Jalan Panjang Keluarga Naga di Kediri
JATIMPLUS.ID | 04/02/2019 09:40
Jalan Panjang Keluarga Naga di Kediri

Dua puluh foto yang ditempel di dinding rumah kuno milik B Poedijohartono di selatan Jalan Brawijaya Kota Kediri itu merupakan fragmen perjalanan hidup keluarga perantau Tionghoa Tjiang Fang Tjien. Dalam rangka peringatan Hari Toleransi Internasional di Kota Kediri, hasil jepretan Freddy M A Lempas –salah satu anggota keluarga Tjiang Fang Tjien– dipamerkan.    

KEDIRI- Sebuah rumah dua lantai bergaya kolonial. Dindingnya bermodel melengkung dengan sepasang kusen jendela nako persegi empat berkelir kuning. Di foto karya Freddy, tinggi loteng itu tampak sejajar dengan cagak ting atau tiang lampu penerangan jalan umum (PJU) yang tegak berdiri di pinggir trotoar jalan Doho Kota Kediri.

Loteng berasal dari bahasa Hokkian lauteng. Artinya bagian teratas atau tingkat teratas dari sebuah bangunan rumah atau gedung. Oleh keluarga Hoo Tje Tjin, loteng yang ada dijadikan sebagai tempat hunian. Praktis seluruh aktivitas keluarga Tje Tjin, termasuk tidur dan beristirahat, dilakukan disana. Sebab lantai bawah digunakan sebagai rumah makan.

“Dari dulu sudah umum rumah sekaligus menjadi toko (ruko), “tutur Freddy kepada jatimplus.id. Sejak pra kemerdekaan, keluarga Hoo Tje Tjin dikenal sebagai pengusaha kuliner. Terutama di kawasan pecinan Jalan Doho Kota Kediri, usaha yang awalnya bernama “Restoran Tionghoa”itu, menjadi pelopor.

Sebelum rumah makan, depot, atau kaki lima penjual pecel tumpang tumpah ruah di jalan Doho seperti sekarang, Restoran Tionghoa sudah lebih dulu terkenal. Pelanggan yang datang dari mana mana. Bagi masyarakat berkantong tebal di Kediri, namanya sangat familiar.

Bahkan tiap berkunjung ke Kediri, Bung Karno maupun Jendral Besar Sudirman konon selalu menyempatkan mampir ke Restoran Tionghoa. “Intinya saat masih bernama Restoran Tionghoa menjadi ikon kuliner di Jalan Doho. Sekarang sudah menjadi warung makan biasa, “terang Freddy.

Hoo Tje Tjin akrab dipanggil Hoo Ceking. Kebetulan perawakan pria keturunan itu memang tinggi kurus sekaligus ramping. Karenanya panggilan semi olok olok itu tidak pernah membuatnya gusar. Hoo Ceking merupakan suami Tjiang Pei Tjie, salah satu putri kembar Tjiang Fang Tjien.

Dalam foto hasil daur ulang (repro) Freddy, Tjiang Pei Tjie tampak masih  gadis remaja. Mengenakan baju potongan you can see Pei Tjie berdiri bersama empat saudarinya yang lain.

Posisinya dibelakang punggung Tjiang Fang Tjien yang duduk bersanding dengan istrinya. Di dalam foto  juga terlihat enam bocah kecil dan lima lelaki remaja berdiri berjajar paling belakang.

Sayang, Freddy tidak hafal satu persatu nama namanya. Ayah dua anak itu  hanya mengetahui cerita perjalanan hidup Tjiang Pei Tjie yang tak lain nenek istrinya, yakni Sen Hong atau Seniawati. “Sayangnya saya tidak hafal nama satu persatunya, “tuturnya.

Jika keluarga Hoo Tje Tjin dikenal pengusaha kuliner, Tjiang Fang Tjien dikenal sebagai pengusaha pembuat gigi palsu dan optik kaca mata. Usaha yang ditekuni sebelum kemerdekaan itu diberi nama “Tjiang”, yakni diambil dari nama keluarga atau marga.

Sebagai yang pertama di jalan Doho, bisnis produksi gigi dan optik Tjiang  maju dan terkenal. Kala itu Fang Tjien juga sudah menjual daganganya di ruko. Bahkan saat itu Tjoa Jien Hwie atau Surya Wonowidjoyo, pemilik sekaligus pendiri Pabrik Rokok Gudang  Garam, masih berjualan di kios pinggir jalan.

Baca cerita selengkapnya di JATIMPLUS.ID


BERITA TERKAIT