Mitos Pesugihan Gunung Kawi dan Kisah Welas Asih Panglima Perang Pangeran Diponegoro
JATIMPLUS.ID | 14/02/2020 16:30
Mitos Pesugihan Gunung Kawi dan Kisah Welas Asih Panglima Perang Pangeran Diponegoro
Gapura pintu masuk menuju pendapa pasarean Gunung Kawi makam Eyang Djoego dan R.M. Iman Soedjono, episentrum dari Wisata Religi Gunung Kawi. Foto : Jatimplus.ID / Adhi Kusumo

Aroma dupa dan doa-doa samar terdengar ketika Tim Jatimplus.ID memasuki Pendapa Pasarean Gunung Kawi Makam Eyang Djoego dan R.M. Iman Soedjono, episentrum dari Wisata Religi Gunung Kawi. Hujan tak menyurutkan para peziarah untuk melakukan aktivitasnya. Ada yang membawa nampan berisi bunga, ada yang mengelilingi makam, ada pula yang berdoa di dalam pendapa.

Seorang petugas makam berbusana Jawa mengantarkan kami menemui R.B. Iwan Suryandoko, juru kunci makam yang juga keturunan R.M Iman Soedjono. Ia mengenakan busana jawa, duduk bersila di ruangan samping makam. Ruangan dan makam dihubungkan oleh pintu besar yang selalu terbuka sehingga kami bisa melihat dua nisan yang temaram, penuh dengan bunga tabur segar.

Pendapa Pasarean Gunung Kawi Makam Eyang Djoego dan R.M. Iman Soedjono.

Sementara di sudut ruang berbentul L itu, ada dua jam bandul besar dan beberapa jam dinding yang juga besar dan menunjukkan waktu yang tak sama mengingatkan pada jam bandul di Padhepokan Eyang Djoego, Blitar. Di meja tempat kami duduk lesehan, dua kuntum bunga pudak (bunga pandan) menyebarkan aroma khas. Aroma yang mengingatkan pada hutan tropis yang sedang berbunga.

baca juga: Gunung Kawi: Kisah Para Pencari

“Wah, Anda itu, apa-apa kok dikaitkan dengan mistis. Ini bunga pudak, diambil dari kebun sini saja. Bunga ini kan lebih praktis untuk mengharumkan ruangan dan lebih awet,” kata Iwan membuka obrolan kami tentang keberadaan pasarean ini. Mistis, magis, dan pesugihan begitu lekat dengan Gunung Kawi. Hal yang ingin ditepis Iwan dan para penjaga resmi Pasarean Kawi.

“Klarifikasi sudah puluhan kali kami lakukan kalau ada wartawan yang ke sini. Tapi begitu keluar beritanya ya tetap pesugihan. Gimana lagi?” katanya. Tawanya lepas. Tawa yang melunturkan kesan mistis di ruangan itu.

R.B. Iwan Suryandoko, juru kunci makam yang juga keturunan R.M Iman Soedjono.

Pelarian Abdi Setia Sang Pangeran

Iwan menuturkan, menurut kisah turun temurun yang ia dengar dari keluarganya, Eyang Djoego atau Raden Zakaria II merupakan salah satu panglima Eyang Dipo (Pangeran Diponegoro-red) yang tak mau menyerah pada Belanda dan tetap melanjutkan perlawan melalui syiar agama Islam.

baca juga: Gunung Kawi: Apakah Eyang Djugo Seorang Tionghoa

“Beliau menyebarkan welas asih pada sesama,” terang Iwan. Rasa welas asih (kasih sayang) pada semua makhluk ini direkam oleh trah R.M. Iman Sudjono. Diriwayatkan bahwa Eyang Djoego mengembara hingga sampai di Kesamben, Blitar. Pada masa pengembaraannya, kawasan Kesamben sedang diserang wabah penyakit. Ternak sapi banyak yang mati. Pun orang-orang banyak terserang penyakit (pada catatan lain, penyakit kolera). Pengembara itu berhasil menyembuhkan sehingga ia disegani.

“Dengan kenyataan seperti itu, masyarakat di sana, akhirnya berembug untuk menyediakan lahan secara khusus agar beliau tidak ke mana-mana. Akhirnya mondok di sana,” jelas Iwan. Pondokan itu yang kini kita kenal sebagai Padepokan Eyang Djoego di Desa Jugo, Kecamatan Kesamben, Blitar.

Padepokan Eyang Djoego di Desa Jugo, Kecamatan Kesamben, Blitar.

Pengikut Eyang Djoego semakin banyak, datang dari berbagai daerah. Tak hanya masyakarat Jawa, tetapi juga masyarakat Tionghoa. Relasi khusus dengan Tionghoa ini memberikan banyak versi penjelasan berdasarkan berbagai sumber, khususnya pustaka yang Jatimplus.ID temukan.

Baca kisah lengkapnya di JATIMPLUS.ID


BERITA TERKAIT