Pasien Tetanus Meninggal Beberapa Hari Setelah Diobati, Perawat Jumraini Disangka Malapraktik
TERASLAMPUNG.COM | 08/10/2019 17:06
Pasien Tetanus Meninggal Beberapa Hari Setelah Diobati, Perawat Jumraini Disangka Malapraktik
Ribuan perawat berunjuk rasa di depan Kantor PN Kotabumi, Kamis, 3 Oktober. Mereka menuntut pembebasan rekan mereka, Jumraini. dari hukuman. Jumraini ditahan karena diduga melakukan malapraktik.

Kotabumi–Ribuan perawat seantero Lampung menuntut‎ pembebasan Jumraini, rekan seprofesi yang tersandung perkara dugaan malapraktik hingga menyebabkan korban meninggal dunia. Tuntutan ini disampaikan dalam demonstrasi besar-besaran di kantor Pengadilan Negeri Kotabumi dan kantor Pemkab Lampung Utara, Kamis pagi 3 Oktober 2019.

Jumraini saat ini menjadi penghuni Rumah Tahanan Kotabumi lantaran kasusnya telah dilimpahkan ke pihak Kejaksaan.

‎”Bebaskan rekan kami, Jumraini tanpa syarat karena dia tidak bersalah,” teriak Wakil Ketua Bidang Hukum Persatuan Perawat Nasional (PPNI) Lampung Utara, Ahmad Hasan dalam orasinya.

BACA: BNNP Lampung Musnahkan 16,6 Kg Sabu dan 1.140 Butir Pil Ekstasi

‎Mereka sangat berkeyakinan bahwa Jumraini tidak bersalah dalam kasus yang melilitnya sehingga dinilai tidak cukup layak untuk diteruskan ke ranah hukum. Jika persoalannya seputar perizinan maka sedianya hal tersebut masuk ke dalam ranahnya kode etik.

“Sembari menunggu dibebaskan, kami minta Jumraini dapat ditangguhkan karena kasihan harus menyusui di dalam penjara,” ‎bebernya.

Jika tuntutan mereka tidak dipenuhi, mereka mengancam akan menurunkan massa yang jauh lebih besar dari demonstrasi hari ini. Selain itu, mereka juga mengancam tidak akan mengerjakan apa yang bukan menjadi tugas pokok dan fungsi mereka (tupoksi) seperti menyuntik pasien, memasang infus, menjahit dan memberikan obat.

‎Sebenarnya semua itu bukan tugas – tugas kami. Tapi karena yang profesi tidak ada di tempat, terpaksa hal itu kami kerjakan,” jelas dia.

‎Di sisi lain, Ketua Pengadilan Negeri Kotabumi, Vivi Purnamawati mengatakan, untuk penangguhan Jumraini dapat diajukan oleh pihak pengacara saat sidang pertama digelar. Namun, untuk pembebasan yang bersangkutan, hal tersebut tidak dapat dilakukan karena kasusnya telah dilimpahkan ke Kejaksaan.

“Yang bersangkutan dapat mengajukan saksi dan bukti yang dapat meringankan dengan sebanya‎k – banyaknya,” katanya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun sementara, kasus yang melilit Jumraini bermula saat yang bersangkutan kedatangan almarhum dengan inisial A yang ingin meminta pertolongan karena terkena penyakit Tetanus. Saat itu, kaki almarhum terlihat bengkak dan suhu badan cukup tinggi.

Melihat kondisi itu, Jumraini menyarankan untuk segera dilarikan ‎ke RS. Namun, yang bersangkutan tetap meminta untuk diberikan obat sementara. Setelah dibersihkan luka dan diberi obat penurun panas, korban lantas pulang ke rumah. Sebelum pulang, Jumraini masih menyarankan almarhum untuk segera berobat ke RS.

BACA: Kapal Pera Jadi Moda Transportasi Gratis Rute Dermaga Bom – Pulau Sebesi

Sayangnya, almarhum meninggal dunia selang beberapa hari kemudian. Entah bagaimana ceritanya, persoalan ini kemudian masuk ke ranah hukum.

Hingga pukul 12.57 WIB, massa yang berjumlah sekitar 4.000 orang masih berkumpul di halaman kantor Pemkab Lampung Utara. Mereka belum akan membubarkan diri sebelum ada kejelasan mengenai tuntutan mereka.

TERASLAMPUNG.COM


BERITA TERKAIT