Kisah Anak Bajang Membungkus Kentut Ibunya
SATELITPOST.COM | 06/08/2019 13:29
Kisah Anak Bajang Membungkus Kentut Ibunya
Sejumlah tujuh anak berambut gimbal menjalani ruwatan dengan dipotong rambutnya di pelataran Komplek Candi Arjuna Dieng, Jawa Tengah, 31 Agustus 2014. Tempo/Aris Andrianto

Ruwatan cukur rambut gembel yang diikuti anak bajang (sebutan untuk anak yang berambut gimbal) kembali digelar dalam rangkaian Dieng Culture Festival 10 di pelataran Candi Arjuna, Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Minggu (4/8).

Ribuan wisatawan sudah berkumpul dan duduk teratur sejak pagi menunggu kedatangan anak bajang yang sebelumnya diarak terlebih dahulu. Tahun ini ada 11 anak yang diruwat berjenis kelamin perempuan semuanya. Kata sesepuh setempat, ke-11 anak tersebut merupakan keturunan Nyi Ronce Koloprenih karena keturunan perempuan.

Seperti ruwat rambut gembel sebelumnya, setiap anak memiliki permintaan khusus yang harus dipenuhi sebagai salah satu syarat ruwatan rambut gembel. Namun, permintaan anak rambut gembel tahun ini cukup lucu dan di luar nalar.

Adalah Dinda Syifa Ramadhani. Bocah 4 tahun ini meminta kentut dari ibunya yang dibungkus dengan plastik. Permintaan ini terus disampaikan Dinda sejak berusia 2 tahun. “Kalau ditanya jawabannya kentut. Dia juga pernah bertanya ibu kentut atau tidak, saat itu saya jawab ya kentut lah seperti orang pada umumnya,” kata ibunya, Mursinah di Dieng, Minggu (4/8).

Selain itu, bocah asal Desa Jlamprang Kecamatan Leksono, Wonosobo ini juga meminta satu butir telur puyuh. Hal ini tidak mengherankan, karena Dinda hobi makan telur puyuh. “Bahkan setiap hari selalu makan telur puyuh. Jadi sebagai permintaan saat diruwat ini kentut dari saya (ibunya) dan telur puyuh,” ujarnya.

Permintaan aneh lainnya disampaikan anak rambut gembel, Hanifa Rasyida Putri. Bocah enam tahun ini meminta berlibur ke pantai. Sehingga, nantinya setelah dilakukan ruwat cukur rambut gembel, orangtua langsung mengajak buah hatinya berlibur ke pantai.

Gejala anak rambut gembel ini sama anatara satu anak dengan yang lainnya. Yakni diawali dengan panas tinggi. Bahkan, memiliki kecenderungan yang sama yakni lebih aktif dan memiliki kemauan yang kuat.

Pemangku adat Dieng, Sumanto mengatakan, anak rambut gembel ini memang cenderung lebih aktif dibanding anak pada umumnya. Namun, setelah diruwat akan kembali normal termasuk rambutnya pun tidak kembali gembel. “Diawali dengan panas, dan anak gembel itu lebih aktif. Tetapi nanti setelah diruwat ya biasa seperti anak-anak pada umumnya,” katanya.

Selama ia melakukan ruwatan rambut gembel sejak tahun 2002 lalu, hingga saat ini belum pernah melihat rambut tumbuh gembel lagi setelah diruwat. Asalkan, permintaan anak dituruti sesuai yang disampaikan anak.

“Selama saya mulai mencukur rambut gembel tidak ada yang tumbuh lagi. Memang ada sebelumnya, karena minta sepeda motor kecil dari pantia sudah diberi uang sebesar harga sepeda motor kecil. Tapi uang itu tidak dibelikan, jadi rambut gembelnya tumbuh lagi,” kata dia.

Sebelum dilakukan ruwat, 11 anak gembel dikirab keliling desa Dieng dan dijamasi di Darmasala di komplek Candi Arjuna. Kemudian, 11 anak dicukur rambutnya di antara Candi Arjuna. (ank)

SATELITPOST.COM


BERITA TERKAIT