Amerika Tuding Meretas, Rusia Sebut Itu Berhaya
TEMPO.CO | 05/10/2018 09:31
Deputi Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov. Reuters
Deputi Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov. Reuters

TEMPO.CO, Moskow – Deputi Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov, mengatakan pemerintah Amerika Serikat meracuni atmosfer hubungan kedua negara dengan tuduhan baru tidak berdasar.

 

Baca: 

Amerika Umumkan Dakwaan Atas 7 Peretas Intelijen Militer Rusia

 

Ini membawa hubungan kedua negara ke jalur berbahaya dan menambah ketegangan diantara dua kekuatan nuklir ini.

Ryabkov mengatakan pemerintah AS mengalami kesulitan untuk membuat cerita fiksi tentang intervensi Rusia atas pemilu AS 2016 terus mendapat perhatian publik.

“Beberapa negara NATO terburu-buru mengulangi tuduhan itu atas perintah dari Washington. Publik Barat kembali diintimidasi dengan tuduhan ‘peretas Rusia’, yang kali ini dituding berusaha meretas jaringan komputer nyaris di seluruh dunia,” kata Ryabkov seperti dilansir Sputnik News pada Kamis, 4 Oktober 2018 waktu setempat.

 

Baca: 

Belanda Beberkan 4 Intelijen Rusia Retas Kantor Peneliti Novichok

 

Ryabkov menuding balik Washington berusaha terus menyebarkan informasi keliru kepada publik domestik dan internasional untuk menjustifikasi sanksi yang dilakukannya dan berbagai tekanan terhadap Rusia.

Menteri Pertahanan Belanda, Ank Bijleveld (tengah), didampingi Kepala Intelijen Militer dan Keamanan Belanda, Onno Eichelsheim (berdiri) dan Duta Besar Inggris, Peter Wilson, menggelar jumpa pers soal adanya upaya peretasan ke kantor OPCW yang merupakan lembaga anti penggunaan senjata kimia di Hague, Belanda, pada Kamis, 4 Oktober 2018. Sputnik News

“Rusia sudah terbiasa dengan metode yang digunakan AS tapi sengaja meningkatkan ketegangan antara kekuatan nuklir di pentas internasional merupakan jalur berbahaya,” kata dia.

 

Baca: 

Diincar Rusia, Ternyata Skripal Bekerja di 4 Intelijen Berbeda

 

Ryabkov mengatakan ini untuk menanggapi tuduhan dari kementerian Kehakiman AS bahwa ada 7 orang peretas dari unit intelijen militer GRU dari Rusia yang diketahui mencoba meretas jaringan komputer di kantor dua lembaga doping WADA atau World Anti-Doping Agency dan USADA atau US Anti-Doping Agency serta sebuah perusahaan pembuat bahan bakar nuklir Westinghouse, yang semuanya berbasis di AS.

 

Baca: 

Bos Intelijen Inggris Galang Dukungan Lawan Rusia Soal Skripal

 

Beberapa jam sebelum AS mengumumkan dakwaan kepada para peretas itu, Menteri Pertahanan Belanda, Ank Bijleveld juga menggelar jumpa pers mengumumkan ada empat peretas asal dinas intelijen militer GRU dari Rusia, yang mencoba meretas jaringan komputer di kantor OPCW atau Organisation for Prohibition of Chemical Weapons, yang merupakan lembaga anti-penggunaan senjata kimia. Ini terjadi pada April 2018. 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT