Pemkot Bandarlampung Tutup Lima Rumah Pemotongan Babi
TERASLAMPUNG.COM | 05/03/2022 12:37
Pemkot Bandarlampung Tutup Lima Rumah Pemotongan Babi
Pedagang hewan potong babi di Pasar Senen, Jakarta, Senin (15/2). Pemerintah mencabut larangan impor hewan babi dan produk turunannya yang diberlakukan sejak Mei 2009, menyusul merebaknya virus H1N1 atau penyakit flu babi pada 2009. TEMPO/Subekti

TERASLAMPUNG.COM, BANDARLAMPUNG.COM — Pemerintah Kota (Pemkot) Bandarlampung akhirnya menutup lima Rumah Potong Hewan (RPH) babi yang beroperasi di Kecamatan Way Halim dan Tanjungkarang Timur karena tidak memiliki izin.

Menurut Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Pemkot Bandarlampung, Tole Dailami,  penutupan RTH babi milik masyarakat itu disampaikan dalam pertemuan dengan pemilik rumah potong yang juga dihadiri Asisten Administrasi Umum, Umar, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Muhtadi serta perwakilan Polisi Pamong Praja (Pol PP), di ruang rapat asisten, Jumat siang 4 Maret 2022.

“Hasil pertemuan tadi mereka sudah tidak boleh beroperasi kembali,” kata Tole usai melapor kepada walikota.

Berikutnya Pemkot akan mencarikan jalan keluar bagi pengusaha potong babi tersebut karena RTH Way Laga hanya untuk potong sapi saja.

“Nanti kita carikan solusinya yah…secepatnya,” ujar Tole Dailami.

Sementara itu, menurut salah satu pemilik rumah potong babi di Jagabaya I Aman menjelaskan, sejak ditutupnya RPH di jalan dr Warsito Telukbetung Utara Pemkot tidak menyiapkan RPH babi, akibatnya mereka memotongnya di rumah masing-masing.

“Kami memotong di tempat kami berdasarkan izin yang dikeluarkan pada tahun 1998 yaitu surat keterangan dari Dinas Peternakan. Kami tidak tahu soal perizinan kami pikir itu saja sudah cukup,” katanya.

“Selain itu tidak ada pembinaan dari pihak-pihak terkait soal perizinan kepada kami,” tambahnya.

Dia berharap Pemkot cepat mencarikan jalan keluar karena selama usahanya ditutup ada 6 orang pegawainya menganggur.

“Kami ini sangat menjaga kebersihan tempat potong kami makanya selama ini tidak ada keluhan dari warga. Usaha saya ini sudah puluhan tahun mudah-mudahan secepatnya ada jalan keluar supaya karyawan kami tidak jadi pengangguran,” kata Aman.

teraslampung.com


BERITA TERKAIT