Edy Rahmayadi Bantah Lakukan Penamparan di Stadion
TEMPO.CO | 26/09/2018 15:42
Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi (kiri) didampingi Wakil Ketua PSSI Joko Driyono memberikan keterangan pers mengenai penghentian sementara kompetisi Liga I di Jakarta, Selasa (25/9/2018). ANTARA FOTO/Reno Esnir
Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi (kiri) didampingi Wakil Ketua PSSI Joko Driyono memberikan keterangan pers mengenai penghentian sementara kompetisi Liga I di Jakarta, Selasa (25/9/2018). ANTARA FOTO/Reno Esnir

TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Sumatera Utara sekaligus Ketua Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia, Edy Rahmayadi, membantah melakukan penamparan kepada suporter disela-sela pertandingan PSMS melawan Persela Lamongan di Stadion Teladan Medan pada Jumat, 21 September 2018. Bantahan ini diungkapkan Edy menanggapi video penamparan yang viral di media sosial.

Baca: Kasus Haringga Sirila: PSSI Bentuk Tim Verifikasi

"Memang cocok saya nampar anak kecil? Lu percaya gak?" ujar Edy Rahmayadi di Medan, pada Selasa, 25 September 2018.

Edy merasa dirinya berada pada posisi yang serba salah. Jika dia membantah, maka banyak pihak yang tidak percaya. Sedangkan jika dirinya mengatakan telah melakukan penamparan, akan ada pula pihak yang mengatakan terlalu tega.

Namun yang pasti, Edy membantah dirinya melakukan aksi tidak terpuji tersebut.
"Itu pasti banyak yang melihat itu. Ya nggak ada lah," sambung Edy.

Di tempat terpisah, Sekretaris PSMS Julius Raja ikut membantah peristiwa penamparan yang dilakukan Edy Rahmayadi. Julius mengatakan ada yang mengedit video yang akhirnya viral di media sosial. "Yang viral itu yang diedit. Kami lagi cari orang yang mengedit dan memviralkannya," sebut Julius.

Julius menjelaskan yang sebenarnya terjadi saat itu adalah Edy mendatangi suporter dan menyuruh untuk tidak menyalakan flare atau kembang api. Gerakan tangan Edy merupakan isyarat agar para suporter menepi dan menyaksikan laga dengan tertib.

Baca: Alasan Ketua PSSI Tak Masalah Rangkap Jabatan Gubernur

Musababnya, Edy khawatir jika flare terus dinyalakan, PSMS yang pada akhirnya dirugikan. Karena penyalaan flare melanggar aturan penyelenggaraan Liga 1 dan akhirnya klub dapat dijatuhi sanksi.

Bahkan menurut Julius, Edy juga sempat memborong makanan yang dijual pedagang di lokasi kejadian. "Dia borong semua jualan di situ, lalu dikasihkan ke anak-anak. Jadi kami heran, kok, ada yang mengedit-edit video itu," ungkap Julius.

Pria yang akrab disapa King tersebut juga berharap agar para suporter yang mendukung langsung PSMS bertanding dapat bersikap dewasa. Khususnya tidak melakukan tindakan anarkis dan menyalakan flare saat pertandingan berlangsung.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT