Mengukir Epos Ramayana di Rumah Masa Kecil Bung Karno
JATIMPLUS.ID | 08/02/2019 14:36
Mengukir Epos Ramayana di Rumah Masa Kecil Bung Karno

Pohon Gada di depan Istana Gebang Kota Blitar, yakni rumah masa kecil Bung Karno tiba tiba tumbang.Tidak hanya mengejutkan. Segala tafsir langsung bermunculan. Mulai yang masuk akal, yakni usia pohon yang tua, sampai tafsir paling liar, yakni tanda pergantian kekuasaan.   

BLITAR- Dalam memahat, Amang Pramusudirjo (70) mengaku harus ekstra hati hati. Terutama saat menangani motif yang berukuran kecil. Tetua komunitas seniman Pring Galih Blitar itu harus memilih treatment lembut. Irama pukulan gandennya (martil kayu) harus pas. Begitu juga mata tatahnya, harus tepat sasaran.

“Kalau terlalu keras mukulnya bisa patah. Apalagi sampai meleset, “tutur Amang tanpa mengalihkan pandangan dari permukaan kayu. Meski mulutnya berbicara, tangan Amang tak berhenti bergerak. Setiap ganden terayun, tatah yang ada ditangan kirinya mencongkel kayu lebih dalam. Geraknya teratur sekaligus terukur. Pelan namun pasti.

BACA JUGA: Heboh Lintah Masuk Hidung Pernah Terjadi di Situbondo

Selain renyah, menurut dia, kayu Gada juga memiliki serat yang besar. Karenanya pukulan yang terlalu keras hanya akan merusak motif ukiran, yakni terutama ukuran kecil. “Kayu Gada beda dengan kayu jati yang lebih ulet.  Kayu ini seratnya besar dan renyah,  “kata Amang.

Bersama empat orang rekannya sesama seniman Blitar, Amang berusaha menyulap gelondongan kayu Gada di Istana Gebang menjadi sebuah karya seni. Kayu dengan nama latin Kigelia Africana itu diubahnya menjadi kentongan berelief Epos Ramayana.

“Setidaknya lebih bisa dinikmati daripada hanya dibuat mebelair, “katanya sembari tertawa.

Memang masih jauh dari sempurna. Kata Amang garapannya masih dibawah 50 persen. Kendati demikian alur relief Ramayana sudah bisa dibaca. Fragmen cerita dimulai dari ukiran figur Dewi Sinta yang sedang bercakap dengan peminta minta. Pahatan motif pepohonan, ranting, dan dedaunan juga ada disana.

Dalam Epos Ramayana, pengemis yang berdialog dengan Sinta adalah Rahwana yang sedang menyamar. Nampak di bagian lain Sri Rama sedang memburu kijang. Titisan Dewa Wisnu itu tidak menyadari belahan hatinya sedang diincar Raja Alengka Diraja.

“Dalam kisah ini sumber permasalahan berawal dari penculikan, “kata Amang mencoba menafsirkan. Rahwana sukses membawa kabur Sinta. Narasi itu dituangkan ke dalam relief  Rahwana menyampirkan tubuh Sinta dipundaknya. Di  permukaan kayu lebih atas, tampak fragmen Rahwana dihadang jatayu atau burung garuda.

Jatayu yang hendak menyelamatkan Sinta bertempur melawan Rahwana. Namun burung garuda itu berhasil dipukul Raja Alengka hingga tersungkur jatuh ke bumi. “Dewi Sinta saya terjemahkan sebagai ibu pertiwi. Sedangkan jatayu sebagai  Pancasila, “katanya.

Ibu pertiwi telah ternodai. Kata Amang telah dikoyak koyak oleh nafsu angkara. Akibatnya bencana terjadi dimana mana, baik bencana alam gunung meletus, tsunami, gempa bumi, banjir bandang, maupun bencana akibat ulah manusia.

BACA JUGA: Joe Sava: Tak Mudah Menjadi Tionghoa

Sementara jatuhnya jatayu ditafsirkan semakin jauhnya masyarakat Indonesia dari nilai Pancasila. “Coba lihat saja bagaimana bencana selalu melanda daerah yang masyarakatnya selalu bertikai, konflik, “paparnya. Pada konteks pilpres 2019, kisah pertempuran Rahwana dengan Rama juga ditafsirkannya sebagai pertarungan dua kubu capres.

Hanya saja dia tidak menyebut satu kubu capres sebagai Rahwana dan kubu capres lain sebagai Sri Rama. Amang hanya mengatakan kedua duanya sama sama memiliki nafsu berkuasa dengan takaran yang berbeda. “Bisa ditafsirkan begitu juga. Ditafsirkan lain juga boleh, silahkan bebas, “katanya.   

Baca kisah selengkapnya di JATIMPLUS.ID


BERITA TERKAIT