Pasar Tradisional Srumbung Magelang Hidupkan Transaksi Uang Ketip
KRJOGJA.COM | 19/08/2019 15:13
Pasar Tradisional Srumbung Magelang Hidupkan Transaksi Uang Ketip

MAGELANG, KRJOGJA.com - Ribuan warga berbondong - bondong menukarkan uang tunai dengan kethip agar bisa membeli makanan tradisional di Pasar Tradisonal Rawa Bambu, yang terletak di Dusun Lempong, Desa Tegalrandu, Srumbung, Magelang. Mereka hadir ke pasar ini selain untuk memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia ke 74 Tahun, kegiatan ini dilaksanakan untuk mengenalkan Wisata Edukasi Rawa Bambu serta sebagai peresmian Pasar Tradisional Rawa Bambu, Minggu (18/8/2019). 

BACA: Terakhir Pentas Tahun 1939, Abdi Dalem Musikan Keraton Yogya Dihidupkan Kembali

“Sengaja memang direncanakan disamping adanya Wisata Edukasi dengan mengadakan pasar tradisional yang harapannya agar wisatawan di seluruh daerah dapat tertarik untuk mengunjungi Wisata Edukasi Rawa Bambu dengan tujuan untuk menaikkan perekonomian masyarakat Desa Tegalrandu,” ungkap Suyud salah satu panitia kegiatan ini. 

Pasar yang diresmikan oleh Kepala Desa Tegalrandu, Siti Kowiyah ini kedepannya akan dibuka untuk umum setiap hari Minggu. Di pasar ini bakal dijumpai aneka ragam makanan tradisional khas Jawa. “Pasar Tradisional sebagai tonggak atau dasar untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Banyak sekali masyarakat yang mengkonsumsi makanan modern yang bisa menimbulkan penyakit. Maka dari itu, kearifan lokal makanan  yang bersumber dari nenek moyang terdahulu di angkat kembali untuk membuat masayarakat sadar akan kesehatan diri dari apa yang di konsumsinya,” ungkap Siti Kowiyah.

Siti Kowiyah juga berharap agar kegiatan ini bisa menjadi sebuah wadah untuk menyatukan warga Desa Tegalrandu. “Kegiatan ini sangat bagus sekali. Bisa menjadi ajang mempersatukan semua masyarakat yang tidak hanya dari Desa Tegalrandu ini sendiri namun desa disekitar Desa Tegalrandu,” terang Siti Khowiyah.

BACA: Dapat Kinang di Labuhan Merapi, Mar Ingin Rezekinya Lancar

“Semoga dengan adanya kegiatan ini, masyarakat Tegarandu memiliki rasa hendarbeni, yaitu rasa saling memiliki sehingga tidak akan mematikan inovasi-inovasi selanjutnya dan menjadi pemacu untuk pemuda desa," lanjut Siti Kowiyah.(*)

KRJOGJA.COM


BERITA TERKAIT