Turis Tiongkok di Bali, Ke Artshop Milik Pengusaha Tiongkok dan Transaksi dengan WeChat
BALIPOST.COM | 19/10/2018 11:20
Turis Tiongkok di Bali, Ke Artshop Milik Pengusaha Tiongkok dan Transaksi dengan WeChat
Ketua Divisi Bali Liang Asita Bali, Elsye Deliana (tengah) bersama tokoh pariwisata yang selama ini khusus menangani wisatawan Tiongkok gerah lantaran Bali dijual murah di negeri tirai bambu. (BP/ist)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pelaku usaha pariwisata yang tergabung dalam Bali Liang Asita Bali mengungkapkan bagaimana modus para pengusaha dan agen asal Cina menjual murah paket wisata ke Bali kepada para warga Cina.

Ketua Divisi Bali Liang (Pangsa Pasar Mandarin) Asita Bali Elsye Deliana menyebut paket wisata murah itu sebagai perjalanan berbiaya murah atau zero tour fee.

Menurut Elsye, praktek jual murah itu sudah berlangsung sejak 2-3 tahun terakhir. Ia menduga ada permainan mafia dibalik praktek yang sangat merugikan pariwisata Bali itu.

BACA JUGA: Buka TKN, Jokowi Kembali Ingatkan Indonesia Negara Besar

Ia bahkan mengungkapkan data bahwa setahun terakhir, Bali hanya dijual seharga 999 renminbi atau sekitar Rp 2 juta. Hebatnya, harga miring tersebut sudah termasuk tiket pesawat pergi-pulang, makan dan menginap di hotel selama 5 hari 4 malam.

Belakangan, Elsye menyebut, harga itu bahkan sudah turun menjadi 777 renminbi atau sekitar Rp 1,5 juta. Lalu turun lagi menjadi 499 renminbi atau sekitar Rp 1 juta dan yang teranyar 299 renminbi atau sekitar Rp 600 ribu.

“Coba dipikir, dengan Rp 600 ribu bisa dapat tiket ke Bali dan balik lagi ke Tiongkok. Dapat makan dan hotel selama 5 hari 4 malam. Jadi kualitasnya seperti apa,” keluh perempuan yang akrab disapa Meilan ini seperti dikutip dari Balipost.com Minggu 14 Oktober 2018.

Ia mempertanyakan mengapa harga serendah itu bisa sampai muncul. Ditambah lagi, wisatawan Tiongkok hanya satu hari saja diajak berkunjung ke objek wisata selama di Bali. Itupun dipilih yang murah, seperti Uluwatu. Selebihnya, mereka diajak keluar masuk artshop milik pengusaha Tiongkok pula.

Toko-toko inilah yang disebut mensubsidi wisatawan Tiongkok sehingga mendapat harga murah untuk datang ke Bali. “Namun, wisatawan wajib masuk ke toko-toko itu dan membeli barang-barang disana,” imbuhnya.

Wakil Ketua Bali Liang, Bambang Putra mengatakan, artshop-artshop milik pengusaha Tiongkok itu justru tidak menjual barang-barang kerajinan khas Bali. Tapi malah menjajakan barang-barang berbahan latex seperti kasur, sofa, dan bantal.

“Alasannya, Indonesia penghasil karet sehingga barangnya jauh lebih murah. Padahal, barang itu sebenarnya barang buatan Tiongkok juga. Ada juga toko sutra dan lainnya,” ujarnya.

BACA JUGA: Kualitas Air Danau Batur Memprihatinkan

Bambang menambahkan, pola pembayaran di toko-toko tersebut diduga memakai aplikasi WeChat dengan sistem scan barcode. Dengan kata lain, uang yang masuk dari wisatawan Tiongkok kembali lagi ke Tiongkok.

Akibatnya, Bali tidak mendapatkan keuntungan apapun, dan parahnya hanya menerima sampahnya saja. Namun lebih dari itu, dampak yang paling signifikan merugikan Bali tentu wisatawan yang merasa tertipu.

“Mereka ke Bali, tapi tidak tahu Bali. Bagi mereka, Bali itu tidak menarik. Isinya hanya toko-toko yang menjual latex karena Indonesia penghasil karet, sehingga mereka tidak akan kembali lagi,” jelasnya.

BALIPOST.COM


BERITA TERKAIT