Malaria Kembali Merebak di Purworejo
KRJOGJA.COM | 06/10/2021 09:45
Malaria Kembali Merebak di Purworejo
Pemanasan Global Dorong Malaria ke Dataran Tinggi

PURWOREJO, KRJOGJA.com – Penyakit malaria kembali merebak di Kabupaten Purworejo. Kurang lebih 300 warga sejumlah desa di Kecamatan Bener dan Loano, terinfeksi plasmodium falciparum. Dua warga Desa Kemejing Kecamatan Loano meninggal dunia akibat komplikasi penyakit kronik dan malaria yang mereka derita.


“Dua orang tersebut sudah menderita sakit kronik menahun, komorbid, lalu tertular malaria hingga memperparah kondisi kesehatannya,” kata Kasi Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Purworejo, Triyo Dermaji, mewakili Kadinkes Purworejo dr Sudarmi MM, kepada KRJOGJA.com Minggu (03/10/2021).

Menurutnya, munculnya kasus di Purworejo itu berawal dari adanya seorang warga Wadas yang sakit malaria dan dirawat di Puskesmas Maron pada Juli 2021. Petugas kesehatan mengecek keluarga pasien dan hasilnya juga positif malaria.

Petugas melakukan penelusuran kasus di desa tersebut dan ditemukan lebih beberapa kasus lainnya. Bahkan sejumlah warga desa sekitar Wadas juga terpapar malaria. “Hingga akhir September, atau dalam kurun dua bulan sudah lebih dari 260 warga yang terpapar. Tidak hanya di Wadas, malaria sudah menyebar di desa sekitar seperti Kaliwader, Cacaban Kidul, Cacaban Lor, Kalitapas, Pekacangan, Benowo, dan Medono,” tuturnya.

Bahkan, malaria juga menyebar ke Desa Kemejing Kecamatan Loano yang berbatasan dengan Kaliwader. Persebaran juga semakin luas di Loano ketika ditemukan pasien malaria di Desa Ngargosari dan Banyuasin Kembaran. Dinkes melakukan MBS di tiga desa itu dan menemukan 48 warga terinfeksi malaria. “Penelurusan kami, pasien di Ngargosari dan Kemejing, diduga tertular dari wilayah Bener,” terangnya.

Pemerintah fokus menangani malaria dengan melaksanakan Mass Blood Survey, pembagian 5.000 kelambu, penyemprotan ribuan rumah, penaburan larvasida, sosialisasi, dan penanganan pada pasien sakit. Wadas, lanjutnya, menjadi perhatian khusus dinkes karena sudah lebih dari sepuluh tahun tidak ada kasus malaria di desa itu.

Dinkes juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk menjaga diri dari gigitan nyamuk anopeles dengan mengurangi aktivitas di luar rumah pada malam hari. “Kendalanya masih banyak warga yang beraktivitas di luar rumah pada malam hari, misalnya di Wadas, sebagian warganya menginap di hutan karena imbas konflik sosial. Terlepas dari apapan alasan warga harus keluar rumah, kami berharap mereka bisa menjaga diri misalnya dengan memakai pakaian panjang, atau memakai obat antinyamuk,” paparnya.

Lonjakan kasus terjadi menjelang penilaian eliminasi malaria yang akan dilakukan Kemenkes dan WHO pada tahun 2021. Dinkes, lanjutnya, berupaya menjaga agar tidak muncul penularan malaria lokal atau kasus indegeneous.

Kasus indegeneous terakhir, katanya, terjadi pada November 2018 dan setelah itu tidak ada temuan. “Sudah 33 bulan tidak ada penularan indegeneous, bahkan penurunan kasus terjadi signifikan dua tahun terakhir. Tahun 2019 hanya ada 25 kasus impor dan dua kasus malaria vivax yang kambuh, sedangkan 2020 hanya tujuh kasus impor,” katanya.

Kasus impor tidak sampai menular karena kegiatan surveilans migrasi berjalan dengan baik. “Tapi untuk lonjakan dua bulan ini, memang agak sulit karena ada beberapa faktor sosial yang menghambat. Semuanya sudah kami sampaikan dalam laporan khusus yang dikirim ke Kemenkes dan WHO,” tandasnya.

krjogja.com


BERITA TERKAIT