Pahlawan Nasional Depati Amir, Tokoh Pemersatu Melayu - Tionghoa
TEMPO.CO | 08/11/2018 16:39
Presiden Jokowi menganugerahi gelar pahlawan nasional kepada enam tokoh di Istana Negara, Jakarta, Kamis, 8 November 2018. Adapun enam tokoh tersebut adalah, Depati Amir (Bangka Belitung), A.R Baswedan (Yogyakarta), Pangeran Mohammad Noor (Kalimantan Sela
Presiden Jokowi menganugerahi gelar pahlawan nasional kepada enam tokoh di Istana Negara, Jakarta, Kamis, 8 November 2018. Adapun enam tokoh tersebut adalah, Depati Amir (Bangka Belitung), A.R Baswedan (Yogyakarta), Pangeran Mohammad Noor (Kalimantan Selatan), Mr Kasman Singodimejo (Jawa Tengah), KH Syam’un (Banten) dan Hj Andi Depu (Sulawesi Barat). TEMPO/Subekti.

TEMPO.CO, Pangkalpinang - Pemerintah menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada Depati Amir pada Kamis, 8 November 2018. Depati Amir adalah tokoh asal Kepulauan Bangka Belitung yang dikenal berhasil menyatukan suku Melayu dan Tionghoa di provinsi tersebut.

Baca: Pahlawan Nasional Depati Amir: Melawan Belanda Meski Diasingkan

Sejarahwan Bangka Belitung, Akhmad Elvian, mengatakan Depati Amir adalah ahli strategi perang. Dia dianggap layak menjadi pahlawan nasional, mengingat perjuangannya telah membangkitkan semangat perlawanan kepada Belanda di Pulau Bangka yang memonopoli pertambangan dan perdagangan timah.

"Perang Depati Amir juga berhasil menyatukan orang Tionghoa dan pribumi dalam menghadapi kolonial Belanda," ujar Elvian kepada Tempo, Kamis, 8 November 2018. Dia menambahkan bersatunya orang Melayu dan Tionghoa ini bahkan terjalin erat hingga saat ini. "Kharisma dan pengaruh Depati Amir mampu memobilisasi rakyat Bangka dan orang Tionghoa untuk ikut berperang," ujar Elvian.

Keterlibatan orang Tionghoa dalam perang, kata Elvian, menjadi fenomena menarik. Sebab saat itu, karakter dan budaya suku Melayu Bangka dengan rakyat Tionghoa sangat jauh bertentangan.

Elvian mengatakan bantuan senjata dan mesiu perang Depati Amir datang dari orang Tionghoa asli seperti Kepala Parit Kampung Air Duren, Bun A Tjong; Kepala Parit Seruk, Ho Tjing; dan Kepala Parit Singli Bawah, Tjin Sie bersama dengan Kai Sam dan Ko Su Sui.

Baca: Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional, Begini Kisah Depati Amir

Bantuan juga diberikan oleh orang Tionghoa yang mualaf yang bernama Raman, Aim, dan King Tjoan. "Senjata yang dibeli orang Tionghoa itu berasal dari Singapura," ujar Elvian.

Menurut Elvian, peristiwa perlawanan rakyat Bangka yang dipimpin Depati Amir adalah peristiwa sejarah yang besar dan harus dikabarkan ke seluruh negeri. Bahwa serpihan-serpihan perjuangan di Bangka adalah bagian dari perjuangan sejarah bangsa Indonesia dan selayaknya menghiasi halaman buku sejarah nasional.

"Ketika bagian lain wilayah di negara ini sedang belajar kebhinnekaan, Depati Amir dan rakyat Bangka sudah mempraktikan kebhinnekaan dalam persatuan untuk melawan musuh bersama, yaitu penindasan Belanda. Berbagai etnis dipersatukan menjadi energi yang besar untuk melawan penjajahan," ujar Elvian.

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT