Rano Karno: Candi Borobudur Ini Sebenarnya Dimana Sih?
KRJOGJA.COM | 29/11/2019 08:00
Rano Karno: Candi Borobudur Ini Sebenarnya Dimana Sih?
Candi Borobudur di sela acara Borobudur Writers and Cultural Festival 2018, 24 November 2018. TEMPO | Pito Agustin Rudiana

MAGELANG, KRJOGJA.com - Anggota Komisi X DPR RI, H. Rano Karno menyinggung terkait posisi Candi Borobudur. Menurutnya, posisi Candi Borobudur masih perlu diperjuangkan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magelang agar jelas secara Public Position (Posisi secara publik).

"Borobudur ini sebenarnya di mana sih? kenapa masih banyak tertulis di DIY, terutama di sosial media. Nah, artinya ini yang harus diperjuangkan oleh Pemkab Magelang," ujar, Rano Karno, saat melakukan kunjungan kerja spesifik bidang pariwisata dan ekonomi kreatif, bersama rombongan Komisi X DPR RI di Kabupaten Magelang, Jumat (22/11/2019).

BACA:  Geopark Karangsambung Karangbolong Masuk Dalam KSPN Borobudur

Selain itu, ia juga mempertanyakan apakah masyarakat yang tinggal di sekitar Candi Borobudur sudah ikut menikmati dengan keberadaan destinasi wisata bertaraf internasional itu. "Tadi saya sempat bertanya kepada Pak Camat, katanya di Borobudur ini ada 20 Desa. Maka saya tanya, apakah masyarakatnya sudah ikut menikmati dengan keberadaan Candi Borobudur, ya Alhamdulilah kalau sudah ikut menikmati. Jangan sampai Borobudurnya ramai, masyarakatnya tidak dapat apa-apa," katanya.

Menurutnya, keterlibatan masyarakat dalam pembangunan pariwisata sangatlah penting dan harus diperhatikan. Ia mengatakan bahwa, pembangunan pariwisata sangat sensitif dengan isu. "Jangan sampai nanti masyarakat Borobudur menolak, semua bisa drop," tandasnya.

Pada kesempatan yang sama, pria yang lebih dikenal dengan panggilan 'Bang Doel' ini juga mencermati mengenai kapasitas dan kekuatan Candi Borobudur dalam menampung para wisatawan, terutama saat berada pada bangunan candi.

Menurutnya, bertambahnya jumlah wisatawan yang bakal berkunjung di Kabupaten Magelang, terutama di Candi Borobudur akan meningkat secara signifikan apabila Bandara New Yogyakarta Internasional sudah mulai beroperasi. Kondisi inilah yang harus menjadi kajian tersendiri bagi dinas purbakala untuk menghitung dan menetapkan kekuatan candi dalam menampung pengunjung.

"Maka saya tanya tadi, berapa banyak sih beban orang yang bisa menginjak candi, 1 juta atau 2 juta, atau bagaimana caranya. Mungkin tidak boleh juga orang serentak berada di titik candi yang mana, nah itu kan juga perlu dikaji dan diatur," tuturnya.

BACA: Jogja Masuk 10 Daerah Tidak Toleran, Ini Respon Sultan

Lebih lanjut, Rano Karno menerangkan bahwa, dengan adanya Bandara New Yogyakarta Internasional, maka kawasan di sekitar Candi Borobudur pun harus juga dipersiapkan dengan baik. Menurutnya, peran agen-agent travel juga harus duduk bersama membicarakan terkait pembagian waktu dan jadwal kunjungan. "Kan nggak mungkin ngumpul brukkk di satu tempat saja, jadi harus dibagi dengan baik dan dibicarakan bersama-sama" pungkasnya. (Bag)

KRJOGJA.COM


BERITA TERKAIT