Di Forum BDF, Menlu Retno: Demokrasi Perlu Energi Para Milenial
TEMPO.CO | 06/12/2018 21:19
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyampaikan materi saat acara "Talkshow Menlu Retno" di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu 24 November 2018. Dalam kegiatan yang menjadi bagian dari Diplomacy Festival (DiploFest) 2018 tersebut Menlu Retno memaparkan tentang si
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyampaikan materi saat acara "Talkshow Menlu Retno" di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu 24 November 2018. Dalam kegiatan yang menjadi bagian dari Diplomacy Festival (DiploFest) 2018 tersebut Menlu Retno memaparkan tentang sikap politik aktif pemerintah Indonesia dalam mendukung kemerdekaan dan kedaulatan Palestina serta mewujudkan perdamaian dunia. ANTARA FOTO/Moch Asim

TEMPO.CO, Nusa Dua - Pertemuan Bali Democracy Forum (BDF) atau Forum Demokrasi Bali yang digelar di Nusa Dua, Bali melibatkan kalangan pelajar.

"Kita memerlukan energi para milenial ini untuk terus melanjutkan perjuangan dalam mempromosikan demokrasi," kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi di Bali Nusa Dua Convention Center, Kamis, 6 Desember 2018.

Baca: LIPI: Radikalisme Meningkat Karena Kekecewaan pada Demokrasi

Forum kalangan pelajar generasi muda itu adalah Bali Democracy Student Conference (BDSC). Adapun BDF tahun ini mengangkat tema 'Democracy for Prosperity'.

Retno menjelaskan bahwa BSDC sebagai upaya agar generasi muda mampu menunjang perkembangan demokrasi. "Supaya mereka tidak apatis," ujarnya.

Menurut Retno, demokrasi dapat dipertahankan melalui pola saling belajar. "Membangun kolaborasi yang kuat antara sesama negara demokrasi," kata dia.

Baca: BPS: Indeks Demokrasi Indonesia Menurun

Pendiri Institute for Peace and Democracy Hassan Wirajuda ikut mengisi Bali Civil Society and Media Forum. Hassan menjelaskan tentang demokrasi yang merosot. "Di negara-negara demokrasi tua, tapi juga di negara berkembang," kata dia.

Hassan mencontohkan negara-negara Eropa dan Amerika yang dalam kategori demokrasi tua "Itu menguat populisme dan nasionalisme sempit," ujar Menteri Luar Negeri 2001-2009 itu. Sedangkan di negara-negara berkembang, menurut Hassan mekanisme demokrasi memiliki kecenderungan otoriter.

Baca: 5 Target agar Disabilitas Berpartisipasi di Pesta Demokrasi


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT