Jejak Tan Ju Nio Pada Semangkuk Pangsit
JATIMPLUS.ID | 06/02/2019 16:09
Jejak Tan Ju Nio Pada Semangkuk Pangsit

Sejarah Tionghoa di Kota Kediri cukup panjang. Sebagian mampu beradaptasi dengan jaman, sebagian justru tertinggal dengan bayang-bayang masa lalu. Keluarga Tan Ju Nio adalah salah satu potret keluarga China yang bertahan. Jatimplus mereportase perjuangan keluarga ini mempertahankan hidup dengan berjualan pangsit.

Liliana masih duduk di bangku sekolah dasar saat papanya berjualan pangsit mie Garuda. Kala itu hanya dua pilihan untuk menjajakan dagangan secara keliling. Dipikul atau didorong. Dan Gie Swie memilih mendorongnya.

Bersama gerobak yang bertumpu dua roda, Gie Swie berjalan kaki mengelilingi wilayah timur Sungai kota Kediri. Gerobak berisi pangsit mie itu dibawa menyusuri ruas jalan protokol, jalan kampung, serta gang sempit.

BACA JUGA: MEREKA PELESTARI LAGU MANDARIN (3)

Gie juga menawarkan dagangannya di kawasan pertokoan. Di beberapa titik jalan, pertigaan atau perempatan, ayah tiga anak itu biasanya berhenti sejenak. Selain melepas penat, juga berharap ada orang lewat yang membeli. “Papa biasanya mangkal di depan sekolah Chung Hua Tsung Hui (CHTH) di Jalan Doho Kota Kediri yang sekarang menjadi hotel Grand Surya,“ kenang Liliana yang kini telah berusia 64 tahun.

Liliana bersekolah di sekolahan milik CHTH, yakni sekolah khusus Tionghoa. CHTH merupakan perkumpulan umum orang Tionghoa. Sebuah organisasi yang didirikan orang orang Tionghoa bekas tawanan Jepang.

Secara politik CHTH berafiliasi dengan Partai Guomintang atau Kuomintang di Negeri Tiongkok. Sebelum CHTH berdiri, pemerintah kolonial Jepang lebih dulu mendirikan organisasi Perkumpulan Umum Tionghoa Perantauan.

Perantauan yang dimaksud adalah Tionghoa totok atau Hoa Kiau. Pendirian perkumpulan Tionghoa perantauan ini untuk menyokong kepentingan Jepang. Perkumpulan itu bubar diam-diam setelah Jepang menyerah kepada sekutu. Beberapa eks aktivis diantaranya turut membidani pendirian CHTH yang diketuai Ong Siang Tjie. Mereka berniat menyatukan Tionghoa peranakan atau Kiau Seng dan Tionghoa totok.

Di masa revolusi 1945 orientasi politik kedua kelompok Tionghoa ini terbelah. Kaum Tionghoa totok lebih berkiblat ke Negeri Tiongkok. Sementara Kiau Seng memilih memperjuangkan kepentingan dimana kaki mereka berpijak. Termasuk tidak sedikit yang mendukung nasionalisme Indonesia.

BACA JUGA: BAH KACUNG, PELOPOR TAHU TAKWA KEDIRI (4)

Karena itu ketika Indonesia memproklamirkan diri pada 17 Agustus 1945, hubungan CHTH dengan Soekarno terjalin mesra. Dalam pidatonya Bung Karno mengatakan Tiongkok dan Indonesia memiliki banyak kesamaan kepentingan.

Liliana adalah salah satu generasi garis Kiau Seng yang mendukung nasionalisme Indonesia. Namun karena geger politik di tahun 1965, pemilik nama Lim Sho Lien ini hanya mengenyam pendidikan kelas enam SD di sekolah CHTH.

Simak kisah lengkap Keluarga Tan Ju Nio di JATIMPLUS.ID dengan judul KISAH TIONGHOA DALAM SEMANGKUK PANGSIT

Ikuti kisah-kisah di seputar Imlek dan Sejarah Kaum Tionghoa Indonesia di JATIMPLUS.ID


BERITA TERKAIT