Memotivasi Anak Berpuasa dengan Iming-iming Hadiah, Sejauh Mana?
TABLOIDBINTANG.COM | 27/05/2018 04:00
Memotivasi Anak Berpuasa dengan Iming-iming Hadiah, Sejauh Mana?
Memotivasi Anak Berpuasa dengan Iming-iming Hadiah, Sejauh Mana? (Depositphotos)

Bicara soal hadiah, tidak terlepas dari motivasi. Psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi menjabarkan, motivasi terbagi menjadi dua jenis: motivasi intrinsik atau motivasi yang muncul dari dalam diri atau pemikiran sendiri dan motivasi ekstrinsik yang muncul akibat hal-hal dari luar diri.

Iming-iming hadiah merupakan salah satu motivasi ekstrinsik untuk anak agar giat beribadah. Intinya, boleh memberi hadiah agar anak bersemangat puasa, mengingat anak masih sulit memahami hal yang abstrak dan masih membutuhkan dorongan dari hal konkret.

Tentu saja, mengiming-iming anak dengan hadiah ini harus dikurangi seiring usia anak yang semakin dewasa dan mampu memahami hal-hal abstrak seperti hakikat ibadah.

“Pada anak (kecil), motivasi yang datang dari luar diri masih dominan. Perilaku anak masih bergantung pada hadiah atau konsekuensi yang ia dapatkan. Namun dalam perjalanan kehidupan anak, kedua motivasi ini dapat beriringan. Artinya motivasi intrinsik bisa dikembangkan,” ujar Vera. 

Memotivasi Anak Berpuasa dengan Iming-iming Hadiah, Sejauh Mana? (Depositphotos)

Untuk meningkatkan motivasi intrinsik, biasakan menyampaikan kalimat-kalimat penyemangat ketika anak berhasil melakukan sebuah pencapaian. “Misalnya, 'Wah, kamu pasti bangga pada diri sendiri karena sudah bisa puasa seminggu penuh... hebat, deh anak Mama!' Masukan seperti ini akan menumbuhkan rasa bangga, percaya diri, dan sikap positif anak terhadap diri sendiri sehingga lambat laun akan mengembangkan motivasi intrinsik,” Vera mencontohkan.

Selain itu, tunjukkan kesan dan pengalaman menyenangkan setelah selesai beribadah. Misalnya dengan mengatakan, “Duh tenang, deh kalau habis berdoa, bisa tidur nyenyak, nih Mama.”

Anak yang belajar lewat mengamati akan menyerap pengalaman menyenangkan setelah ibadah ini, sehingga lambat laun dia juga ingin mencapai pengalaman yang sama.

“Pengajaran ibadah yang baik untuk anak adalah dengan memberi contoh dan menjadikannya kebiasaan sehari-hari. Sehingga, anak yang memang peniru ulung lebih mudah menyerap dan menerapkan apa yang diajari. Jangan lupa, selalu melakukannya dalam suasana senang,” pungkas Vera. 

(riz / gur)

REKOMENDASI BERITA