Berebut Tanah 1,5 Hektare, Dua Keluarga di Lampung Gelar Sumpah Pocong
TERASLAMPUNG.COM | 10/10/2019 08:40
Berebut Tanah 1,5 Hektare, Dua Keluarga di Lampung Gelar Sumpah Pocong

TERASLAMPUNG.COM — Sejak dua hari terakhir dunia maya dihebohkan dengan beredarnya video dan gambar sumpah pocong yang dilakukan dua keluarga besar di Desa Tanjungharapan, Kecamatan Margatiga, Kabupaten Lampung Timur.

Sumpah pocong sebenarnya sudah dilakukan pada Selasa kemarin 8 Oktober 2019 pukul 16.00 WIB di  sebuah masjid desa itu. Namun, hingga Selasa sore 9 Oktober 2019 warganet masih banyak yang membicarakannya. Banyak komentar bernada mempertanyakan ‘keanehan’ dan bagaimana hukumnya sumpah pocong menurut ajaran agama Islam.

BACA: Mahasiswa Baru Sosiologi Unila Meninggal Saat Diksar di Padangcermin

Sumpah pocong itu ditempuh oleh dua keluarga yang sudah lama berseteru karena masalah tanah seluas 1,5 hektare. Tanah itu terkena Proyek Bendungan Margatiga dan mendapatkan ganti rugi dari pemerintah. Masalah ganti rugi inilah yang membuat mereka tidak ada yang mau mengalah bahwa sebidang tanah seluas 1,5 adalah milik mereka.

Dua keluarga itu adalah keluarga Jailani dan keluarga M Sanusi. Mereka saling mengklaim bahwa sebuah bidang tanah di desa tersebut adalah milik mereka. Bukannya memproses masalah sengketa itu ke proses hukum positif dengan mengadukan masalah ke polisi atau mengecek keaslian kepemilikan ke Badan Pertanahan Nasional (BPN), Jailani dan Sanusi justru menempuh cara tidak lazim: sumpah pocong.

Bukan hanya Jailani dan Sanusi seorang yang ikut disumpang pocong. Orang yang masih menjadi anggota keluarga juga ikut sumpah pocong.

“Keduanya sama-sama ngotot dan saling mengklaim sebidang tanah sehingga mereka melakukan sumpah poncong ini,” kata Rahmat, warga Tanjungharapan,  Rabu (9/10/2019).

Sumpah pocong yang dipimpin seorang ustaz dari Jakarta itu dihadiri puluhan warga. Sebelum sumpah pocong dilakukan, beberapa orang terlihat membentangkan tikar di lantai masjid. Kemudian seseorang tampak menyobek kain kafan dan ditaruh di atas tikar.

Tak lama kemudian seseorang yang tampaknya berperan sebagai panitia, memanggil wakil dari dua pihak yang bersengketa untuk bersiap-siap menjalani sumpah pocong. Tak lama kemudian, Jailani dan Sanusi pun maju lalu terlentang di atas kain kafan dan siap dibungkus seperti layaknya mayat. Tiga anggota keluarga Jailani turut terlentang di samping Jailani, tanpa dibungkus kain kafan. Begitu juga Sanusi, dua anggota keluarganya tidur terlentang di samping Sanusi untuk mengikuti sumpah pocong.

BACA: KPK Juga Geledah Ruang Kantor Bupati Lampung Utara

Seorang ustaz pun kemudian memimpin prosesi sumpah pocong, sedangkan semua warga yang hadir bertindak sebagai saksi.

Berbagai literatur menyebutkan, sumpah pocong tidak dikenal dalam Islam.Bahkan banyak ulama yang menyebutkan bahwa sumpah pocing haram hukumnya dan termasuk perbuatan syirik

TERASLAMPUNG.COM


BERITA TERKAIT