Kesetiaan Sukani pada Topeng dan Balok Kayu di Sungai Lajing
JATIMPLUS.ID | 25/06/2019 17:25
Kesetiaan Sukani pada Topeng dan Balok Kayu di Sungai Lajing
Sukani pengrajin topeng malang di teras rumah sekaligus tempat kerja membuat topeng. FOTO: JATIMPLUS.ID/Prasto Wardoyo.

MALANG – Dingin masih belum beranjak dari Dusun Kemulan, Desa Tulus Besar, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Selepas salat Subuh, lelaki yang kini menginjak usia 71 tahun itu beranjak ke sisi kiri teras rumahnya. Di depan teras terlihat tumpukan potongan kayu. Tak jauh dari tumpukan kayu, gandhen sebuah alat pemukul berbahan kayu dan sejumlah peralatan pahat sudah disiapkan. Tak lama kemudian, bunyi suara kayu beradu dengan tatah bertalu memenuhi udara.

Suara itu berhenti saat matahari berada di atas kepala. Sekira sejam, banci mengayun kembali bergantian dengan gandhen yang menimpuk kepala pahat. Serpihan kayu berhamburan saat mata pahat menghantam kayu. Perlahan, bongkahan kayu itu mulai berbentuk. Hasil akhir berupa topeng dari berbagai figur dalam cerita Panji, Ramayana, dan Mahabarata.

“Saat itu saya mendapatkan pesanan dari museum,” kata Sukani kepada Jatimplus.id di rumahnya. Rumah itu berada di pinggir jalan raya. Museum yang berada di Mojokerto itu memesan lebih dari 800 buah. “Saya sampai lembur-lembur. Setelah Maghrib  saya kerja lagi sampai jam 9 malam,” Sukani melanjutkan.

BACA: Polemik Wisma Persebaya, Kompetisi Internal Jadi Korban

Setiap bulan, topeng yang sudah jadi diambil oleh si pemesan. Sukani berhasil menyelesaikan sekitar 35 sampai 50 topeng setiap bulannya. Keseluruhan topeng pesanan museum yang mulai dia kerjakan sejak tahun 2016 itu berhasil dirampungkannya dalam waktu tiga tahun.

Untuk mempercepat proses pekerjaan Sukani menggunakan jasa orang lain dalam melakukan pengecatan topeng. “Kalau mulai dari awal sampai mengecat saya lakukan sendiri akan membutuhkan waktu lebih lama. Jadi saya fokus saja sampai pada tahap topeng kayu itu siap dicat,” papar Sukani.

BACA: Pantai Payangan Jember Tempat Asik Buat Camping

Dalam kondisi normal, artinya kerja dengan ritme yang tak diburu waktu, dibutuhkan waktu sekitar 3 sampai 5 hari untuk menyelesaikan sebuah topeng. Lama tidaknya ditentukan oleh tingkat kerumitan topeng dan jenis kayu yang dipakai. Menurut Sukani kayu yang bagus digunakan sebagai bahan pembuatan topeng adalah kayu mentaos, akasia, dan sawo.

Sementara kategori kualitas sedang berbahan kayu kembang, mahoni, pinus, alpukat, dan sengon. Kayu yang bagus memiliki cukup kepadatan sehingga dalam jangka panjang topeng tak berubah bentuk. Sementata kayu yang biasa, beratnya lebih ringan, empuk, dan bentuknya lama-kelamaan bisa melengkung.

Harga topeng antara Rp 250.000 sampai Rp 500.000 tergantung jenis tokoh dan jenis kayu yang dipakai. Harga topeng terendah adalah topeng yang berbahan kayu sengon. Namun saat ini, Sukani enggan membuat topeng dari kayu sengon. Menurutnya, meski pengerjaannya sama namun hasilnya tak sebagus jika menggunakan jenis kayu yang lain. Itulah sebabnya dia membandrol topeng berbahan sengon pada harga paling rendah.

Baca cerita selengkapnya di JATIMPLUS.ID


BERITA TERKAIT