Menperin Sebut Bakal Ada Investasi Cina Rp 10 T di Bidang Tekstil
TEMPO.CO | 25/01/2019 07:47
Pekerja menyelesaikan produksi kain sarung di Pabrik Tekstil Kawasan Industri Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat 4 Januari 2019. Kementerian Perindustrian menargetkan ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) pada tahun 2019 mencapai 15 miliar d
Pekerja menyelesaikan produksi kain sarung di Pabrik Tekstil Kawasan Industri Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat 4 Januari 2019. Kementerian Perindustrian menargetkan ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) pada tahun 2019 mencapai 15 miliar dollar AS atau naik 11 persen dibandingkan target pada tahun 2018. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyatakan bakal ada investor asal Cina yang bakal menanamkan modal sebesar Rp 10 triliun di sektor tekstil pada 2019. Investasi itu mengarah kepada pengembangan sektor menengah alias midstream, seperti bidang pemintalan, penenunan, pencelupan, dan percetakan.

BACA: Investor Saham di Yogyakarta Meningkat Pesat, Ini Sebabnya

Masuknya investasi itu, menurut dia, salah satunya didukung oleh adanya perang dagang antara dua negara adi daya, Amerika Serikat dan Cina. Belakangan, tampak beberapa perusahaan manufaktur dari negeri tirai bambu yang mau memindahkan basis produksinya ke Indonesia guna menghindari tarif tinggi yang dikenakan AS. 

“Beberapa industri tekstil dan alas kaki global sedang mempertimbangkan pemindahan pabrik dari China ke Indonesia,” kata Airlangga Hartarto seperti dalam keterangan tertulis yang diterima Tempo, Kamis, 24 Januari 2019. 

Untuk itu, Airlangga berujar pemerintah juga terus meciptakan iklim investasi yang kondusif dan memberikan kemudahan dalam proses perizinan usaha. Dengan begitu Indonesia bisa menjadi salah satu negara tujuan utama bagi investor, salah satunya dari Cina.

BACA: IMF Turunkan Proyeksi Ekonomi Dunia, RI Bergantung pada Investasi

Di samping investasi di bidang tekstil, Airlangga mengatakan Cina juga telah membangun kawasan industri anyar di Sulawesi Tengah. Investasi yang telah digelontorkan sepanjang lima tahun ke belakang adalah sebanyak US$ 5 miliar. Adapun ekspor dari kawasan itu telah mencapai US$ 4 miliar.

Menurut Airlangga, selain ada penambahan investasi baru, perang dagang AS-Cina juga membawa dampak bagi pelaku industri di Indonesia untuk memacu utilitas atau kapasitas produksinya dalam upaya mengisi pasar ekspor ke dua negara tersebut.

“Kita telah ekspor baja ke AS, sehingga harapannya bisa memasukkan lebih banyak lagi produk itu,” tuturnya. Pada Januari-November 2018, ekspor besi dan baja RI ke AS melonjak hingga  87,7 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sedangkan total ekspor RI ke AS tercatat tumbuh 3 persen pada periode yang sama.

Baca berita tentang investasi lainnya di Tempo.co.

 

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT