Pasar Djadoel di Lereng Merapi, Mata Uang Rupiah Tak Berlaku
KRJOGJA.COM | 28/01/2019 09:05
Pasar Djadoel di Lereng Merapi, Mata Uang Rupiah Tak Berlaku
Pasar Djadoel di Desa Banyubiru, Dukun. (Foto: Bagyo H)

MAGELANG, KRJOGJA.com - Ratusan warga menghadiri pasar kuliner yang menyajikan nuansa djadoel di puncak Gununggono, tepatnya di Desa Banyubiru, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Minggu (27/01/2019). Kuliner djadoel yang menawarkan jenis makanan lembah merapi pada zaman dahulu ini, mengajak para pengunjung bernostalgia kembali. Tak hanya itu, para pengunjung juga dapat sambil menikmati gagahnya Gunung Merapi dan Merbabu.

Kepala Desa Banyubiru, Wintoro menyampaikan mulai pengunjung datang sudah di sambut dengan sejuknya udara lembah gunung ini. “Ditambah lagi sepoy-sepoy angin di atas bukit ini akan menambah suasana nyaman bagi para pengunjung sambil menikmati kuliner tempo dulu,” katanya saat perhelatan pasar tradisi lembah merapi yang pertama kali ini tadi.

BACA JUGA: Festival Akustik Magelang #1 Berlangsung Meriah

Seperti kembali kepada masa lalu saat masuk ke dalam pasar ini. Para pedagang menyambut para pengunjung dengan sapa ramah dan selamat datang dengan berbahasa jawa. "Di pasar ini, mata uang rupiah tidak berlaku untuk membeli kuliner yang dijajakan, Mereka menggunakan mata uang khusus yang dinamakan 'Dhono. Dhono ini setara dengan Rp 2 ribu yang dapat dibelanjakan makanan yang ditawarkan di sini,” imbuhnya.

Berbagai jenis kuliner tempo dulu seperti Sengkulun, Kluban, Buntil, Sego Jagung, sampai berbagai macam olahan ketela Gethuk dan kawan-kawannya. Minuman tradisional juga ada di sini, ada wedang uwuh, wedang jahe, dawet ayu dan penganan djadoel.

Ornamen tradisional dipadukan dengan tata konsep kawasan wisata alam ini menyuguhkan berbagai macam tawaran kesempatan para pengunjung untuk melakukan kegiatan disini. Areanya luas, penuh jajajanan kuliner, permainan anak, taman serta area camping ground yang langsung menghadap ke dua gunung besar itu yakni Merapi dan Merbabu.

Wintoro juga menambahkan bahwa para pedagang yang semuanya merupakan warga Desa Banyubiru ini memang di konsep ala masyarakat jawa jaman dulu. “Dengan menggunakan kebaya berbaluk dengan jarit klasik ditambah senyum ramah mereka menyambut para pengunjung,” tambahnya.

Wintoro juga menjelaskan bahawa konsep awal ini tidak keluar dari konsep jaman dulu warga lembah merapi. “Pasar-pasar ini adalah ide masyarakat melalui pemerintah desa, kita hidupkan kembali sekaligus meningkatkan wisata di Banyubiru yang kedepan pastinya akan membantu meningkatkan perekonomian warga,” jelasnya.

BACA JUGA: Longsor di Beberapa Titik, Masyarakat dan Petugas Gotong Royong

“Rencana pasar ini akan buka pada tiap Minggu, dengan setiap setelah pasaran akan ada evaluasi untuk membuat konsep pembeda setiap ajang pasar buka. Pada pembukaan awal ini baru 27 lapak pedagang menggunakan amben (tempat duduk bamboo lebar jaman dahulu), dan kedepan akan terus bertambah banyak dengan jenis kuliner setiap lapak berbeda,” paparnya.

Pada perhelatan awal tadi, dihadiri sekitar 3.000 pengunjung yang datang dari Magelang bahkan sampai luar daerah seperti Pekalongan, Yogyakarta, Tegal dan daerah lain. “Saya tidak menyangka juga pada awal pembukaan ini pengunjung luar kota sudah banyak, tentunya ini akan menjadikan motivasi bagi masyarakat khususnya pedagang yang ada di pasar ini. Saya berharapan keberadaan pasar ini mampu menambah warna baru Pariwisata di Magelang,” pungkasnya. (Bag)

KRJOGJA.COM


BERITA TERKAIT