Penikmat Kuliner Daging Anjing di Yogya Tinggi, Mengapa Hendak Dilarang Pemerintah?
KRJOGJA.COM | 23/09/2019 14:41
Penikmat Kuliner Daging Anjing di Yogya Tinggi, Mengapa Hendak Dilarang Pemerintah?

YOGYA, KRJOGJA.com - Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta, Sugeng Darmanto, menyebut, tingkat minat pembeli daging anjing di Kota Yogya ternyata cukup tinggi.  

Seperti yang sudah diketahui, Yogyakarta sendiri masyarakatnya datang dari berbagai wilayah. Bisa jadi, mereka (pembeli) yang dari luar daerah sudah menjadi kebiasaan mengonsumsi daging anjing. 

"Kiranya ada 12 titik pedagang yang menjual daging anjing di Kota Yogya. Jika diamati, sejauh ini peminatnya memang tinggi," kata Sugeng kepada KRJOGJA.com di Yogyakarta, Minggu 22 September 2019.

BACA: Yogyakarta Stop Penjualan dan Konsumsi Daging Anjing

Menurutnya, adanya penjual juga karena ada permintaan dari luar daerah. Karena biasanya warga Yogya lebih memilih berjualan gudeg dan makanan khas Yogya lainnya. 

Sementara itu, banyak oknum pedagang yang mematikan anjing dengan perilaku yang tidak baik, misalnya disetrum, ditenggelamkan di sungai dan sebagainya. Padahal anjing sendiri bukan hewan yang layak dikonsumsi karena bukan hewan ternak. 

Lebih lanjut, penjualan daging anjing sebenarnya tidak ada dasar hukumnya. Karena itu, pihaknya membuat Peraturan wali kota (Perwal) sebagai rujukan palarangan untuk mengonsumsi daging anjing. 

"Naskahnya sudah kita serahkan ke bagian hukum untuk dipelajari, apakah memungkinkan atau tidak menjadi Peraturan Walikota," ucapnya. 

Baca Juga: Selain Rabies, Ini Deretan Penyakit kalau Sering Makan Daging Anjing

Tujuan Perwal ini adalah untuk mengedukasi masyarakat, bahwa peredaran daging anjing, jual beli daging anjing, untuk dikonsumsi atau jual beli olahan anjing tidak diperbolehkan karena anjing bukan hewan ternak. 

Kedua, mengedukasi dan mewaspadai masyarakat, bahwa masih banyak pangan yang layak untuk dikonsumsi. Misalnya, daging ayam, daging sapi ataupun daging yang lain.  

"Kalau anjing dikonsumsi karena ingin coba-coba memang yang harus diwaspadai bahwa anjing adalah penular rabies," ucapnya. 

Kendati demikian, larangan mengonsumsi daging anjing yang akan diatur dalam Perwal tersebut hanya sebatas mengedukasi masyarakat. Sehingga alasan memberikan sanksi kepada pelanggar itu juga masih belum ada.  

"Orientasi kami, jika Perwal sudah ditetapkan, kami punya kekuatan untuk mengedukasi masyarakat. Setelah itu kita bisa melakukan gerakan-gerakan kampanye sosial, larangan hingga solusinya. Pemberian vaksin rabies dan sebagainya," ujarnya. 

BACA: Jumlah Warung Kuliner Guk-guk Membengkak

Pemerintah pusat sendiri belum membuat peraturan tersebut, begitu juga undang-undang maupun peraturan menteri yang mengatur larangan itu, belum ada.  

"Yang spesifik untuk anjing baru ada dalam bentuk intruksi, dan peraturannya belum ada. Yogyakarta ini mencoba untuk mengawali di Indonesia," ucapnya.

Pihaknya berharap, sebaiknya anjing digunakan sebagai penjaga rumah dan menjadi hobi bagi punyuka anjing. Bukan malah untuk dikonsumsi. (Ive)

KRJOGJA.COM


BERITA TERKAIT