Tempat Isolasi Tak Layak, Bisa Perparah Pasien Corona
SUARABANYUURIP.COM | 30/07/2021 10:36
Tempat Isolasi Tak Layak, Bisa Perparah Pasien Corona
Tempat Isolasi Tak Layak, Bisa Perparah Pasien Corona

SuaraBanyuurip.com - Bojonegoro - Berbagai upaya demi menekan jumlah pasien Covid-19 atau Corona terus dilakukan. Tak terkecuali kelayakan tempat isolasi bagi warga yang terinfeksi Covid-19 tidak lepas dari sorotan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Mengingat tempat isolasi juga merupakan bagian penting bagi penangangan pasien Corona atau Covid-19. Karena apabila tidak layak maka akan berakibat memperparah keadaan pasien.

Dalam rapat percepatan penanganan Covid-19 yang dilakukan DPRD Bojonegoro dengan dinas kesehatan (Dinkes) di ruang paripurna, Kamis (29/07/2021) kemarin, Wakil Ketua I DPRD Bojonegoro, Sukur Priyanto, pertanyakan kelayakan tempat isolasi terpadu (Isolter) yang disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Bojonegoro, dr. Ani Pujiningrum.

Sebelumnya Kadinkes dr. Ani menyampaikan, bahwa warga yang melakukan isolasi secara mandiri (isoman) memiliki kepatuhan yang rendah pada masa isolasi. Meskipun dalam petunjuk teknis Kemenkes dibolehkan, namun dalam pelaksanaan warga isoman tidak semuanya patuh untuk tidak berinteraksi.

"Sehingga kemudian terbentuklah Isolter," kata dr. Ani.

Sebetulnya, lanjut dr. Ani, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro sudah ada rumah isolasi, dalam istilahnya disebut rumah pemantauan. Yakni di Dander, dengan kapasitas 49 tempat tidur (TT). Kemudian Hotel Bonero terdiri 52 kamar yang bisa di isi 104 pasien. Selanjutnya asrama SMT (Sekolah Model Terpadu) sebanyak 68 kamar yang bisa terisi 124 orang.

"Bonero ini dikhususkan untuk para ibu hamil dan pasca melahirkan. Supaya memutus penularan," tandasnya.

Pasca kelahiran dari RS, ibu hamil bisa mendapat perawatan di Bonero karena sudah disediakan tenaga kesehatan (Nakes) beserta sarana prasaranya. Sebab, ibu pasca melahirkan tentunya tidak bisa mandiri sepenuhnya, karena perlu bantuan. Namun hal demikian rentan terhadap penularan.

Salah satu untuk mengantisipasi ketidakpatuhan itulah, kata dr. Ani, diperlukan isolasi terpadu. Mulai dari tingkat kabupaten sampai desa. Di tingkat desa, babinsa dan bhabinkamtibmas yang akan memobilisasi warga yang isoman. Kendalanya, warga yang isoman banyak yang tidak mau diajak ke Isolter.

"Ketiga tempat itu tadi, untuk Isolter tingkat kabupaten, nantinya kalau penuh rencana kita pakai gedung Pusdiklat," ujarnya.

Penyebutan SMT sebagai tempat isolasi oleh Dinkes, sempat dipertanyakan kelayakannya oleh pimpinan rapat, Sukur Priyanto. Karena, jika tempat isolasi tidak layak tidak membuat pasien sembuh justru bisa membuat kondisi pasien lebih parah.

Wakil Ketua I DPRD Bojonegoro beragurmen, tempat isolasi yang representatif, dan nyaman, akan mampu mempercepat pemyembuhan. Sekaligus mencegah penularan.

Sukur menambahkan, bahwa cara preventif, lebih baik daripada pengobatan. Sehingga shelter untuk isolasi, untuk pasien dengan gejala ringan atau tanpa gejala, diharapkan bisa menjadi salah satu alat pencegahan penularan.

"Namun harus diperhatikan kelayakannya, pun pengobatannya, dan perawatannya," ujar Sukur.

Politisi Partai Demokrat ini berkeyakinan, kalau shelternya representatif, dan pasien diajak bicara baik-baik, diperkirakan pasti bersedia diajak isolasi di tempat yang lebih baik. Untuk itu, dalam pertemuan berikutnya, pihaknya menginginkan bertemu tidak hanya dengan para ahli di bidang kesehatan saja, tapi juga dengan para pemangku pemerintahan.

"Tujuannya agar mampu menelurkan kebijakan yang betul-betul sesuai," tandasnya.(fin)


BERITA TERKAIT