Ritual Memandikan Patung Dewa Dewi di Klenteng Tjoe Hwie Kiong
JATIMPLUS.ID | 05/02/2019 15:56
Ritual Memandikan Patung Dewa Dewi di Klenteng Tjoe Hwie Kiong
Klenteng Tjoe Hwie Kiong menyambut Imlek. Foto Adhi Kusumo

Perayaan Tahun Baru Imlek 2570 begitu semarak. Tak sekedar menyantap lontong, warga Tionghoa di Kediri merajut damai di tengah keragaman suku dan agama. Jatimplus mereportase aktivitas di Klenteng Tjoe Hwie Kiong, serta menggali makna peringatan Imlek lebih dalam.

Shi Wu Ye atau Shi Wu Ming atau Cap Go Meh (dalam dialek Hokkian Cap Go Me) berarti malam kelima belas. Di malam bulan purnama itu perayaan tahun baru Imlek atau Sincia ditutup. Uniknya, meski menjadi penutup seluruh rangkaian Imlek, justru Cap Go Meh lah puncaknya.

Sejak Presiden RI Ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mencabut PP No 14 Tahun 1967 dan warga Cunghua (Tionghoa) merdeka merayakan Imlek, Cap Go Meh menjadi bagian perayaan yang paling meriah.

BACA JUGA: KISAH TIONGHOA DALAM SEMANGKUK PANGSIT (2)

“Pada perayaan Cap Go Meh semua saudara, kerabat akan berkumpul. Cap Go Meh merupakan puncak dari Imlek,“ kata Tjoe Sen Wang atau Halim Prayogo, 29 tahun, Tata Usaha Klenteng Tjoe Hwie Kiong Kediri.

Cap Go Meh akan jatuh pada tanggal 19 Februari 2019 mendatang. Cara menghitungnya Imlek yang jatuh tanggal 5 Februari 2019 ditambah 14 hari kedepan. Di malam menyambut bulan purnama itu, seluruh warga Tionghoa akan kembali berbondong bondong mendatangi Klenteng.

Tidak hanya berdoa. Semua umat akan bersantap lontong sayur. Lontong menjadi penanda perayaan Cap Go Meh. Sebagaimana simbol ketupat yang dipakai umat muslim saat merayakan hari raya Idul Fitri.

Warga Tionghoa memang selalu lekat dengan simbol. Seperti naga yang disimbolkan kekuasaan dan macan sebagai perlindungan. Begitu juga warna merah sebagai kebahagiaan dan hijau sebagai kesuburan. Lontong yang berbentuk bulat diterjemahkan eratnya tali persaudaraan serta keluarga.

Ditambah sayuran dengan wadah piring, lontong Cap Go Meh juga ditafsirkan bersatunya seluruh keragaman. “Lontong sayur Cap Go Meh tidak hanya untuk warga Tionghoa. Tapi juga dibagi bagikan kepada warga luar Klenteng, “terang Halim yang tidak sabar menyambut perayaan Cap Go Meh.

Aji “Chen” Bromokusumo dalam buku Peranakan Tionghoa dalam Kuliner Nusantara menyebut, munculnya lontong sayur Cap Go Meh dipengaruhi budaya Indonesia (akulturasi).

Bagi warga Tionghoa, Imlek tidak hanya menyangkut keyakinan. Mengekspresikan kebudayaan juga menjadi bagian yang penting.

Imlek yang populer dengan ucapan gong xi fa cai diyakini sebagai sistem penanggalan yang memberi berkah kepada kehidupan manusia. Sebuah perhitungan keadaan alam dan waktu yang tepat bagi manusia untuk bekerja. Bagi warga Tionghoa, etos kerja menyangkut harkat martabat.

Dengan bekerja manusia memperoleh hasil. Karenanya Tionghoa sejati tidak mengenal kata santai santai, nganggur atau hoream. Tak heran, saking bahagia atas pencabutan PP No 14 Tahun 1967, warga Klenteng Tay Kak Sie Semarang pernah menggelari Gus Dur sebagai Bapak Tionghoa.

Halim bercerita, rangkaian perayaan hari raya Imlek ke 2570 ini sama dengan sebelumnya. Urut urutannya cukup panjang. “Seminggu sebelum Imlek, di Klenteng berlangsung upacara menghantarkan dewa dewi ke langit, “papar Halim. Upacara mengantar dewa dewi diikuti dengan memandikan patung dewa dewi yang ada di Klenteng.

BACA JUGA: MEREKA PELESTARI LAGU MANDARIN (3)

Sebelum dimandikan, ratusan patung itu dikeluarkan dari dalam Klenteng. Setiap patung diseka dengan kain hingga bersih. Setelah itu dimandikan dengan air bunga. Upacara ini dipimpin pendeta Klenteng dibantu umat.

Mereka yang membantu membersihkan patung dewa ini tidak sembarangan. Saat mengikuti ritual harus dalam keadaan bertirakat, yakni menjadi vegetarian atau tidak memakan sesuatu yang bernyawa. Bagi perempuan dalam keadaan tidak berhalangan (menstruasi).

“Memandikan patung dewa dewi itu hanya berlangsung sehari. Pada saat itu semua patung diyakini tidak ada ruhnya,“ kata Halim menjelaskan. Setelah dimandikan air bunga dan dilap hingga kering, semua patung dewa dikembalikan ke tempat semula.

Cerita kemeriahan Imlek di Klenteng Tjoe Hwie Kiong selengkapnya bisa dibaca di JATIMPLUS.ID


BERITA TERKAIT