Ditandai 3 Kali Semprotan “Hand Sanitizer”, Sandiaga Uno Buka ARTJOG 2021 Secara Daring
KRJOGJA.COM | 08/07/2021 20:54
Ditandai 3 Kali Semprotan “Hand Sanitizer”, Sandiaga Uno Buka ARTJOG 2021 Secara Daring
Keraton Yogyakarta menggelar pameran Bojakrama dalam peringatan hari ulang tahun ke-75 Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X. TEMPO | Pribadi Wicaksono

YOGYA, KRJOGJA.com– Festival tahunan seni rupa terbesar di Indonesia ARTJOG kembali hadir di Jogja National Museum (JNM), Yogyakarta, pada 8 Juli hingga 31 Agustus 2021. Setelah tahun lalu menghelat ARTJOG Resilience yang merespon situasi pandemi, ARTJOG kali ini berupaya kembali ke skema kuratorial yang telah mereka canangkan sejak 2018. Penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Darurat (PPKM darurat) oleh Pemerintah mengharuskan ARTJOG berjalan dengan format daring terlebih dahulu. ARTJOG Kamis (8/7/2021) ini telah dibuka dan dihadiri oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Sandiaga Uno, yang secara simbolis dan improvisasi menyemprotkan hand sanitizer sebanyak 3 kali.

ARTJOG kali ini meneruskan edisi kedua dari trilogi pameran arts in common, dibingkai dengan tajuk “Time (to) Wonder”. Mengangkat ihwal ‘waktu’ sebagai konsep kunci, pameran ini akan menampilkan karya-karya mutakhir 41 seniman (perorangan maupun kelompok) yang semuanya tinggal dan bekerja di Indonesia.

“Seni budaya sudah berkembang menjadi ekonomi kreatif dan sudah menjadi industri tersendiri dan membuka lapangan kerja serta menopang perekonomian negara. Potensinya luar biasa, tidak terbatasi oleh PPKM, tapi imajinasi terus berkreasi da berkontribusi dalam lingkup ekonomi kreatif. Gagasan ide dalam teman-teman ARTJOG ternyata menjadi nilai tambah dan merupakan satu lokomotif dari sisi ekonomi kreatif kita. Kita ketahui kontribusi ekonomi kreatif dari presentase terhadap PDB dan ini adalah peran dari ARTJOG untuk terus berupaya memberi peran yang menurut saya sangat strategis dan tantangan ekonomis di saat pandemi. Pemerintah akan terus memberi perhatian dan memberi perlindungan untuk produk-produk yang meliputi kekayaan intelektual salah satunya seni rupa ini perlu kita lindungi,” kata Sandi dalam sambutannya.

“Dengan kehadiran kita sebagai motivasi: ARTJOG perlu kita apresiasi karena keistiqomahan dan konsistennya,” tegasnya.

Di tahun pertama pandemi Covid-19, ARTJOG memang telah belajar praktik pengelolaan festival seni rupa yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, dan preventif terhadap risiko keselamatan dan kesehatan. Harapannya saat kondisi sudah memungkinkan, program ARTJOG dapat dilaksanakan dengan cara presentasi gabungan antara luring dan daring, tentunya dengan pembatasan jumlah pengunjung dan dilakukan dengan prosedur kesehatan yang baik dan sesuai dengan arahan pemerintah.

“ARTJOG ingin tetap konsisten memberikan kontribusi dengan menyediakan ruang presentasi untuk eksplorasi artistik para seniman kontemporer. Seri pameran Arts in Common ini telah kami persiapkan sejak lama. Dan para seniman yang terlibat dalam Time (to) Wonder tahun ini adalah mereka yang sudah kami undang sejak Desember 2019,” kata Direktur ARTJOG, Heri Pemad.

Heri mengakui bahwa situasi hari-hari ini sangat tidak menguntungkan untuk perhelatan seperti ARTJOG. Namun perubahan-perubahan kebijakan publik selama masa pandemi, justru menantangnya untuk merencanakan segala sesuatunya dengan lebih rinci. “Kita berhadapan dengan periode yang tidak menentu, yang membuat kami harus semakin terbiasa dengan antisipasi dan improvisasi,” katanya.

Dalam pengantarnya, tim kuratorial pameran menjelaskan mengapa ihwal ‘waktu’ penting untuk diangkat oleh ARTJOG edisi tahun ini. Sebagai entitas kuantitatif, waktu menjadi semacam kuasa yang mengendalikan kehidupan manusia. Satuan-satuan waktu bahkan menjadi standar untuk mengukur keberhasilan atau kesuksesan seseorang.

“Time (to) Wonder adalah undangan kepada para seniman untuk memaknai kembali ihwal waktu melalui karya dan pemikiran mereka,” kata kurator Agung Hujatnikajennong.

ARTJOG “Time (to) Wonder” mengundang seorang seniman terpilih untuk menggarap karya komisi (commissioned work) yang memang menjadi ciri khas perhelatan ini. Yang diundang kali ini adalah Jompet Kuswidananto, seorang seniman asal Yogyakarta yang telah berpameran dalam forum-forum internasional bergengsi sejak awal 2000-an. Instalasinya, Love is a Many Splendored Thing (2021) berwujud gubahan ruang yang mengingatkan kita pada cakrawala di sebuah pantai. Jompet menyerakkan puing-puing kaca untuk menghadirkan ilusi hamparan lautan yang berkilau. Nuansa ketakterhinggaan menyiratkan pesan betapa waktu adalah sesuatu yang sarat dengan ketidakpastian.

“Karya-karya Jompet yang selama ini mengangkat tema-tema sejarah adalah alasan utama mengapa kami mengundangnya untuk proyek komisi khusus di ARTJOG Time (to) Wonder,” kata Agung. “Love is a Many Splendored Thing adalah sebuah instalasi yang secara puitik melihat sejarah sebagai narasi tentang pertarungan dan kekerasan di masa lalu,” lanjutnya.

Melanjutkan tradisi kuratorialnya, pemilihan seniman untuk ARTJOG tahun ini juga dilakukan melalui undangan dan seleksi panggilan terbuka. Alhasil, sebagian sebagian besar seniman yang terpilih merespon acuan kuratorial “Time (to) Wonder” dengan karya-karya seputar ingatan dan sejarah.

krjogja.com


BERITA TERKAIT