pelecehan seksual oleh seorang mahasiswi perguruan tinggi swasta di Jakarta karena memegang pahanya saat berada di bus Transjakarta, Senin, 6 Maret 2017. Kepala Unit Reserse Kriminal Kepolisian Sektor Jatinegara saat itu, Ajun Komisaris Bambang Edi mengatakan korban melaporkan peristiwa yang menimpanya ke Polsek Jatinegara dengan ditemani petugas Transjakarta.

Meski sempat diperiksa dan ditahan, ucap Bambang, pihaknya melepas IK. Alasannya, laporan korban tidak memenuhi unsur pelecehan seksual. “Enggak ada unsur pidananya, pelaku hanya menyolek bagian pahanya dengan kelingking. Bukan paha atas ya, tapi bagian dekat dengkul,” ujar Bambang saat dihubungi, Selasa, 7 Maret 2017. “Kalau dipegang bagian payudara atau alat kelaminnya, itu bisa (masuk pelecehan).”

Selain memeriksa IK dan mahasiswi tersebut, Bambang mengatakan pihaknya memeriksa petugas on board halte Cawang Otista bernama Fitri sebagai saksi. Korban, ucap Bambang, juga telah dirujuk untuk visum. “Saksinya ada petugas Transjakarta. Dia juga bilang cuma pakai jari. Bagaimana kalau begitu? Mau visum juga memang keliatan,” ujarnya.

Mengenai motif IK menyentuh paha mahasiswi tersebut dengan jarinya, Bambang menuturkan pelaku mengaku hanya iseng. Menurut Fitri, kata Bambang, IK mengaku telah beberapa kali melakukan hal serupa di Transjakarta. “Cuma iseng. Pelakunya juga seperti terpelajar, kok. Tapi ya kami tetap buatkan laporan dan diperiksa sesuai dengan prosedur,” ucap Bambang.

5. Pelecehan di KA Jawa

Lalu terakhir yaitu pelecehan di KA Sembrani. Kejadian ini viral setelah akun bernama @xrybqby ini mengunggah kisahnya pada Selasa, 23 April 2019. Kisah @xrybqby telah diretweet sebanyak 23 ribu, dibalas 788 akun dan disukai oleh 8.500 akun.

Dalam kronologi yang diunggah di utas tersebut, @xrybqby mengatakan kejadian pelecehan tersebut terjadi saat dirinya tengah tidur di dalam kereta dan duduk bersebelahan dengan pelaku pelecehan seksual tersebut.

Saat korban tidur, pelaku tiba-tiba memegang tangan korban. Setelah itu, pelaku bahkan berani menciumi tangan dan mengendus-endus tangan korban. Kejadian ini membuat korban tidak nyaman dan berusaha mengembalikan posisi pada semula.

Lantaran takut, semula BSY hanya merapatkan selimut. Namun, ketika tindakan sudah melampaui batas, korban berdiri dan melapor kepada petugas. Namun, korban mengaku tak memperoleh respons yang terlalu menyenangkan dari petugas. Menurut dia, petugas menganggap kejadian itu wajar terjadi. “Ah, biasalah mbak. Mbaknya terlihat seperti anak karaokean,” tulisnya.

Mengenai hal ini, KAI memohon maaf apabila ada perilaku dari petugas yang mungkin kurang berkenan. “KAI juga akan terus melakukan pembinaan terhadap petugas terkait,” ujar Edy dalam keterangannya.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT