• TERASLAMPUNG.COM -- Lembaga Advokasi Perempuan Damar mengelar pelatihan paralegal bagi anggota Satgas Desa Pencegahan dan Penanganan kasus Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak,Sabtu,29 Desember 2018.

    Menurut Koordinator Program Damar Sofiyan dalam realesenya menjelaskan pelatihan yang diselenggarakan pada 28 sampai 30 Desember 2018, di Hotel Andalas yang melibatkan 23 orang dari Desa Tegal Ombo, Kecamatan Way Bungur Kabupaten Lampung Timur, Pekon Purwodadi Kecamatan Gisting-Kabupaten Tanggamus dan Desa Margerejo, kecamatan Kota Bumi Utara-Kabupaten Lampung Utara.

    “Pelatihan ini bertujuan untuk membangun perspektif gender dan HAM yang diperlukan dalam mendampingi kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.”

    “Selain itu juga memberikan pengetahuan hukum dasar yang meliputi pengenalan tentang sistem hukum, proses pembuatan hukum, serta meningkatkan Keterampilan terkait peran pendampingan, langkah-langkah pendampingan dalam penanganan kasus, dan teknik konseling,” jelas Sofiyan.

    Lebih lanjut dia mengungkapkan selama tahun 2018 lembaganya menerima pengaduan kekerasan terhadap perempuan sebanyak 40 kasus.

    “Dalam satu bulan di Lampung telah terjadi kekerasan terhadap perempuan 4 kasus, ini data yang nampak dipermukaan yang tidak terungkap mungkin lebih banyak lagi,” jelasnya.

    Untuk itu, masih kata Sofian guna menekan angka kekerasan pada perempuan di Lampung dibutuhkan layanan Satgas Desa guna pencegahan serta penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

    “Pelatihan ini difasilitasi Ratna Batara Munti (Pengurus LBH Apik Jakarta) dan Sely Fitriani (Direktur Eksekutif Lembaga Advokasi Perempuan DAMAR),” kata Sofiyan.

    Dandy Ibrahim

    The post Damar Gelar Pelatihan Paralegal bagi Satgas Desa appeared first on Teras Lampung.

  • Bupati Lampung Barat, Parosil Mabsus

    TERASLAMPUNG,.COM -- Malam tahun baru di Lampung Barat yang biasanya dirayakan dengan meriah, tahun ini akan dirayakan secara sederhana. Hal itu karena adanya imbauan dari Bupati Lampung Barat, Parosil Mabsus, agar warga Lampung Barat mengajak warga Lambar merayakan penderitaan warga pesisir Lampung Selatan yang baru saja menjadi korban tsunami Selat Sunda.

    "Kami mengimbau seluruh masyarakat untuk mengganti kegiatan perayaan malam tahun baru dengan kegiatan-kegiatan yang lebih bermanfaat.Sebagai wujud empati kepada saudara kita yang terkena musibah, perayaan tahun baru kali ini ditiadakan dan  diganti dengan acara seperti pengajian dan doa bersama," kata Parosil, Sabtu, 29 Desember 2018.

    Bupati Parosiljuga meminta seluruh camat, lurah,dan para peratin (kepala desa) untuk mengimbau masyarakatnya agar tidak merayakan malam tahun baru dengan kegiatan-kegiatan yang dapat merugikan masyarakat itu sendiri.

    The post Prihatin Tsunami Selat Sunda, Bupati Lambar Ganti Perayaan Tahun Baru dengan Pengajian appeared first on Teras Lampung.

  • Jam dinding jadul yang menunjukkan pukul 21.30 WIB dimana tepat terjadinya gelombang tsunami yang menghantam ratusan rumah di wilayah pesisir Kalianda, Lampung Selatan. Jam didnding itu, berada di reruntuhan bangunan rumah milik Wahid (50), warga Desa Way Muli, Kecamatan Rajabasa.

    Zainal Asikin | Teraslampung.com

    LAMPUNG SELATAN -- Jumat sore, 28 Desember 2018,di Desa Way Muli, Wahid (50)  terlihat mengais-ngais barang di antara reruntuhan bangunan rumahnya yang rata dengan tanah. Memang sudah tidak ada barang di rumahnya yang tersisa.Namun, pria yang sehari-hari bekerja sebagai distributor bakso itu berharap masih ada satu-dua barang yang mungkin berharga untuk bisa ditemukan.

    Saat sedang membolak-balik puing, tiba-tiba matanya melihat jam berbentuk kotak yang biasanya terpasang di dinding rumahnya. Sebelum musiban tsunami Selat Sunda menerjang rumahnya pada Sabtu malam, 22 Desember 2018, jam itu masih menempel di dinding ruang tamunya.

    Wahid kemudian memungut jam dinding dengan warna latar putih itu. Jam dinding jadul itu kacanya sudah pecah. Mesinnya mati. Hal itu tampak dari tidak bergeraknya jarum pendek dan jarum panjang jam tersebut. Dalam kondisi mati, jarum panjang dan jarum pendek jam itu menunjukkan pukul 9.30 atau pukul 21.30 WIB. Itulah saat yang diyakini sebagai momen tsunami di Selat Sunda pada 22 Desember terjadi.

    Desa Way Muli adalah desa di Lampung Selatan yang kondisinya paling parah akibat terjangan gelombang tsunami pada Sabtu malam,22 Desember 2018.  Tidak hanya banyak rumah yang hancur dan rata dengan tanah. Di desa itu juga banyak warga yang meninggal akibat tsunami.

    Saat gelombang tsunami menghantam rumahnya, Wahid sedang membuat bakso.

    [caption id="attachment_124878" align="aligncenter" width="640"]Wahid (50), warga Desa Way Muli saat mengais barang-barang berharga miliknya di reruntuhan bangunan rumah miliknya yang sudah rata dengan tanah  Wahid (50), warga Desa Way Muli saat mengais barang-barang berharga miliknya di reruntuhan bangunan rumah miliknya yang sudah rata dengan tanah[/caption]

    “Ya memang benar mas, karena saat kejadian gelombang tsunami itu pukul 21.30 WIB dan saya sedang membuat bakso. Jam dinding ini tadinya tidak mati, ya rusaknya ini karena terimpa bangunan saat gelombang tsunami itu merobohkan rumah saya ini makanya mati,”kata Wahid saat ditemui Teraslampung.com di lokasi, Jumat 28 Desember 2018.

    Dikatakannya, meski sudah tertimbun dengan reruntuhan bangunan rumah, dirinya berusah mencari barang-barang yang diperkirakan masih bisa terpakai yang ia gunakan untuk usaha membuat bakso.

    “Usaha saya membuat makanan bakso, dan saya yang menyuplai bakso ke seluruh pedang bakso yang ada di wilayah Way Muli ini,”ungkapnya.

    Berdasarkan data yang dihimpun, pasca terjadinya gelombang tsunami yang terjadi pada Sabtu malam 22 Desember 2018 lalu, lokasi paling terparah yang terkena dampak gelombang tsunami itu adalah Desa Way Muli, Way Muli Timur dan Kunjir, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan.

    Selain ketiga desa tersebut, wilayah lain yang terkena dampak gelombang tsunami itu adalah Desa Sukaraja, Canti, PPI BOM dan Pulau Sebesi. Kemudian, Desa Suak, Kecamatan Sidomulyo dan Pulau Legundi, Kabupaten Pesawaran.

    The post Inilah Saksi Bisu Saat Tsunami Selat Sunda Menghantam Pesisir Lampung Selatan appeared first on Teras Lampung.

  • Ifan Seventeen dan para penolongnya (instagram @ifanseventeen)

    TERASLAMPUNG.COM -- Musibah tsunami Selat Sunda  pada Sabtu malam, 22 Desember 2018, masih banyak meninggalkan kisah. Salah satunya kisah terkait vokalis Band Seventen yang selamat dari kejadian, Ifan Seventeen.

    Di unggahan terbaru di Instagramnya, misalnya, Ifan Seventeen posting 3 buah foto. Tak sepert sebelumnya yang selalu menampilkan kebersamaannya dengan mendiang isterinya yang menjadi korban, kali ini Irfan menampilkan foto dirinya dengan dua sosok pria dan sebuah kotak berukuran sedang.
    Ifan Seventeen dan para penolongnya (instagram @ifanseventeen) Dalam keterangan fotonya, Ifan menuliskan:

    Sebenernya Allah mengirimkan tiga penyelamat waktu bencana kemarin. Yang pertama, kotak hitam ditengah yang Allah kirimkan sebagai penyambung nyawaku saat aku terkatung2 ditengah laut selama 2 jam, dengan jarak hampir 1km dari bibir pantai bersama 3 orang lainnya Walaupun sudah setengah mengapung, tapi masih mampu menjadi sandaran jari-jari kami saat kami benar2 kelelahan dan kehabisan nafas

    Yang kedua dan ketiga adalah mas @episoemarna (kanan) dan bang @yusrankiyut (kiri), pertemuan tak sengaja di tengah jalan dan di ruang igd rumah sakit, ditengah kebingunganku, tanpa kendaraan, tanpa arah, tanpa uang sepeserpun yang aku pegang waktu itu.

    Dengan keadaan yang tidak saling kenal, mereka dengan ikhlas memberikan waktu mereka 2 hari full, dari mengantarkanku kemanapun, memberikanku makanan, meminjamkan sarung dan pakaian, tas, obat2an, jaket yang mereka pakai saat aku kedinginan, menyebarkan data kepada relawan tentang ciri-ciri istriku, sampai memberikan support moril dalam proses pencarian istri dan drummerku selama disana. Mas Epi, bang Yusron, hanya Allah yang bisa membalas kebaikan mas Epi dan bang Yusron, ga akan cukup aku yang ngebales

    Ya Allah ya Tuhanku, terimakasih atas kesempatan yang telah Engkau berikan, semoga semua yang selamat selalu dalam lindungan Allah SWT. Dan semua yang telah wafat diterima disisiMu yang paling mulia ya Allah, Al-fatihah.

    Sebelumnya Ifan Seventeen juga menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa - Keluarga Mahasiswa (BEM KM) Institut Pertanian Bogor (IPB), yang telah membantunya pada malam kejadian tsunami yang melanda Selat Sunda, pada Sabtu, 22 Desember 2018 malam.

    Ucapan terima kasih tersebut diunggah melalui laman media sosial Instastory miliknya, Kamis. Dalam laman Instastory miliknya Ifan menulis "Aku lupa ucapin makasih buat temen2 BEM KM IPB yang lagi 'farewell' di sekitar kejadian, malah mutusin jadi relawan dadakan".

    Tulisan berikutnya, "Makasih udah kasiin pulsanya buat nelfon ngabarin orang rumah pertama kalinya, udah numpangin 'pick up'-nya hujan2 sama2, udah kasih 'support' pas di sana makasih ya temen2", ucap Ifan Seventeen.

    Tempo.co |Teras.id |Instagram

    The post Jadi Korban Tsunami, Inilah 3 Penyelamat Ifan Seventeen appeared first on Teras Lampung.

  • Warga yang terkena dampak gelombang tsunami di pesisir Kalianda, Lampung Selatan yang memilih tetap mengungsi di lereng kaki gunung rajabasa.menggunakan tenda terpal seadanya.

    Zainal Asikin | Teraslampung.com

    LAMPUNG SELATAN -- Sepekan pasca-tsunami Selat Sunda di wilayah pesisir Kalianda Lampung Selatan pada Sabtu 22 Desember 2018 malam, ratusan pengungsi warga Desa Sukaraja, Way Muli dan Way Muli Timur, Kecamatan Rajabasa memilih tetap bertahan di pengungsian di kaki lereng Gunung Rajabasa.

    Hal tersebut dikarenakan, masih trauma jika terjadi adanya tsunami susulan mengingat kejadian gelombang tsunami yang menghantam rumah mereka hingga porak-poranda dan rata dengan tanah. Selain itu juga, rasa kekhawatiran mereka dikarenakan Gunung Anak Krakatau (GAK) masih menunjukkan aktivitasnya.

    Pantauan teraslampung.com di lokasi pengungsian, ratusan warga Desa Sukaraja, Way Muli dan Way Muli Timur mulai dari orangtua, anak-anak dan balita enggan turun dari lereng kaki gunung rajabasa dan memilih tetap bertahan di tenda-tenda pengungsian sederhana yang hanya terbuat dari terpal meski harus menahan dingin.

    “Saya masih takut untuk turun dari kaki gunung rajabasa ini, ya masih trauma kalau inget kejadian gelombang tsunami. Apalagi Gunung Anak Krakatau (GAK) masih aktif, jadi takut kalau ada tsunami susulan makanya saya memilih tetap bertahan di sini meski dengan tenda terpal seadanya. Kalau malam, terasa dingin sekali soalnya tendanya kan nggak ada tutupnya depan dan belakang,”kata Bakri (48), warga Dusun Pangkul, Desa Sukaraja, Rajabasa kepada teraslampung.com saat ditemui di tenda tempatnya mengungsi di lereng kaki gunung rajabasa, Sabtu 29 Desember 2018.

    Bakri menuturkan, gelombang tsunami tersebut, telah meluluhlantakkan bangunan rumahnya dan juga perahu miliknya yang biasa ia gunakan sehari-heri untuk usaha mencari ikan di perairan pesisir Kalianda.

    “Rumah saya hancur dan sudah rata dengan tanah, dan perahu juga hancur. Semua isi yang ada di dalam rumah, tidak ada yang bisa diselamatkan sama sekali. Ya alhamdulillah, dua hari setelah kejadian itu, dapat bantuan pakaian dan makanan dari para relawan,”ucapnya.

    Menurut pria yang kesehariannya sebagai nelayan ini juga mengatakan, saat peristiwa gelombang tsunami, beruntung ia bersama istri dan anak-anaknya selamat dari peristiwa itu meski harus berlarian sampai terjatuh untuk menyelamatkan diri menuju kaki lereng gunung rajabasa.

    “Saat kejadian itu, sama sekali tidak ada tanda-tandanya kalau mau terjadi tsunami. Tiba-tiba saja air langsung masuk rumah, lalu datang gelombang tinggi. Malam itu, saya langsung lari sama keluarga sembari teriak ada tsunami menuju ke dataran tinggi gunung rajabasa,”ungkapnya.

    Keesokan harinya, Minggu pagi 23 Desember 2018, lanjut Bakri, barulah ia mencoba turun dari lereng kaki gunung untuk melihat rumahnya. Saat dilihatnya, bangunan rumah miliknya sudah rata dengan tanah. Menurunya, ada juga beberapa rumah milik warga lainnya yang rusak dihantam gelombang tsunami itu.

    “Saya berharap supaya cepat ada kepastian kalau situasinya benar-benar sudah aman, agar kami tidak merasa ketakutan dan sampai kapan harus menunggu dan mengungsi seperti ini,”terangnya.

    Hal senada juga dikatakan oleh warga lainnya, Marwiyah (47), warga Desa Sukaraja, Kecamatan Rajabasa saat di temui di tenda pengungsiannya. Meski sebagian rumah miliknya hancur diterjang gelombang tsunami, namun ia juga masih mengalami trauma dan memilih untuk tetap mengungsi di lereng kaki gunung rajabasa meski hanya dengan tenda seadanya.

    “Masih takut kalau mau turun ke bawah lihat kondisi rumah, ya takutnya kalau ada tsunami susulan aja. Apalagi kabarnya, GAK masih aktif makanya saya tetap disini saja biar aman,”ungkapnya.

    Sementara menurut Sumartijo (60), warga Desa Way Muli, Kecamatan Rajabasa mengatakan hal serupa, bahwa ia bersama istri dan kedua anaknya yang selamat dari peristiwa gelombang tsunami itu masih merasakan ketakutan dan trauma jika terjadi tsunami susulan.

    “Sampai saat ini, terus terang saja kami sekeluarga masih merasa takut dan trauma. Makanya kami memilih tetap bertahan di tenda pengungsian di kaki gunung rajabasa ini, ya meski hanya dengan seadanya,”ucapnya.

    Warga yang menjadi korban akibat terkena dampak gelombang tsunami yang sampai saat ini masih tetap mengungsi di dataran tinggi di lereng kaki gunung rajabasa tersebut berharap, agar kiranya segera mendapat kepastian dari pemerintah mengenai situasi terkini pasca terjadinya gelombang tsunami dan benar-benar dinyatakan aman.

    The post Khawatir Tsunami Susulan, Ratusan Warga Pesisir Kalianda Bertahan di Gunung Rajabasa appeared first on Teras Lampung.

  • Menpora Imam Nahrawi dalam kunjungan di Lampung, 16 Mei 2016

    Komisi Pemberantasan Korupsi memastikan akan memeriksa Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi dalam kasus dugaan korupsi dana hibah Kemenpora. Namun, KPK belum menyebut kapan Imam akan diperiksa.

    "Oh kalau pemeriksaannya pasti, pasti diklarifikasi, pasti diperiksa pasti," kata Ketua KPK Agus Rahardjo di kantornya, Jumat, 28 Desember 2018.

    Rencana pemeriksaan terhadap Imam dilakukan menyusul terkuaknya kasus suap dalam penyaluran dana hibah dari Kemenpora ke Komite Olahraga Nasional Indonesia. KPK menyangka ada kesepakatan antara Kemenpora dan KONI untuk mengalokasikan fee sebesar 19,13 persen, yakni Rp 3,4 miliar.

    Dalam kasus tersebut, lima orang ditetapkan menjadi tersangka, yakni Sekretaris Jenderal KONI Ending Fuad Hamidy dan Bendahara Umum KONI Jhonny E. Awuy sebagai tersangka pemberi suap. Sementara yang menjadi tersangka penerima suap adalah Deputi IV Kemenpora Mulyana, pejabat pembuat komitmen di Kemenpora, Adhi Purnomo dan Staf Kementerian Kemenpora Eko Triyanto.

    KPK menduga Adhi Purnomo dan Eko menerima suap sedikitnya Rp 318 juta dari pengurus KONI terkait penerimaan dana hibah dari pemerintah yang diberikan melalui Kemenpora. Sementara, KPK menyangka Mulyana menerima duit suap dalam kartu ATM sebanyak Rp 100 juta. KPK juga menduga Mulyana telah menerima 1 unit mobil Toyota Fortuner pada April 2018, Rp 300 juta pada Juni 2018 dari Jhonny E. Awuy dan 1 telepon genggam Samsung Galaxy Note 9 pada September 2018.

    Dalam proses penyidikan kasus tersebut, KPK juga menggeledah ruang kerja Imam Nahrawi pada 20 Desember 2018. KPK menyita dokumen dan proposal terkait dana hibah dari ruang kerja Imam. KPK menggeledah ruangan Imam sebab mekanisme pengajuan proposal dana hibah mesti melalui Menpora.

    Tempo.co

    The post KPK akan Periksa Menpora Imam Nahrawi dalam Kasus Dana Hibah appeared first on Teras Lampung.

  • Dampak tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018 di Desa Pulau Sebesi

    Pada Kamis, 27 Desember2018 sepasang remaja warga Bandarlampung dihujat dan terancam diproses hukum karena menunjukkan rasa tidak memiliki empati terhadap para korban tsunami Selat Sunda di wilayah pesisir Kalianda, Lampung Selatan.

    Dilihat dari gayanya, sepasang remaja itu bukan berasal dari golongan keluarga susah. Dengan enteng mereka mengatakan tidak perlu membantu korban tsunami di Kalianda.

    Celotehan yang mungkin sekadar bercanda atau iseng langsung menuai reaksi publik dunia maya. Reaksi begitu cepat ketika ada aksi yang menurut tata krama masyarakat tidak patut.

    Mungkin benar anak remaja itu salah dan layak menerima 'ganjaran'. Namun, sebagian dari kita acap tidak menyadari bahwa sebagian dari kita juga kerap kehilangan rasa empati dalam topik bahasan yang sama. Dalam topik tentang musibah tsunami Selat Sunda, banyak yang berpangku tangan sembari rajin menyebarluaskan 'perang opini' soal siapa presiden Indonesia paling peduli bencana,

    Ada pula bombardir foto dan meme bernada olok-olok tentang kepala negara yang datang menyambangi lokasi tsunami 'hanya untuk berselfie ria'. Terasa mak nyus ketika diimbungi dengan kesaksian korban yang marah-marah karena 'kelakuan presiden' yang hanya suka pencitraan. Bencana jadi perbincangan pro-kontra seolah-olah di negara ini isinya cuma kecebong dan kampret yang selalu berseteru memperebutkan kebenaran dan cap paling  hebat.

    Yang 'berantem' bukanlah cuma para remaja. Pembela mati-matian Jokowi dan Prabowo dalam Pilpres 2019 dan hobi 'mengampretkan' dan 'mencebongkan' lawan adalah orang-orang dewasa juga.

    Mereka -- orang--orang dewasa-- juga tanpa rasa sungkan dan malu-malu lagi mempertontonkan laku lajak yang tidak sepantasnya mereka lakukan karena profesi atau jabatan yang melekat diri mereka. Agak lucunya, sikap lajak itu hanya tersebab oleh pilihan politik.

    Itu hanya satu contoh betapa saat ini sarkasme, hilangnya rasa empati, lenyapnya rasa tenggang rasa dan saling menghormati tidak melulu dialami kelompok usia remaja.

    Maka itu, khusus bagi kita yang sudah tidak muda lagi dan masuk dalam barisan orang terhormat karena profesi dan jabatan, ada baiknya juga berintrospeksi sebelum 'menghajar' abege dengan cap 'kurang ajar' dan tidak punya empati. Dari mana sepasang remaja itu bersikap nir empati seperti itu terhadap saudara-saudara kita yang sedang dirundung musibah?

    Di luar soal sepasang remaja yang nir empati terhadap korban tsunami, saya masih yakin masih banyak remaja yang hati nurani 'terasah'. Mereka bergerak tanpa dikomando orang tua mereka atau guru dan dosennya untuk mengumpulkan donasi yang akan mereka sumbangkan kepada para korban tsunami Selat Sunda. Hal itu bisa kita lihat di sejumlah tempat keramaian atau di sekitar lampu pengatur lalu lintas di Bandarlampung dan beberapa daerah di Indonesia.

    Oyos Saroso H.N.

     

    The post Tsunami Nir Empati appeared first on Teras Lampung.

  • TERASLAMPUNG.COM -- Perilaku tak terpuji yang ditunjukkan sepasang anak baru gede terhadap korban tsunami Selat Sunda di Kalianda di siaran langsung instagram membuat marah warganet. Hujatan hingga ancaman dibunuh melalui komentar di medsos pun bertebaran.

    Sejumlah pihak menyayangkan sikap sepasang anak baru gede (abege) yang tidak menunjukkan rasa empati kepada para korban tsunami tersebut.

    "Orang tuanya selama ini ngasih makannya apa ya?" tulisa seorang warganet di dinding akun Facebooknya.

    Selain panen hujatan, remaja pria pemilik akun instagram @kelvinyudatama itu disatroni puluhan warga, Kamis siang, 27 Desember 2018). Namun, saat sejumlah warga mendaangi rumahnya, rumah yang terlihat megah di bilangan Kemiling, Bandarlampung itu tampak sepi.

    Tidak lama kemudian, muncul video permintaan maaf dari Kelvin perihal kelakuannya yang tidak patut di medsos. Meskipun sudah minta maaf, banyak warganet meminta polisi tetap melakukan proses proses hukum. Alasannya,ujaran kebencian bukanlah delik aduan sekaligus memberikan pelajaran bagi remaja terrsbut.

    Penelusuran Teraslampung menunjukkan bahwa Kelvin menamatkan SMA di sebuah sekolah swasta favorit di Bandarlampung. Ia kemudian melanjutkan ke Fakultas Hukum Unila. Namun, kabarnya ia sudah jarang masuk kuliah lagi.

     

    The post Rumahnya Disatroni Warga, Abege yang Nyinyir terhadap Korban Tsunami Ini Minta Maaf appeared first on Teras Lampung.

  • TERASLAMPUNG.COM -- Kabar duka kembali datang dari dunia musik tanah air. Musikus Dian Pramana Putra meninggal setelah berjuang melawan penyakit leukimia yang dideritanya. Kabar itu beredar di kalangan awak media.

    Deddy Dukun, rekan duet Dian Pramana Putra di grup 2D, membenarkan kabar tersebut. Deddy mengatakan, sahabatnya meninggal dunia sekitar pukul 20.05 WIB. "Iya benar (meninggal), jam 8 lewat 5," kata Deddy Dukun saat dihubungi lewat sambungan telepon, Kamis, 27 Desember 2018.

    Sementara ini jenazah Dian disemayamkan di rumah duka, di Kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Saat ini Deddy sendiri sedang menuju rumah duka, dan akan menginformasikan lebih lanjut tentang proses pemakaman Dian. "Belum tau, ini baru mau otw (on the way) ke rumahnya. Nanti saya kabarin lagi," ujar Deddy.

    Sekadar informasi, bakat musik Dian Pramana Putra mengalir dari ayahnya yang juga seorang pemusik jazz. Dalam karier musiknya, Dian sempat meraih beberapa penghargaan festival cipta lagu remaja. Ia juga pernah berduet dengan Deddy Dukun yang terkenal dengan panggilan grup 2D.

    Tempo.co | Tabloid Bintang

    The post Musikus Dian Pramana Putra Tutup Usia appeared first on Teras Lampung.

  • Erupsi Gunung Anak Krakatau yang disertai kilat petir terlihat jelas dari Desa Kunjir Lampung Selatan.
  • TERASLAMPUNG.COM -- Seorang pemilik akun Facebook menyebarluaskan beberapa foto letusan dahsyat yang disebutnya sebagai "letusan Gunung Anak Krakatau terbaru", pada Jumat malam, 27 Desember 2018.

    Beberapa foto disebarluaskan di medsos disertai keterangan "malam ini saudaraku mengungsi", tetapi tidak disertai foto itu milik siapa, yang menjepret siapa, atau sumbernya dari mana. Pengunggah foto di medsos itu seolah ingin mengatakan bahwa foto-foto itu adalah hasil jepretannya malam ini (27 Desember 2018).

    Memang benar, pada Kamis siang, 27 Desember 2018, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menaikkan status Gunung Anak Krakatau (GAK) dari  Waspada menjadi Siaga. Artinya, kondisi Gunung Anak Krakatau makin berbahaya karena ada peningkatan erupsi.Namun, PVMBG maupun BMKG tidak melansir foto dahsyatnya letusan Gunung Anak Krakatau dengan lava pijar merah menyala, kilat menyambar, dan gumpalan abu vulkanik hitam pekat membubung tingi ke atas dari kawasnya pada Kamis malam (27 Desember 2018).

    Kalau foto itu benar-benar nyata, jelas warga di sekitar Gunung Anak Krakatau di Lampung dan Banten harus makin waspada.

    Teraslampung.com berusaha menanyakan kepada pemilik akun Facebook yang menyebarluaskan foto "Gunung Anak Krakatau meletus dahsyat" itu soal kebenaran foto tersebut. Namun, pemilik akun itu tidak menjawab. Ia terlihat sibuk menjawab pertanyaan lain soal saudara-saudaranya yang mengungsi malam tadi (27 Desember 2018) karena letusan Gunung Anak Krakatau yang dahsyat itu.

    Penasaran dengan makin masifnya penyebarluasan beberapa foto yang diklaim sebagai foto letusan Gunung Anak Krakatau, Teraslampung.com kemudian melakukan pengecekan ke BMKG, PVMBG, dan Google. Hasilnya suduh mengecewakan: beberapa foto yang disebut sebagai letusan Gunung Anak Krakatau itu adalah palsu alias bukan foto letusan Gunung Anak Krakatau.

    Pertama yang Teraslampung.com cek adalah foto yang menjadi ilustrasi tulisan ini. Foto tersebut sangat dahsyat dan indah. Namun, kami meyakini bahwa itu bukanlah foto Gunung Anak Krakatau. Penelusuran Teraslampung.com menyimpulkan bahwa itu adalah foto letusan Gunung Puyehue di Chile hasil jepretan wartawan foto kantor berita EPA, Daniel Basualto.

    Foto kedua yang kami cek adalah gambar di bawah ini yang juga diklaim sebagai letusan Gunung Anak Krakatau pada Kamis malam, 27 Desember 2018, dan disebarluaskan di medsos:

    [caption id="attachment_124793" align="aligncenter" width="640"] Erupsi Gunung Rinjani (Foto By Oliver Spalt)[/caption]

     

    Foto letusan gunung berapi karya Oliver Spalt tersebut lumayan terkenal dan banyak dijadikan ilustrasi tulisan tentang gunung berapi di banyak media berbahasa asing. Sayangnya, banyak media asing yang juga tidak memberikan keterangan bahwa itu adalah foto Gunung Rinjani karya Oliver Spalt.

    Foto ketiga yang diklaim sebagai letusan Gunung Anak Krakatau yang kami cek adalah foto berikut ini:

    [caption id="attachment_124795" align="aligncenter" width="640"] Foto letusan Gunung Sakurajima di Jepang pada 2013 karya Martin Rietze/APOD.[/caption]

    Bersamaan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau yang makin sering, tiga hari terakhir foto ini beredar di medsos dan oleh para penyebarnya diklaim sebagai foto erupsi Gunung Anak Krakatau terkini.

    Orang awam mungkin akan percaya bahwa foto di atas merupakan foto erupsi Gunung Anak Krakatau. Apalagi si penyebar foto tanpa ragu menyebutkan keterangan "Di Merak, Cilegon, Banten". Si penyebar foto di medsos seolah ingin mengabarkan bahwa ia menjepret gambar itu dari wilayah Banten atau setidaknya dalam perjalanan di atas kapal dari atau menuju Merak, Banten.

    Foto letusan Gunung Sakurajima di atas juga termasuk sangat terkenal. Di Google sangat mudah ditemui karena menjadi koleksi foto para kolektor foto dan dipakai sebagai ilustrasi beberapa peniliti dan wartawan.

    Para penyebar foto palsu letusan Gunung Anak Krakatau itu maksudnya sekadar mau memberi informasi bahwa saat ini warga Lampung dan Banten harus waspada karena Gunung Anak Krakatau sedang rajin erupsi. Namun, dengan menyebarluaskan foto-foto palsu itu sebenarnya sudah merugikan masyarakat. Selain berbohong, menyerbarluaskan foto-foto palsu letusan dahsyat Gunung Anak Krakatau hanya membuat masyarakat yang menjadi korban tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018 makin resah. Warga di wilayah pesisir Lampung dari Bandarlampung, Pesawaran, hingga Lampung Selatan dan Tanggamus pun akan makin resah.

    Jika tidak memiliki foto tentang aktivitas Gunung Anak Krakatau lebih baik tidak usah mencari-cari foto letusan gunung api dan menyebarluaskan ke medsos dengam mengklaimnya sebagai letusan Gunung Anak Krakatau. Seperti dikatakan pejabat BMKG, lebih baik publik mempercayai gambar dan video tentang aktivitas Gunung Anak Krakatau yang bersumber dari PVMBG dan BMKG.

    Oyos Saroso H.N.

    The post Foto Palsu Letusan Gunung Anak Krakatau Banyak Beredar di Medsos, Ini Contohnya appeared first on Teras Lampung.

  • Rahmat Mirzani Djausal

    TERASLAMPUNG.COM -- Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga hari kelima pencarian pasca tsunami Selat Sunda tercatat 430 orang meninggal dunia, 1.495 luka-luka, 159 orang hilang, dan 21.991 mengungsi. Korban jiwa terbanyak di Banten berjumlah 315 orang, sedangkan Lampung 115 korban jiwa.

    Tsunami Selat Sunda berbeda dengan tsunami kebanyakan yang diawali gempa tektonik, hal tersebut dijelaskan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) tsunami Selat Sunda diakibatkan aktivitas Vulkanik Gunung Anak Krakatau. Di Indonesia sistem peringatan dini masih terbatas pada tsunami yang diakibatkan gempa tektonik, Sehingga pada saat tsunami Selat Sunda pada Sabtu (22/12/2018) BMKG tidak mengeluarkan peringatan dini tsunami.

    Menangapi mitigasi bencana tsunami Selat Sunda, Calon Anggota Legislatif DPRD Provinsi Lampung Dapil Bandar Lampug menyanyangkan ketidaksiapan institusi-intitusi yang berkaitan dengan bencana. Bahkan pada saat kejadian institusi berwenang simpang siur dalam memberikan informasi, bukti mitigasi bencana di Indonesia masih lemah.

    "Kita sangat menyayangkan kesimpang siuran informasi dari institusi yang mengurusi mitigasi bencana. Padahal secara geografis Indonesia masuk wilayah cincin api Asia Pasifik yang rawan bencana vulkanik dan tektonik seharusnya kita dapat belajar dari peristiwa letusan Gunung Krakatau 1883 yang juga menimbulkan tsunami," jelas Rahmat Mirzani Djausal pada wartawan di Bandar Lampung, Kamis (27/12/2018).

    Caleg Partai Gerindra tersebut menambahkan mitigasi bencana merupakan persoalan serius karena menyangkut banyak nyawa, kedepan pemerintah harus serius baik secara kordinasi antar lembaga maupun perencanaan penanganan bencana.

    "Pemerintah pusat atau daerah punya peran penting dalam meminimalisir dampak bencana, karena prinsipnya tidak ada yang mau bencana, namun ketika datang kita harus siap," tegasnya.

    The post Rahmat Mirzani Djausal Minta Pemerintah Perkuat Mitigasi Bencana appeared first on Teras Lampung.

  • TERASLAMPUNG.COM -- Caleg Partai Gerindra untuk DPRD Provinsi Lampung dapil Bandarlampung, Andika Wibawa, melakukan sosialisasi di Kecamatan Sukabumi, Rabu malam (26/12).

    Dalam sosialisasi itu dia banyak mendengar keluhan para ibu dari Gang Pubian, Kecamatan Sukabumi soal harga-harga kebutuhan pokok yang semakin mahal.

    “Para ibu di sana curhat masalah harga kebutuhan pokok yang mahal yang berakibat pada meningkatnya pengeluaran sementara pemasukan tidak berubah,” jelas Ketua DPC Gerindra Kota Bandarlampung itu.

    Selain soal harga-harga kebutuhan agar bisa distabilkan, para ibu juga mengeluhkan sulitnya layanan JKN BPJS.

    “Ibu-ibu yang datang di acara sosialisasi itu juga mengungkapkan layanan BPJS yang sulit,” kata Andika.

    Selanjutnya anggota DPRD Provinsi Lampung dari Komisi V itu juga mengungkapkan masih ada ibu-ibu yang bingung saat hendak mencoblos pada bulan April mendatang.

    “Mungkin karena banyak ya..ibu-ibu bingung cara mencoblosnya, pada kesempatqn itu saya jelaskan cara mecoblos DPRD kota/provinsi/RI, DPD serta presiden. Ini juga kan kewajiban para caleg,” jelas Andika Wibawa.

    Terakhir kata Ketua DPC Siliwangi itu dia minta di doakan serta dukungan dari para ibu di Gang Pubian agar bisa kembali diberikan amanah dan tugasnya bermanfaat bagi masyarakat Lampung.

    “Selain silahturahmi saya minta doa dan dukungan supaya bisa kembali mendapat amanah dari masyarakat,” tutup Andika Wibawa.

    Dandy Ibrahim

    The post Pemilu 2019, Andika Wibawa Sosialisasi di Kecamatan Sukabumi appeared first on Teras Lampung.

  • Baru-baru ini beredar video dua remaja sedang mekukan siaran langsung (live Streaming) di media sosial Instagram  atas nama @kelvinyudatama. Dalam live streaming tersebut kedua remaja, pria dan wanita sedang siaran di dalam mobil mengeluarkan kalimat tidak baik dan TIDAK PANTAS terhadap duka bencana tsunami yang menimpa Lampung Selatan. Latar dan gaya mereka berbicara menunjukkan keduanya tampak seperti seperti anak baru gede (abege) kelas menengah yang berjuis (borju).

    Berikut sikap Lembaga Bantuan Hukum Bandarlampung terkait ulah dua abege tersebut:

    LBH Bandar Lampung sangat menyayangkan terhadap perbuatan kedua remaja tersebut, bahwa perkataan tersebut tidak seharusnya keluar dari mulut kedua remaja itu, apa lagi ucapannya diunggah melalui media social, dimana saat ini bukan saja Lampung Selatan yang sedang berduka tetapi seluruh Masyarakat Lampung pada umumnya dengan adanya bencana Tsunami yang melanda Lampung Selatan.

    LBH Bandar Lampung mendorong Penyidik Subdit Cybercrime Polda Lampung untuk cepat melakukan penyelidikan terhadap peristiwa tersebut dengan baik, apakah dalam peristiwa yang beredar melalui media social Instagram tersebut terpenuhi atau tidak unsur tindak pidananya sebagaimana  diatur dalam KUHAP unsur tindak pidana Pasal 156, 157, 310, dan 311 KUHP serta Pasal 28 ayat (2) jo Pasal 45 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

    Bahwa akibat adanya dugaan ujaran kebencian tersebut membuat masyarakat yang sedang tertimpa bencana geram dan marah akibat tindakan tersebut. Maka dari itu LBH Bandar Lampung menghimbau agar masyarakat tidak berbuat main hakim sendiri (eigen rechting) dan biarkan aparat penegak hukum yang berwenang untuk melakukan penyelidikankan lebih lanjut sesuai dengan proses hukum yang berlaku (due process of law).  Bahwa ditengah suasana yang tengah berduka akibat bencana tsunami yang menimpa Lampung khususnya daerah Lampung Selatan jangan sampai masyarakat terprovokasi akibat tindakan tersebut dan tidak kembali menyebarluaskan dugaan video ujaran kebencian tersebut karena dapat menimbulkan gejolak di masyarakat yang seharusnya mengundang empati rasa kemanusiaan untuk membantu sesama yang sedang tertimpa musibah.

    LBH Bandar menghimbau kepada masyarakat untuk dapat menggunakan media social secara bijak dan cerdas, Kepolisian Daerah Lampung dan Pemerintah Provinsi Lampung juga harus mampu untuk memberi himbauan kepada masyarakat agar dapat menggunakan media social secara bijak dan lebih cerdas.

    Kepolisian dan Pemerintah pun harus juga mampu untuk menghentikan penyebaran dugaan ujaran kebencian melalui media sosial ditengah duka bencana tsunami yang melanda Lampung selatan dan Lampung pada umumnya agar tidak terjadi konflik social di tengah masyarakat akibat peristiwa yang tidak pantas tersebut.

    Direktur LBH Bandarlampung,

    Candra Muliawan

    The post Heboh Dua Abege Borju Nyinyir Terhadap Korban Tsunami di Kalianda, Ini Kata LBH appeared first on Teras Lampung.

  • TERASLAMPUNG.COM -- Pada saat seluruh warga dunia bahu-membahu meringankan beban korban dampak tsunami akibat erupsi gunung anak krakatau yang menerjang kawasan barat Pulau Jawa dan Pesisir Lampung, sabtu malam lalu (22/12).

    Tiba-tiba beredar viral video dua remaja sedang live streaming di media sosial Instagram, atas nama @kelvinyudatama. Dalam live streaming tersebut, terdapat dua remaja, pria dan wanita sedang siaran di dalam mobil mengeluarkan kalimat yang menyakitkan hati tentang duka bencana tsunami yang tengah melanda Lampung Selatan.

    Ketua DPD Partai Nasdem Lampung Selatan Wahrul Fauzi Sialalahi mengatakan, pernyataan mereka (pelaku) itu sangat tidak pantas dikeluarkan dalam suasana duka seperti ini.

    “Polisi harus bertindak cepat dengan menangkap pelaku perbuatan ujaran kebencian itu. Ini delik biasa bukan delik aduan, polisi tidak perlu menunggu adanya laporan dari warga,” kata Wahrul sang pengacara rakyat dalam rilisnya, Kamis (27/12).

    Menurutnya, penyidik kepolisian dapat langsung menaikan ke tahap Penyidikan dengan mempertimbangkan konten yang dianggap memenuhi unsur tindak pidana.

    Mantan Direktur LBH Bandar Lampung ini menambahkan, rasa permusuhan, kebencian atau penghinaan terhadap Golongan dapat dikenakan Pasal 156 KUHP, atau Pasal 45A ayat (2) Jo Pasal 28 ayat (2) UU No. 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU No. 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

    Sebagaimana dalam KUHP, Pasal 156 berbunyi: Barang siapa di muka umum menyatakan persaan permusuhan, kebencian atau penghinaan terhadap suatu atau beberapa golongan rakyat Indonesia, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

    Berikutnya bunyi Pasal 28 ayat (2) UU ITE, Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

    Untuk itu, Pasal 28 ayat (2) UU ITE ini secara langsung dapat dipergunakan oleh Aparat Penegak Hukum untuk menjerat pelaku yang menuliskan atau mengeluarkan pernyataan melalui media sosial tersebut.

    Sedangkan, ancaman pidana dari Pasal 28 ayat (2) UU ITE tersebut diatur dalam Pasal 45A ayat (2) UU 19/2016 yakni, Setiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1 miliar.

    Perkataan golongan dalam pasal ini dan pasal berikutnya dapat diartikan tiap-tiap bagian dari rakyat Indonesia yang berbeda dengan suatu atau beberapa bagian lainnya karena ras, negeri asal, agama, tempat, asal, keturunan, kebangasaan atau kedudukan menurut hukum tata negara.

    Pelaku juga dapat dijerat dengan menggunakan Pasal 16 Jo Pasal 4 huruf (b) ayat 1 UU No. 40 tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, (SARA).

    Etnis adalah penggolongan manusia berdasarkan kepercayaan, nilai, kebiasaan, adat istiadat, norma bahasa, sejarah, geografis, dan hubungan kekerabatan.

    Ketentuan pasal berbunyi, Setiap orang yang dengan sengaja menunjukkan kebencian atau rasa benci kepada orang lain berdasarkan diskriminasi ras dan etnis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf b angka 1, angka 2, atau angka 3, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

    Rumusan tersebut berdasarkan, Pasal 4 huruf b yaitu tindakan diskriminatif ras dan etnis berupa, menunjukkan kebencian atau rasa benci kepada orang karena perbedaan ras dan etnis yang berupa perbuatan, disebutkan dalam angka kedua yakni berpidato, mengungkapkan, atau melontarkan katakata tertentu di tempat umum atau tempat lainnya yang dapat didengar orang lain.

    Berdasarkan video yang saat ini sedang viral, terekam seorang wanita muda berambut ikal mengenakan pakaian kaos oblong hitam garis putih sedang siaran langsung bersama sang rekan, pria muda.

    Di dalam video itu, seorang pria menolak melakukan donasi ke warga Kalianda yang sedang terkena dampak bencana alam tsunami.

    “Donasi untuk Kalianda. Gua enggak mau, pokoknya Kalianda harus kena Tsunami. Woy kawan-kawan jangan kalian donasi untuk Kalianda ya, biarin aja dia orang rata ya,” ujar remaja itu.

    Dari latar belakang di dalam video itu, terlihat bahwa video live streaming tersebut diambil di kawasan Kota Bandarlampung, tepatnya di traffic light Jl. Dr. Susilo, Bandarlampung, atau sekitaran Masjid Al-Furqon.

    The post Heboh Dua Abege Borju Nyinyir Terhadap Korban Tsunami, Ini Kata Pengacara Rakyat Wahrul Fauzi Silalahi appeared first on Teras Lampung.