Profil Enam Tokoh yang Akan Dianugerahi Pahlawan Nasional
TEMPO.CO | 08/11/2018 08:19
Ilustrasi - Berziarah memperingati hari Pahlawan Nasional. Doc. KOMUNIKA ONLINE
Ilustrasi - Berziarah memperingati hari Pahlawan Nasional. Doc. KOMUNIKA ONLINE

TEMPO.CO, Jakarta - Sejumlah tokoh nasional akan menerima gelar pahlawan. Dirjen Pemberdayaan Sosial Kementerian Sosial Pepen Nazaruddin mengatakan pemberian gelar Pahlawan Nasional ini akan disampaikan langsung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Negara, hari ini, Kamis, 7 November 2018.

Baca: Enam Tokoh Bakal Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional

“Besok pemberian gelar pahlawan dilakukan pada pukul 13.00 WIB,” kata Pepen kepada Tempo melalui pesan pendek pada Rabu, 6 November 2018. Saban tahun, negara memang rutin menghadiahi gelar pahlawan bagi tokoh-tokoh nasional yang memiliki jasa besar bagi kepentingan bangsa dan negara.

Penetapan tokoh-tokoh yang memperoleh gelar pahlawan ini ditentukan oleh para anggota Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan. Aturan dewan gelar telah tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2010 tentang Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan.

Tahun ini, setidaknya ada enam tokoh yang bakal mendapatkan gelar pahlawan. Salah satu di antaranya adalah kakek dari Gubernur DKI Jakarta Anies Basedan, Abdurrahman Baswedan. Berikut ini profil para tokoh tersebut.

1. Abdurrahman Baswedan (Yogyakarta)

Dikenal dengan kemampuannya menulis, Abdurrahman yang berprofesi sebagai jurnalis termasuk dalam 111 perintis pers nasional. Namanya berjajar dengan tokoh-tokoh pers nasional kawakan lainnya, seperti Taher Tjindarboemi. Nama Abdurrahman penting dalam sejarah pers nasional. Ia tercatat jelas dalam buku karya Soebagijo Ilham Notodidjojo yang berjudul Jagat Wartawan.

Baca: KAHMI Usulkan Kakek Anies Baswedan Jadi Pahlawan Nasional

Abdurrahman, yang merupakan keturunan keluarga Arab, pernah mengajak para keturunan Arab di Indonesia (yang saat itu bernama Hindia-Belanda) untuk mendukung kemerdekaan Indonesia. Melalui narasi-narasi tulisannya, ia berhasil membaurkan kaum keturunan Arab, baik totok maupun muwalad, untuk membaur dengan golongan pribumi.

Dalam momentum besar Sumpah Pemuda, Abdurrahman tergerak melakukan gebrakan serupa seperti Muhammad Yamin dan Soegondo. Ia berniat ingin menyatukan pemuda-pemuda keturunan Arab untuk mengucapkan sumpah yang sama: Sumpah Pemuda. Sumpah Pemuda yang diinisiasi Abdurrahman melahirkan sebuah kelompok baru bernama Persatoean Arab Indonesia (PAI).

Tak henti di semangat kepemudaannya, pria kelahiran 9 September 1908 ini pernah berkiprah di dunia diplomat. Ia terdaftar sebagai diplomat pertama Indonesia yang sukses mendapatkan pengakuan secara de facto dan de jure di Mesir.

2. Kasman Singodimedjo (Jawa Tengah)

Kasman kondang sebagai Ketua Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). KNIP merupakan komite yang mengawali lahirnya parlemen atau Dewan Perwakilan Rakyat. Sebelum menjabat sebagai penggawa KNIP, pria kelahiran Jawa Tengah 25 Februari 1904 itu adalah seorang perwira sukarela Pembela Tanah Air (PETA). Kasman menduduki posisi sebagai Daindancho.

Kariernya melesat setelah Proklamasi Kemerdekaan 1945. Ia didapuk menjadi Jaksa Agung Indonesia pada 1945 hingga 1946. Prestasinya yang gemilang di kancah hukum ini tak lepas dari pengalamannya menjadi Menteri Muda Kehakiman pada era perang kemerdekaan. Kala itu, Kasman turut dalam operasi gerilya. Pada 1978, Majalah Tempo menulis, Kasman memperoleh gelar Doctor Honoris Caus dalam bidang hukum dari Universitas Muhammadiyah. Gelar itu didapat pada 24 Desember 1977.

Selain melenggang di bidang hukum, karier Kasman mulus di partai bertajuk muslim. Ia pernah menjadi Ketua Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi). Namun kariernya harus berhenti pada 1982. Ia wafat pada usia 78 tahun.

3. Depati Amir (Bangka-Belitung)

Sejarawan Bangka-Belitung, Akhmad Elvian, dalam bukunya Riwayat Hidup dan Perjuangan Depati Amir, mencatat jelas perjuangan sosok patriot itu membela rakyat Bangka. Buku itu mengisahkan, Amir pernah ditolak oleh Pemerintah Hindia Belanda pada 1830.

Masyarakat Bangka Belitung mengusulkan Depati Amir sebagai pahlawan nasional/Istimewa

Pemerintah Belanda, yang takut dengan pengaruh Amir di hati rakyat Bangka, mencoba mengurangi pengaruh Amir dengan memberikan jabatan Depati untuk menguasai daerah Jeruk ditambah penguasaan daerah Mendara dan Mentadai di Pulau Bangka. Amir diminta menggantikan ayahnya, Depati Bahrain. Ia ditunjuk karena Amir orang berpengaruh. Selain itu, dia bersama 30 pengikutnya berhasil menumpas para perompak yang mengganas di perairan Pulau Bangka dan telah memulihkan keamanan di tengah masyarakat.

Perlawanan rakyat Bangka yang dipimpin Depati Amir dilakukan karena ingin memprotes pemberlakuan peraturan tentang monopoli perdagangan timah oleh Belanda. Peraturan tersebut menyebabkan terjadinya penyimpangan dan kecurangan dalam tata niaga timah sehingga membuat rakyat Bangka menderita dan sengsara.

Baca: Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional, Begini Kisah Depati Amir

Pada 17 Desember 1848, Belanda yang dipimpin oleh Administratur Distrik Pangkalpinang Letnan Campbell dan dibantu oleh Hoofd Jaksa Abang Arifin berusaha menangkap Depati Amir di rumah Demang Abdurrasyid di daerah Sungai Rangku. Kemampuan Amir melancarkan serangan membuat Belanda resah. Amir pun berhasil menghadapi orang Cina pribumi untuk menghadapi serangan penjajah.

4. KH Sjam’un (Banten)

Konon, KH Sjam’un merupakan keturunan KH Wasid yang pernah bergerilya menentang penjajah Belanda pada tahun 1800-an. Sebagai keluarga seorang patriot, Sjam’un mewarisi mandat sebagai sosok yang memperjuangkan kepentingan bangsa dan negara. Ia pernah bergabung dengan kelompok Pembela Tanah Air (PETA) bersama Kasman Singodimedjo.

Selanjutnya, Sja’mun bergerilya bersama Tentara Keamanan RAkyat (TKR). Ia memperoleh pangkat sebagai Brigadir Jenderal. Bagi masyarakat Banten, nama Sja’mun harum sebagai Bupati Serang pasca-kemerdekan Indonesia. Ia bertugas sebagai abdi negara di kabupaten itu pada 1945-1949. Ia meninggal pada 1949 lantaran sakit setelah memimpin pertempuran di Serang.

5. Andi Depu (Sulawesi Barat)

Bersama Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, Andi Depu pernah diusulkan menjadi pahlawan pada 2010. Aminiah Hamzah dkk, dalam bukunya berjudul Biografi Hajja Andi Depu Maradia Balanipa Mandar, menceritakan bahwa Depu merupakan srikandi Indonesia yang menjadi Arajang Balanipa pertama kali dalam kelaskaran KRIS MUDA Mandar. Seharusnya kursi itu dijabat para kaum lelaki. Kecintaannya pada aksi-aksi heroik mengantarkan perempuan kelahiran Agustus 1908 itu menjadi ketua Operasi Gerakan Wanita Mandar. Operasi itu secara resmi dinamai Fujingkai.

Saat bergerilya, perempuan ini pernah direkam menentang kekuasaan Kolonial. Ia menyadarkan masyarakat Mandar bahwa kemerdekaan harus direbut sepenuhnya. Maka, dengan kekuatannya, Depu berhasil menggerakkan masyarakat untuk menumpas bekas kekuasaan penjajah pasca-perang kemerdekaan.

6. Muhammad Noor (Kalimantan Selatan)

Pangeran Muhammad Noor menjadi salah satu tokoh asal Borneo yang lahir dari keluarga kerajaan. Ia merupakan intah atau cicit Raja Banjar Sultan Adam al-Watsiq Billah. Keluarganya bergelar bangsawan di Banjar, Kalimantan Selatan. Muhammad Noor kondang sebagai perjuang yang memimpin Divisi IV ALRI Pertahanan Kalimantan pada 1945-1949. Ia bergerilya di bawah kepemimpinan Hassan Basry. Nama Muhammad Noor juga melenggang sebagai panitia persiapan kemerdekaan Indonesia atau PPKI pada masa kemerdekaan.

Baca juga: Temui JK, Rektor UGM Bahas Usulan Sardjito Jadi Pahlawan Nasional

Kala masa pemerintahan Presiden Soekarno, Muhammad Noor didapuk sebagai Menteri Pekerjaan Umum. Ia meloloskan sejumlah gawe besar di Kalimantan Selatan. Misalnya pembangunan waduk Riam Kanan. Ia juga mengembangkan PLTA Riam Kanan pada masa 1970-an.

SERVIO MARANDA | MAJALAH TEMPO

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT