Usia 95 Tahun, Mbah Waginah Tetap Semangat Jualan Gudeg: Sak Paringane Gusti Allah
KRJOGJA.COM | 10/12/2019 09:50
Usia 95 Tahun, Mbah Waginah Tetap Semangat Jualan Gudeg: Sak Paringane Gusti Allah
Mbah Waginah tengah melayani pembeli. (Fatony Royhan)

PEREMPUAN renta itu bergegas bangkit setelah menerima pesanan seporsi gudeg dari pelanggan. Satu tangannya berpegangan pada bibir meja. Tubuh tuanya agak kepayahan untuk berjalan.

Namanya Mbah Waginah, ia mengaku lahir tahun 1924, yang artinya usianya sudah 95 tahun.  Sudah lebih dari 40 tahun ia berjualan gudeg.

Warung gudegnya berada di pinggiran Jalan Kabupaten Sleman Km 1,1, Sleman Yogyakarta.

BACA: Bikin Haru Warganet, Kisah Anak yang Memberi Hadiah Sarung Tangan untuk Ibunya

Mbah Waginah yang hidup sendiri karena suami sudah meninggal dan anak-anaknya berada di luar kota tak menyurutkannya untuk tetap berjualan di masa tuanya.

Almarhum bapak Mbah Waginah dulunya adalah pekerja Romusha di era penjajahan Jepang sedangkan Ibunya meninggal tidak lama setelah merasakan pusing sepulang dari pasar. Hingga saat ini Mbah Waginah telah memiliki 2 orang anak dan 6 orang cucu.

“Kula ki ngadek ning kene wes ket dalan kae bentuke krakal karo suket mas (Saya ini berdiri di sini sudah sejak Jalan Kabupaten itu berwujud batu-batuan dan ditumbuhi rumput-rumputan),” ujar mbah Waginah kepada KRJogja.com. Hingga kini Jalan Kabupaten tersebut sudah halus beraspal.

Mbah Waginah beberapa waktu lalu harus menjalani operasi pengangkatan daging di pahanya dimana menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Saat ini mbah Waginah hidup sederhana di kediamannya tepatnya di Besole, Sleman. Tak jauh dari tempat ia berjualan.

Beliau menuturkan perjalanan hidupnya mengarungi masa penjajahan Jepang hingga Belanda. Dahulu saat ia masih kecil hingga remaja, ia diajak oleh simbahnya untuk berjualan roti di pasar. Bahkan saat melihat pembantaian tentara Jepang, mbah Waginah menangis pada saat itu.

Kemudian karena faktor usia yang tidak lagi kuat untuk berjalan jauh, mbah Waginah memutuskan untuk menjual Gudeg. Terhitung sampai saat ini kurang lebih sudah 40 tahun lamanya beliau berjualan gudeg.

Mbah Waginah mulai berjualan dari jam 06.00 – 10.00 WIB di pinggir Jalan Kabupaten KM 1,5 Yogyakarta. Tempat beliau berjualan bisa ditemui di google maps. Mbah Waginah sendiri mulai menyiapkan Gudeg sedari dini hari hingga menjelang Shubuh.

Yang beliau jual adalah nasi, bubur, gudeg telur, sambel krecek, dan ayam. Harga yang ditawarkan sangat terjangkau mulai dari Rp 8.000 hingga Rp 13.000 untuk gudeg dan ayam.

Sembari menghitung lembaran rupiah yang jumlahnya tidak lebih dari 50 ribu Mbah Waginah berujar “Wong dodol kok sepine koyo ngene to (orang jualan kok sepinya seperti ini),” . Memang dalam berjualan gudeg seperti ini pendapatan yang diperoleh tidak menentu jumlahnya.

Pantauan KR.Jogja.com Gudeg jualan mbah Waginah hingga jam 09.00 pada saat itu masih cukup banyak.
Mbah Waginah tidak pernah malu untuk berjualan.

BACA: Awalnya Buat Miniatur Lokomotif untuk Anak, Anton Seriusi Kerajinan Bambu

“Kula mboten isin dodolan ngoten niki, Isin ki ngapa wong kula ora njaluk-njaluk ( Saya tidak malu untuk berjualan seperti ini, malu untuk apa, orang saya tidak meminta-minta),” tutur Mbah Waginah.

Menurut Mbah Waginah, ia memilih menjual gudeg daripada meminta-minta. Setidaknya ia mendapatkan hasil. “Mending dodolan ngoten niki,saoleh-olehe,sak paringane gusti Allah timbangane kula njaluk-njaluk,” ujar mbah Waginah. (Fatony Royhan Darmawan/ KR Academy).

KRJOGJA.COM


BERITA TERKAIT