Kisah Nyata: 7 Hari Tinggal di Desa Penari di Kota B
JATIMPLUS.ID | 11/09/2019 11:36
Kisah Nyata: 7 Hari Tinggal di Desa Penari di Kota B

Nama Desa Penari tiba-tiba menjadi perbincangan ramai masyarakat Indonesia. Bermula dari cerita horor berjudul KKN Desa Penari yang viral di Twitter dan kemudian tersebar di grup percakapan Whatsapp.

Hingga kini setelah berminggu-minggu viral dan kini mulai mereda, banyak orang yang masih penasaran dengan Desa Penari. Dimana sesungguhnya Desa Penari berada. dalam cerita itu disebutkan Desa Penari di Kota B.

Kehebohan cerita mistis KKN di Desa Penari melemparkan kenanagan Adhi Kusumo 11 tahun lalu saat bersama dengan seorang teman berkunjung ke desa penari Seblang. Menurut cerita yang konon nyata itu, kejadiannya ada di kota B, yang langsung dikaitkan dengan Banyuwangi. Tak salah juga, karena sejak dulu kota di ujung timur pulau Jawa itu memang identik dengan hal-hal mistis.

Seperti orang Tengger yang tak mau disebut sebagai orang Jawa, pun juga penduduk asli sini lebih suka menyebut dirinya Osing, bukan Jawa. Osing merupakan leburan kata dari “Sing” yang berarti tidak, menunjukkan sikap tegas mereka dalam menolak penguasaan pihak luar terhadap tanah dan kehidupan mereka.

Hal tersebut berlaku sejak jaman penjajahan Belanda hingga Orde Baru. Namun kini Osing mulai melunak, mulai banyak orang dari suku asli Banyuwangi ini yang bekerja menjadi pegawai negeri di instansi pemerintahan.

Adhi Kusumo bersama dengan temannya tinggal tujuh hari tinggal di Banyuwangi, menginap di rumah salah satu penduduk di desa Kemiren, tetangga desa Olehsari. Berikut cerita Adhi Kusumo seperti yang ia tulis di Jatimplus.id

Sebagian besar rumah penduduk belum mempunyai kamar mandi pribadi, jadi saya harus membiasakan diri mandi di sungai selama disitu. Penduduknya ramah-ramah.

Kemanapun kami bertamu, pasti akan disambut dengan hangat, ditawari kopi, makan, hingga tempat menginap, seolah kami sudah lama menjadi bagian dari mereka. Selain keramahan tersebut, ada hal lain yang tak mungkin saya lupakan dari Banyuwangi, yaitu melihat pertunjukkan tari Seblang.

Seblang mengandung arti “sebele ilang” atau “sialnya hilang”. Ritual tarian ini terdapat di dua desa di Banyuwangi, yaitu di Olehsari dan Bakungan. Kedua desa itu mempunyai tata cara ritual yang sedikit berbeda, walaupun sama-sama menarikan Seblang.

Olehsari ditarikan seminggu setelah hari raya Idul Fitri, waktunya siang hingga menjelang Magrib, dan penarinya harus gadis yang masih perawan. Sedangkan Bakungan ditarikan seminggu setelah hari raya Idul Adha, waktunya malam hingga menjelang Subuh, dan penarinya harus perempuan yang sudah menopouse.

Namun keduanya juga mempunyai kesamaan, yaitu sama-sama ditarikan selama tujuh hari berturut-turut dalam kondisi sang penari kerasukan (trance) roh leluhur dan bertujuan sebagai wujud syukur atas hasil bumi, upacara bersih desa, dan mengusir bala (bencana).

Seblang sudah ada di Olehsari sejak tahun 1930, namun dipercaya, Tari Seblang sebenarnya merupakan tradisi yang sangat tua, berusia ratusan tahun, hingga sulit dilacak bagaimana asal usul dimulainya.

Saya berkesempatan melihat ritual tari Seblang yang dilaksanakan di desa Olehsari. Waktu itu masih suasana lebaran, kami berjalan kaki menyusuri persawahan dan hutan bambu menuju desa Olehsari.

Terik panas siang hari tak begitu terasa karena sepanjang jalan setapak banyak rerimbunan pohon meneduhkan suasana. Setelah setengah jam berjalan kaki, akhirnya kami sampai di rumah pepunden desa.
Saya langsung masuk ke dalam rumah dan disanalah saya bertemu dengan Saudah, sang penari Seblang. Gadis manis itu menggantikan penari sebelumnya yang juga sepupunya, Tika, yang tidak bisa melanjutkan tariannya hingga hari ketujuh.

Suasana magis terasa sekali di ruangan sebuah rumah milik pepunden desa Oleh sari, Glagah, Banyuwangi. Seorang gadis muda berperawakan kurus berkulit sawo matang nampak dikerumuni teman-teman sebayanya. Sementara seorang perempuan parobaya sedang sibuk mendandaninya.

Ia memasangkan gelang kaki, sewek (Jarik), kemben, gelang tangan, dan terakhir ia tutupi kepala si gadis dengan kerudung tipis berwarna kuning. Aroma dupa menyeruak masuk di hidung. Agak takut-takut saya memotret Saudah, gadis di depan saya. Seolah saya sedang berada di salah satu scene film horor.
Kepalanya menunduk, wajahnya tertutupi kerudung. Tiba-tiba wajahnya terangkat. Kerudung ia sibakkan, dan nampak wajah polosnya menatap keluar jendela.

Di mata saya, Saudah tak lebih dari gadis usia belasan yang “ketiban sampur” menggantikan sepupunya, Tika Anjarsari, untuk menari Seblang. Sebuah tanggung jawab berat yang harus ia sandang beberapa tahun ke depan, demi ritual adat yang telah berusia ratusan tahun.

Baca selengkapnya di JATIMPLUS.ID


BERITA TERKAIT