Kasepuhan Sinar Resmi Gelar Syukuran Panen Padi Seren Taun ke-440
SUKABUMIUPDATE.COM | 02/09/2019 09:20
Kasepuhan Sinar Resmi Gelar Syukuran Panen Padi Seren Taun ke-440
Proses memasukan padi ke dalam Leuit si Jimat pada acara Seren Taun ke-440, di Kampung adat Kasepuhan Sinar Resmi, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Minggu (1/7/2018). | Sumber Foto:Nandi

SUKABUMIUPDATE.com - Kampung Adat Kasepuhan Sinar Resmi menggelar syukuran Seren Taun Ngamumule Pare. Ini merupakan Seren Taun yang ke-440 di Kasepuhan Sinar Resmi Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi.

Syukuran Seren Taun Ngamumule Pare merupakan kegiatan tahunan sebagai salah satu cara mensyukuri hasil alam, hasil bumi yang masih bisa dinikmari generasi hari ini maupun generasi masa mendatang.

BACA: Puncak Acara Seren Taun Kasepuhan Sinar Resmi Digelar Esok, Tertarik Datang?

Sesepuh Kasepuhan Sinar Resmi, Abah Asep Nugraha merupakan orang yang ditunjuk penerus untuk mengurus padi lokal, yang ditanamnya satu tahun sekali. "Yaitu enam bulan mulai dari awal tanah hingga panen padi," kata S kepada Sukabumiupdate.com, Minggu 1 September 2019.

Menurut Abah Asep, dalam kegiatan syukuran ini masyarakat kampung adat memanjatkan rasa syukur kepada yang maha kuasa, Allah SWT yang memberikan nikmat kehidupan.

Juga kepada orang tua, leluhur yang sudah mengajarkan melaksanakan kegiatan ngangaru, ngawaluku, ngali lobang. "Gak siang gak malam, gak di darat, gak di air, hari ini di sempurnakan dalam acara Seren Taun," jelasnya.

Proses memasukan padi ke dalam Leuit si Jimat pada acara Seren Taun ke-440, di Kampung adat Kasepuhan Sinar Resmi, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Minggu (1/7/2018). | Sumber Foto: Nandi

"Ini acara Seren Taun yang ke-440. Kenapa disebut 440? Karena abah sebagai turunan ke-10, secara nomaden di abad 16 dikasih ciri dan tanda oleh lelulur," terangnya.

Abah Asep engatakan panen padi yang masuk tahun ini mencapai 2.000 pocong, jumlah tersebut didapat dari kewajiban anak cucu abah. Misalnya anak cucu punya 50 pocong garing, untuk dimasukan ke dalam Leuit si Jimat itu satu Pocong.

Berarti ada 2.000 pocong yang dihasilkan. Ditambah dari warga Abah 50 pocong berarti padi yang akan dimasukan jumlahnya segitu dengan berat per pocong tiga kilogram. Adapun untuk kapasitas Leuit si Jimat itu 3.000 pocong. 3.000 pocong sama dengan sembilan ton satu leuit.

Masih kata Abah, leuit di komunitas kesaruan adat banten kidul itu beragam. Cirinya saat warga di sini sudah menikah pasti punya leuit, tapi tidak sebesar Leuit si Jimat kapasitas. Ada yang menampung 1.000 pocong, 500 pocong, menyesuaikan kemampuan masing masing.

Lanjut Abah Asep, ketentuannya setelah menikah harus punya leuit meskipun tidak punya lahan sawah. Karena ada beberapa sistem yang bisa dijalankan untuk punya padi seperti sistem maro dan ngepak dereup. Tujuannya adalah pemerataan penghasilan bumi.

BACA: Seren Taun, Cara Kasepuhan Sinar Resmi Syukuri Hasil Tani

Hasil padi yang saat ini disyukuri akan disimpan di leuit yang usianya bisa mencapai sekitar 40 tahun sampai 50 tahun. Untuk padi yang disimpan hasil dari 40 tahun ke belakang untuk rasa pasti ada perubahan tidak seperti rasa dari padi yang baru dipetik.

Tapi kalau kurang dari 10 tahun masih aman belum ada perubahan bentuk rasa. "Kami tidak menggunakan pupuk pestisida atau bahan bahan yang mengandung bahan kimia," ucap Abah Asep.

SUKABUMIUPDATE.COM


BERITA TERKAIT