Jokowi: Bapak Ibu Mau Pemimpin yang Didukung Organisasi Itu?
TEMPO.CO | 22/03/2019 06:00
Jokowi: Bapak Ibu Mau Pemimpin yang Didukung Organisasi Itu?
Calon Presiden Joko Widodo atau Jokowi menarik tuas disaksikan sejumlah pengusaha dalam acara deklarasi dukungan pengusaha untuk Jokowi-Amin di Istora Senayan, Jakarta, 21 Maret 2019. Sekitar 10.000 pengusaha mendeklarasikan dukungan untuk memenangkan Capres-Cawapres Joko Widodo-Ma'ruf Amin untuk pada Pilpres 2019. TEMPO/M Taufan Rengganis

TEMPO.CO, Jakarta - Calon presiden inkumben Joko Widodo atau Jokowi lagi-lagi mengingatkan masyarakat untuk tidak golput saat hari-H pencoblosan pemilihan presiden pada 17 April 2018. Ia mengingatkan soal jangan golput ketika berpidato dalam acara deklarasi dukungan pengusaha pekerja pro-Jokowi di Istora Senayan, Jakarta pada hari ini, Kamis, 21 Maret 2019.

Baca juga: Tekan Golput, KPU Targetkan Partisipasi Pemilih 77,5 Persen

"Saya ingin mengajak tanggal 17 April nanti, 27 hari lagi, ajak kawan-kawan kita, tetangga, saudara dan seluruh karyawan serta keluarga untuk berbondong-bondong datang ke TPS," ujar Jokowi di Istora Senayan, Jakarta pada Kamis malam, 21 Maret 2019.

Seraya mengingatkan masyarakat agar tidak golput, Jokowi juga mengingatkan risiko jika banyak masyarakat yang golput. Salah satunya, secara tidak langsung, Jokowi menyebut penantang-nya lah yang akan menang, yakni Prabowo Subianto.

"Bapak-bapak/ibu-ibu mau pemimpin yang dipilih organisasi-organisasi yang itu......?," ujar Jokowi disambut riuh tepuk tangan peserta deklarasi.

Jokowi kemudian melanjutkan kata-katanya. "Saya enggak nyebut ya, tapi sudah pada tahu sendiri kan?," ujar Jokowi dengan raut wajah menyindir.

Saat ini, golput memang tengah menghantui kubu Jokowi. Hasil sigi Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menunjukkan, Jokowi yang paling dirugikan jika angka golput di pemilihan presiden 2019 besar. Bahkan, peneliti LSI Ikrama Masloman menyebut, terbuka kemungkinan Jokowi dikalahkan Prabowo Subianto, jika petahana tersebut tak berhasil mengelola partisipasi pemilih.

Musababnya, ujar Ikrama, selisih elektabilitas Jokowi dan Prabowo saat ini, tak lebih besar dari angka golput 2014. "Angka golput 2014 sebesar 30,42 persen. Sementara selisih elektabilitas dua paslon ini lebih kecil dengan 27,8 persen," ujar Ikrama di kantornya, Jalan Pemuda, Jakarta Timur pada Selasa, 19 Maret 2019.

Baca juga: Warga Minim Informasi, LSI Denny JA Prediksi Golput Meningkat

Kekhawatiran akan tingginya angka golput tersebut juga menjadi pembahasan dalam acara konsolidasi TKN dengan para kepala daerah dan pimpinan parlemen di Hotel Borobudur, Jakarta pada Ahad malam, 17 Maret 2019. Wakil Sekretaris TKN Verry Surya Hendrawan membenarkan bahwa potensi golput menjadi salah satu pembahasan saat memaparkan survei internal terkait elektabilitas Jokowi di sejumlah daerah.

"Kemantapan pemilih sudah 80 persen. Namun, yang menjadi kekhawatiran kami untuk saat ini adalah golput," ujar Verry di Hotel Borobudur, Jakarta pada Ahad malam, 17 Maret 2019.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT