Sebanyak 1.094 Produk Obat Tradisional Mengandung Bahan Kimia
KRJOGJA.COM | 07/04/2022 13:15
Sebanyak 1.094 Produk Obat Tradisional Mengandung Bahan Kimia
Seorang apoteker meracik obat tradisional Cina di Rumah Sakit Afiliasi Pertama Universitas Kedokteran Cina di Hefei, Provinsi Anhui, Cina Timur, 24 Februari 2020. Rumah sakit tersebut bertanggung jawab untuk meracik, merebus dan mengirim obat tradisional Cina ke tujuh rumah sakit yang ditunjuk untuk merawat pasien virus Corona di Hefei. Xinhua/Zhou Mu

JAKARTA, KRJOGJA.com – Sebanyak 1.094 produk obat tradisional dan suplemen mengandung bahan kimia obat (BKO). Oleh karena itu Badan Pengawasan Obat Makanan (BPOM) terus melakukan penertiban terhadap peredaran obat tradisional yang mengandung bahan kimia obat (BKO). Demikian diungkapkan Kepala BPOM Penny K Lukito, dalam rilisnya, Rabu (6/4/2022).

Oleh karena itu Penny mengimbau masyarakat agar lebih waspada serta tidak menggunakan produk-produk obat tradisional (OT) dan suplemen kesehatan yang masuk dalam daftar public warning dan diumumkan BPOM.

“Selalu ingat cek KLIK (cek kemasan, label, izin edar, dan kedaluwarsa) sebelum membeli atau menggunakan obat tradisional dan suplemen kesehatan. Pastikan kemasan dalam kondisi baik, baca informasi produk yang tertera pada label, pastikan produk memiliki izin edar BPOM, dan belum melebihi masa kadaluwarsa,” kata Penny.

Penny menegaskan peredaran obat tradisional mengandung BKO menimbulkan dampak negatif pada sisi ekonomi, hukum, sosial, dan budaya. Dari sisi ekonomi, peredaran produk mengandung BKO ini dapat merugikan produsen obat tradisional yang legal karena timbul persaingan yang tidak sehat, dan juga peningkatan biaya kesehatan masyarakat akibat efek samping yang timbul.

Sementara itu, dari sisi hukum, jika tidak dilakukan penindakan maka berpotensi menimbulkan dampak ketidakpastian hukum terhadap peredaran obat tradisional mengandung BKO.

Kemudian, dari sisi sosial dapat menimbulkan keresahan di masyarakat akibat adanya bahaya terhadap kesehatan dan dari sisi budaya dapat menurunkan penggunaan/konsumsi dan citra jamu sebagai national heritage Indonesia.


Selanjutnya Penny menjelaskan tentang hasil pengawasan BPOM tahun 2021, sebanyak 64 produk atau 0,65% dari 9.915 total produk obat tradisional yang telah di-sampling dan diuji, diketahui mengandung BKO.

BKO yang paling banyak ditambahkan, kata Penny, yaitu sildenafil sitrat dan turunannya klaim OT stamina pria, parasetamol klaim OT pegal linu, Tadalafil klaim OT stamina pria, Deksametason klaim OT pegal linu, dan Sibutramin hidroklorida klaim OT pelangsing.

“Meskipun secara persentase obat tradisional mengandung BKO tergolong relatif kecil, namun bahayanya terhadap kesehatannya sangat tinggi bagi masyarakat,” kata Penny.

Terkait dengan temuan tersebut, lanjut Penny, penanganan obat tradisional mengandung BKO akan lebih optimal jika dilakukan secara sinergis dan terintegrasi bersama semua pemangku kepentingan.

“Integrasi tersebut dilakukan melalui 3 strategi integrasi, yaitu integrasi pelaksana program, bentuk program, dan tempat pelaksanaan program,” ujar Penny.

krjogja.com


BERITA TERKAIT