Gadis 4 Tahun Korban Penembakan di Christchurch Masih Kritis
TEMPO.CO | 23/03/2019 23:07
Seorang anak laki-laki menaruh bunga sebagai penghormatan kepada para korban serangan masjid di dekat Masjid Al Noor di Christchurch, Selandia Baru, 16 Maret 2019. Sebanyak 49 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka akibat serangan teror tersebut. REUTE
Seorang anak laki-laki menaruh bunga sebagai penghormatan kepada para korban serangan masjid di dekat Masjid Al Noor di Christchurch, Selandia Baru, 16 Maret 2019. Sebanyak 49 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka akibat serangan teror tersebut. REUTERS/Jorge Silva

TEMPO.CO, Jakarta - Gadis berusia 4 tahun korban penembakan di Christchurch, Selandia Baru, masih dalam kondisi kritis setelah sembilan hari dirawat.

Juru bicara Dewan Kesehatan Distrik Auckland mengatakan, Alen Alsati masih dalam kondisi kritis di Rumah Sakit Anak Starship Auckland, selama pantauan terakhir pada Sabtu pagi, seperti dikutip Stuff.co.nz, 23 Maret 2019.

Baca: Mucaad Ibrahim, Korban Termuda Teror di Selandia Baru, Dimakamkan

Alen adalah putri dari Wassein Alsati, tukang cukur rambut dari Yordania yang juga terluka akibat penembakan.

Menurut teman kerabat, keluarga korban belum mau berbicara kepada media.

Wasseim Alsati, ayah Alen, termasuk di antara mereka yang terluka dalam penembakan di Masjid Al Noor, Christchurc, Selandia Baru.[Stuff.co.nz]

Tempat pangkas rambut Maloney's Barber Shop di Auckland mengatakan akan menyumbangkan seluruh keuntungannya sejak Jumat kepada Wassein dan Alen.

"Kami menyadari bahwa ia adalah ayah dari seorang gadis kecil," kata pemilik tempat cukur Sue Maloney.

"Tukang cukur adalah profesi campuran. Mereka adalah orang-orang dari semua lapisan masyarakat. Ada rasa persaudaraan yang sangat kuat," tambahnya.

Baca: Mucaad Ibrahim, Korban Teror di Selandia Baru, Gemar Main iPad

Dia mengatakan profesi itu sering dikenal dengan lelucon dan olok-olok tapi suasananya telah tenang minggu ini.

Banyak pelanggan yang memiliki hubungan dekat dengan tukang cukur mereka, telah memberi sumbangan untuk Alsati.

Penggalangan dana, yang dibentuk teman Alsati, Fahad Drarjeh, dengan cepat mencapai lebih dari US$ 45.000 (Rp 637 juta), yang melebihi target awal untuk menolong ayah dan anak korban penembakan di Christchurch, Selandia Baru.

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT