Malam 1 Suro, Warga Boyolali Larung Kepala Kerbau ke Kawah Merapi
KRJOGJA.COM | 02/09/2019 09:40
Malam 1 Suro, Warga Boyolali Larung Kepala Kerbau ke Kawah Merapi

BOYOLALI, KRJOGJA com -‎ Menyambut datangnya Tahun Baru 1441 Hijriyah, masyarakat di lereng Gunung Merapi melarung kepala kerbau ke dalam kawah di puncak Merapi. Ritual ini merupakan tradisi yang sudah turun-temurun di maasyarakat lereng Gunung Merapi.

Tradisi ini sebagai bentuk rasa syukur atas hubungan manusia dengan alam, terkhusus Gunung Merapi, yang selama ini menjaga kehidupan manusia dengan kelimpahan alamnya.

Dalam prosesi yang dilakukan di awal Bulan Suro dalam penanggalan Jawa tersebut, sejak Sabtu 31 Agustus 2019 kepala kerbau dengan berbagai hasil bumi dikirab keliling desa-desa di kawasan Selo.

BACA: Siang Tadi Merapi Kembali Gugurkan Awan Panas

Menjelang malam, kirab berakhir di kawasan Joglo di kaki Merapi disertai dengan rapalan dan doa untuk keberlangsungan yang harmonis antara manusia dengan alam.

Usai ritual, kepala kerbau dibawa ke puncak Merapi untuk dilarung ke dalam kawah, tepat di malam satu suro. Prosesi tersebut menjadi puncak dari berbagai ritual yang dilakukan masyarakat setempat, khusus untuk menyambut tahun baru Islam tersebut.

Tokoh adat setempat, Paiman Hadi Martono menjelaskan, acara pelarungan tersebut sebagai bentuk sedekah dari manusia kepada alam. Gunung Merapi sebagai tempat hidup warga setempat, dianggap selalu menaungi kehidupan warga, baik keselamatan maupun kesejahteraan melalui limpahan abu atau material lain yang membuat pertanian warga setempat selalu subur.

Sehingga memasuki bulab sakral dalam masyarakat Jawa, yakni Bulan Suro, masyarakat setempat melakukan prosesi ritual sebagai bentuk penghormatan kepada alam tempat mereka hidup.

Sementara Wakil Bupati Boyolali, Said Hidayat mengatakan, ada filosofi yang terkandung dalam ritual tersebut, yakni bagaimana manusian menselaraskan diri dengan alam. Dengan demikian, tercipta budaya yang akan menjaga kelestarian alam. "Kegiatan ini juga mencerminkan semangat mencintai kebudayaan, mencintai ibu pertiwi," katanya.

BACA: Aplikasi 'Jarak Aku Dan Merapi' Resmi Diluncurkan

Tak sekedar dukungan moral untuk menjaga khazanah lokal masyarakat setempat, Pemkab juga memberikan dukungan dengan menjadikan ritual tersebut sebagai agenda resmi wisata di Boyolali. Tak heran, ratusan pelancong, baik lokal maupun mancanegara, menghadiri untuk menonton dan menyelami budaya lokal di wilayah kaki Merapi tersebut. (Gal)

KRJOGJA.COM


BERITA TERKAIT