Dukun Palsu Cari Mangsa Lewat Facebook, Cabuli 20 Gadis di Bawah Umur
KABARPRIANGAN.CO.ID | 16/05/2019 14:50
Dukun Palsu Cari Mangsa Lewat Facebook, Cabuli 20 Gadis di Bawah Umur

PERBUATAN bejad yang dilakukan seorang warga Kecamatan Cisewu yang telah merusak kehormatan begitu banyak gadis di bawah umur kini berbuah pahit.

RG (26), kini harus berurusan dengan polisi sehingga ia tak bisa lagi leluasa memperdayai para gadis untuk dijadikan korban nafsu bejadnya.

RG pun kini harus mendekam di sel tahanan Mapolres Garut untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya serta menjalani pemeriksaan. Penyesalan yang kini dirasakannya pun kini tak berguna lagi karena hukuman berat sudah menantinya.

BACA: Bupati Tinjau Langsung TPA Pasir Bajing Garut, Tampak Kecewa

“Dari hasil pengakuan kepada petugas pemeriksa, RG menyebutkan telah mencabuli 20 gadis. Namun dari jumlah tersebut ada 8 orang yang benar-benar disetubuhinya sedangkan yang lainnya hanya diraba-raba dan digesek-gesek,” ujar Kapolres Garut, AKBP Budi Satria Wiguna saat menggelar ekspos kasus pencabulan yang dilakukan tersangka RG di Mapolres Garut, Rabu (15/5/2019).

Para gadis korban pencabulan yang dilakukan RG tutur Budi, semuanya masih di bawah umur dengan usia rata-rata antara 14-16 tahun. Dalam aksinya, RG menggunakan modus berpura-pura menjadi dukun yang bisa membantu menghilangkan kesialan.

Tersangka pun sengaja mencari korban yang tengah dilanda kegalauan karena berbagai masalah yang sedang dihadapinya, mulai dari permasalah asmara, ekonomi, serta yang lainnya melalui media sosial facebook.

Kemudian tersangka menawarkan jasa untuk membantu menghilangkan kesialan para korbannya dengan dalih ia mempunyai ilmu.

“Kepada para korbannya, tersangka mengakui mempunyai dua cara ampuh untuk mengobati mereka yakni dengan ilmu kias dan pangasal. Kias bertujuan untuk menghilangkan kesialan dan pangasal agar kejiwaan korban seperti terlahir kembali,” kata Budi.

BACA: Bawaslu Hentikan Penanganan Empat Kasus Dugaan Pelanggaran Pidana…

Dikatakan Budi, para korbannya tersebut kemudian diajaknya bertemu untuk melakukan ritual pengobatan. Dalam ritual pengobatan itu ada keharusan bagi yang mengobati maupun yang akan diobati untuk membuka baju hingga benar-benar telanjang yang diakhiri dengan perbuatan intim layaknya suami isteri.

Padahal menurut Budi, ritual tersebut hanya akal-akalan yang dilakukan tersangka agar bisa menikmati kemolekan tubuh para korbannya.

Baca selengkapnya di KABARPRIANGAN.CO.ID


BERITA TERKAIT