Pemkot Yogya Bakal Larang Penjualan dan Konsumsi Daging Anjing
KRJOGJA.COM | 23/09/2019 10:10
Pemkot Yogya Bakal Larang Penjualan dan Konsumsi Daging Anjing

YOGYA,KRJOGJA.com - Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Pertanian dan Pangan membuat peraturan pelarangan untuk mengonsumsi daging anjing. Hal tersebut dikarenakan, anjing bukan hewan yang di konsumsi dan tidak termasuk kelompok ternak.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta, Sugeng Darmanto, mengatakan, melihat banyaknya beberapa pedagang yang menjual daging anjing dalam bentuk makanan seperti, sate, rica'rica atau tongseng. Padahal anjing bukan hewan yang layak dikonsumsi.

BACA:  Jumlah Warung Kuliner Guk-guk Membengkak

"Anjing tidak layak untuk dikonsumsi karena termasuk hewan eksotis. Anjing juga tidak termasuk hewan ternak" kata Sugeng kepada KRJOGJA.com di Yogyakarta. Minggu (22/09/19).

Sementara itu, banyak oknum pedagang yang mematikan anjing dengan perilaku yang tidak baik, misalnya di setrum, di tenggelamkan di sungai dan sebagainya. Ditambah lagi penjualan daging anjing sebenarnya tidak ada dasar hukumnya.

Karena itu, pihaknya membuat Peraturan wali kota (Perwal) sebagai rujukan palarangan tersebut. "Ini sudah kita serahkan ke bagian hukum untuk dipelajari, apakah memungkinkan atau tidak menjadi peraturan Walikota," ucapnya.

Menurutnya, tujuan Perwal ini adalah untuk mengedukasi masyarakat, bahwa peredaran daging anjing, jual beli daging anjing, untuk di konsumsi atau jual beli olahan anjing tidak pada diperbolehkan karena anjing bukan hewan ternak.

Kedua, mengedukasi dan mewaspai masyarakat, bahwa masih banyak pangan yang kayak untuk di konsumsi. Misalnya, daging ayam, daging sapi ataupun daging yang lain.

"Kalau anjing dikonsumsi karena ingin coba-coba memang yang harus diwaspadai bahwa anjing adalah penular rabies," ucapnya.

Kendati demikian, larangan mengonsumsi daging anjing yang akan diatur dalam Perwal tersebut hanya sebatas mengedukasi masyarakat. Sehingga jurukan memberikan sangsi kepada pelanggar itu juga masih belum ada.

"Orientasi kami, jika Perwal sudah ditetapkan, kami punya kekuatan untuk mengedukasi masyarakat. Setelah itu kita bisa melakulan gerakan-gerakan kampanye sosial, larangan hingga solusinya. Pemberian vaksin rabies dan sebagainya," ujarnya.

Pemerintah pusat sendiri belum membuat peraturan tersebut, begitu juga Undang-undang maupun peraturan menteri yang mengatur larangan itu, belum ada.

BACA: Selain Rabies, Ini Deretan Penyakit kalau Sering Makan Daging Anjing

"Yang spesifik untuk anjing baru ada dalam bentuk intruksi, dan peraturannya belum ada. Yogyakarta ini mencoba untuk mengawali di Indonesia," ucapnya penuh harap.

Pihaknya berharap, sebaiknya anjing digunakan sebagai penjaga rumah dan menjadi hoby bagi pecinta anjing. Bukan malah untuk di konsumsi. (Ive)

KRJOGJA.COM


BERITA TERKAIT