WHO: 90 Persen Anak di Dunia Terancam Polusi Udara, Bagaimana di Jakarta?
BETAHITA.ID | 07/11/2018 08:27
WHO: 90 Persen Anak di Dunia Terancam Polusi Udara, Bagaimana di Jakarta?
Dikepung asap, anak-anak tetap bermain tanpa menggunakan masker pengaman, Kalimantan Tengah. Dok.Greenpeace Indonesia.
Betahita.id - Setiap hari, hampir seluruh anak di dunia menghirup udara beracun. Laporan terbaru Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru-baru ini mengungkap bahwa polusi udara semakin berbahaya dan memberikan efek jahat kepada perkembangan intelektual anak dan berisiko kematian.

Baca juga: Jakarta Kota dengan Polisi Tertinggi di Dunia

Studi yang dirilis akhir Oktober 2018 tersebut menemukan bahwa 90 persen atau 1,8 miliar anak di dunia menghirup udara tercemar. Anak-anak lebih rentan terdampak polusi udara karena polutan seringkali terkonsentrasi lebih dekat ke permukaan tanah. Selain itu, organ dan sistem syaraf anak yang sedang berkembang juga lebih rentan terganggu dibandingkan dengan orang dewasa.

"Polusi udara tengah mengkerdilkan otak anak-anak kita, mempengaruhi kesehatan mereka lebih dari yang kita duga," kata Direktur Kesehatan Publik dan Lingkungan WHO, Dr Maria Neira, melalui rilis baru-baru ini. Rilis tersebut memuat temuan-temuan kunci WHO terkait polusi udara di negara-negara berkembang.

WHO memperkirakan sebanyak 600 ribu anak di bawah 15 tahun meninggal akibat infeksi pernapasan bawah akut pada 2016, disebabkan oleh gabungan dampak pencemaran udara dan pencemaran aktivitas rumah tangga. Di antaranya, 93 persen terekspos pada PM2,5, polutan yang paling berbahaya. Data WHO menunjukkan, di negara-negara miskin, 98 persen anak berusia di bawah lima tahun menghirup PM2,5.

Polusi udara juga berisiko terhadap wanita hamil dan janin. Jika terekspos, ibu berpotensi besar melahirkan secara prematur dan memiliki bayi dengan berat badan rendah. Selain itu, polusi udara juga memengaruhi perkembangan syaraf dan kemampuan kognitif serta dapat memicu asma dan kanker anak. Anak yang terekspos polusi udara yang tinggi juga berpotensi mengidap penyakit kronis seperti penyakit kardiovaskuler ketika dewasa.

Neira mengatakan banyak upaya yang bisa dilakukan untuk mengurangi emisi polutan berbahaya, termasuk penggunaan transportasi yang lebih ramah dan perencanaan tata kota yang baik.

Polusi udara Jakarta

[caption id="attachment_2414" align="aligncenter" width="528"] Polusi di Jakarta. Dok. Greenpeace[/caption]

Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Bondan Andriyanu juga menyatakan bahaya polusi udara serta dampaknya terhadap kesehatan, terutama masyarakat perkotaan. Sayangnya, hingga kini hampir tidak ada riset atau studi akademis yang meneliti dampak polusi udara untuk melihat urgensi pencemaran udara.

“Di sisi lain, hingga kini pemerintah Jakarta tak kunjung merevisi kebijakan yang mengatur baku mutu udara," kata Bondan melalui percakapan telepon dengan Betahita, Selasa, 6 November 2018.

Dua regulasi standar baku mutu udara di Jakarta, kata Bondan, sudah ketinggalan zaman. Peraturan Pemerintah Nomor 41/1999 dan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup 21/2008 sudah saatnya dikritisi dan dievaluasi saban lima tahun sekali. Pasalnya, dua regulasi tersebut secara tertulis belum mempertimbangkan dampak kesehatan.

“Sudah saatnya dampak kesehatan dari polusi udara dipertimbangkan dalam pembuatan kebijakan. Risetnya harus dipertimbangkan untuk mengatur mitigasi, apalagi saat ini tidak ada perhatian khusus terhadap dampak pada generasi selanjutnya,” kata Bondan.

Riset akademisi dan revisi kebijakan menjadi kunci untuk memperbaiki kualitas udara di Jakarta. Bersamaan dengan itu, masyarakat juga harus sadar dan berinisiatif untuk mengurangi emisi ambien, bisa dimulai dari penggunaan transportasi yang bersih dan mengurangi limbah rumah tangga.

Pada perhelatan Asian Games 2018, Greenpeace sempat menyorot polusi udara  Jakarta yang sangat buruk. Parameter udaranya bahkan sempat berada di PM2,5; sangat tidak sehat dan berada di bawah standar udara sehat WHO.

 

REKOMENDASI BERITA